Ada banyak hal berbahaya yang bisa lahir dari Prancis: revolusi, roti baguette yang kerasnya dapat dijadikan senjata tumpul, dan—ternyata—kata sifat. Setidaknya begitu menurut sebuah thread 2025 dari Students For Liberty, yang berhasil menyulap kisah filsafat menjadi semacam true crime ideologis: “Sartre, filsuf eksistensialis, dituduh menyebabkan genosida.” Lengkap dengan alur yang membuat Netflix iri.
Cerita dimulai di sebuah kafe Paris tahun 1950-an, tempat
Jean-Paul Sartre duduk sambil menghisap rokok yang asapnya tebal seperti
abstraksi filsafatnya. “Kekerasan,” katanya sambil mengangkat alis, “bukan cuma
gebukin orang, tapi juga struktur sosial.” Di sinilah, menurut thread itu,
sejarah mulai belok. Beloknya bukan belok wajar seperti mau ke toko roti, tapi
belok tajam 180 derajat langsung ke arah “ide mematikan”.
Konon, Sartre melakukan sesuatu yang disebut trik
verbal: mengubah definisi kekerasan sehingga tiba-tiba sistem politik,
institusi, bahkan kepemilikan properti ikut terseret sebagai pelaku KDRT
struktural. Logikanya jadi begini: kalau dunia sudah memukul Anda secara
struktural, maka membakarnya dianggap “pembelaan diri”. Dari sudut pandang
moral, ini seperti mengatakan: “Saya bukan memulai masalah. Masalahnya duluan
yang memulai saya.”
Menurut thread itu, trik ini kemudian diserap oleh
sekelompok mahasiswa Kamboja yang sedang kuliah di Paris—Pol Pot dan
kawan-kawan—yang mungkin awalnya hanya ingin beasiswa, tapi malah pulang
membawa manual revolusi berdarah.
Begitu mereka kembali ke Kamboja, logika Sartre tadi dipakai
seperti panduan resep:
- Kota
= kekerasan
- Pasar
= kekerasan
- Uang
= kekerasan
- Keluarga
= kekerasan
Thread tersebut menyajikan semuanya seperti film thriller:
dari seminar di Paris, ke propaganda revolusi, lalu zoom out dramatis
ke genosida. Cocok ditonton sambil makan popcorn ideologis. Bahkan ditambah
cameo tokoh libertarian F.A. Hayek, supaya makin lengkap aroma
anti-kolektivismenya.
Padahal, faktor sebenarnya jauh lebih kompleks:
kolonialisme, Perang Vietnam, Stalinisasi Asia Tenggara, dan pengalaman politik
lokal Kamboja yang tidak kalah kusut. Tapi, tentu saja, hal-hal rumit tidak
seberhasil tweet 30 paragraf yang menuduh satu orang sebagai boss level kejahatan
global.
Thread itu juga agak selektif. Kritik Sartre terhadap sistem
ekonomi yang menciptakan kemiskinan? Lewat. Kritiknya terhadap otoritarianisme?
Lewat. Semua lewat seperti angin sepoi-sepoi, karena agenda utamanya jelas:
mempromosikan libertarianisme sebagai satpam ideologis dunia.
Di era sekarang, ketika slogan seperti “Silence is Violence”
menyebar dengan kecepatan WiFi, thread ini mengingatkan kita untuk
berhati-hati: mendefinisikan ulang kekerasan bisa membuka pintu, dari diskusi
etika… hingga, ya, genosida. Definisi itu sederhana, tapi konsekuensinya bisa
seperti roller coaster tanpa rem.
Yang berarti, mungkin sudah saatnya kita mulai memperlakukan
bahasa… seperti granat. Teoritis, abstrak, lucu-lucu bahaya.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.