Rabu, 19 November 2025

Dari Kafe Paris ke Killing Fields: Tragedi Akibat Sebuah Kata yang Tersandung

Ada banyak hal berbahaya yang bisa lahir dari Prancis: revolusi, roti baguette yang kerasnya dapat dijadikan senjata tumpul, dan—ternyata—kata sifat. Setidaknya begitu menurut sebuah thread 2025 dari Students For Liberty, yang berhasil menyulap kisah filsafat menjadi semacam true crime ideologis: “Sartre, filsuf eksistensialis, dituduh menyebabkan genosida.” Lengkap dengan alur yang membuat Netflix iri.

Cerita dimulai di sebuah kafe Paris tahun 1950-an, tempat Jean-Paul Sartre duduk sambil menghisap rokok yang asapnya tebal seperti abstraksi filsafatnya. “Kekerasan,” katanya sambil mengangkat alis, “bukan cuma gebukin orang, tapi juga struktur sosial.” Di sinilah, menurut thread itu, sejarah mulai belok. Beloknya bukan belok wajar seperti mau ke toko roti, tapi belok tajam 180 derajat langsung ke arah “ide mematikan”.

Konon, Sartre melakukan sesuatu yang disebut trik verbal: mengubah definisi kekerasan sehingga tiba-tiba sistem politik, institusi, bahkan kepemilikan properti ikut terseret sebagai pelaku KDRT struktural. Logikanya jadi begini: kalau dunia sudah memukul Anda secara struktural, maka membakarnya dianggap “pembelaan diri”. Dari sudut pandang moral, ini seperti mengatakan: “Saya bukan memulai masalah. Masalahnya duluan yang memulai saya.”

Menurut thread itu, trik ini kemudian diserap oleh sekelompok mahasiswa Kamboja yang sedang kuliah di Paris—Pol Pot dan kawan-kawan—yang mungkin awalnya hanya ingin beasiswa, tapi malah pulang membawa manual revolusi berdarah.

Begitu mereka kembali ke Kamboja, logika Sartre tadi dipakai seperti panduan resep:

  • Kota = kekerasan
  • Pasar = kekerasan
  • Uang = kekerasan
  • Keluarga = kekerasan

Dan solusi satu-satunya, menurut interpretasi mereka yang penuh semangat namun minim pemahaman konteks, adalah: hapus semuanya.
Hasilnya? “Ladang pembunuhan”, sebuah istilah yang terdengar seperti taman edukasi tapi isinya justru dua juta korban.

Thread tersebut menyajikan semuanya seperti film thriller: dari seminar di Paris, ke propaganda revolusi, lalu zoom out dramatis ke genosida. Cocok ditonton sambil makan popcorn ideologis. Bahkan ditambah cameo tokoh libertarian F.A. Hayek, supaya makin lengkap aroma anti-kolektivismenya.

Namun—dan ini bagian yang membuat sejarawan spontan migrain—thread itu terlalu rajin menjahit hubungan sebab-akibat, sampai-sampai realitas sejarah yang rumit dijahit jadi pola baju sederhana. Seakan-akan seluruh tragedi Kamboja bisa dijelaskan sebagai:
“Kesalahan satu filsuf Prancis yang definisi katanya agak fleksibel.”

Padahal, faktor sebenarnya jauh lebih kompleks: kolonialisme, Perang Vietnam, Stalinisasi Asia Tenggara, dan pengalaman politik lokal Kamboja yang tidak kalah kusut. Tapi, tentu saja, hal-hal rumit tidak seberhasil tweet 30 paragraf yang menuduh satu orang sebagai boss level kejahatan global.

Thread itu juga agak selektif. Kritik Sartre terhadap sistem ekonomi yang menciptakan kemiskinan? Lewat. Kritiknya terhadap otoritarianisme? Lewat. Semua lewat seperti angin sepoi-sepoi, karena agenda utamanya jelas: mempromosikan libertarianisme sebagai satpam ideologis dunia.

Namun meski narasinya dramatis, berlebih, dan sedikit melodramatis, ada pelajaran penting yang tetap valid: bahasa itu berbahaya.
Apalagi ketika satu kata diperlakukan seperti senjata pemusnah massal mini.

Di era sekarang, ketika slogan seperti “Silence is Violence” menyebar dengan kecepatan WiFi, thread ini mengingatkan kita untuk berhati-hati: mendefinisikan ulang kekerasan bisa membuka pintu, dari diskusi etika… hingga, ya, genosida. Definisi itu sederhana, tapi konsekuensinya bisa seperti roller coaster tanpa rem.

Pada akhirnya, esai jenaka ini hanya ingin mengatakan satu hal:
Hati-hati dengan filsuf yang suka mengubah definisi kata.
Bukan karena mereka jahat, tapi karena selalu ada orang di dunia yang akan menganggap metafor sebagai instruksi operasional.

Dan jika sejarah mengajarkan sesuatu, itu adalah:
Peradaban dapat runtuh bukan oleh bom, tapi oleh satu kata yang salah tafsir.

Yang berarti, mungkin sudah saatnya kita mulai memperlakukan bahasa… seperti granat. Teoritis, abstrak, lucu-lucu bahaya.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.