Pernahkah kamu merasa telah salah menilai seseorang selama bertahun-tahun—lalu baru sadar, “Eh, ternyata dia baik juga ya?” Nah, begitulah kisah cinta-benci kita dengan Kolesterol. Dulu dia dicap jahat, licik, penyumbat pembuluh darah, dan biang kerok segala tragedi jantung. Tapi kini, setelah puluhan tahun terapi statin dan salad tanpa rasa, muncul desas-desus di dunia maya: “Kolesterol itu pahlawan yang difitnah!”
Bahkan, sebuah video di media sosial menampilkan tulisan
besar: “HIGH CHOLESTEROL IS HEALTHY π”—dengan emoji tawa,
karena tak ada yang lebih lucu daripada menggugat seluruh ilmu kardiologi
modern.
π§ Molekul yang Tidak
Pernah Minta Maaf
Mari kita jujur. Kolesterol itu sebenarnya makhluk yang
polos. Ia hanya ingin membangun membran sel, bikin hormon cinta (testosteron
dan estrogen), dan membantu tubuh memproduksi vitamin D agar kita tetap cerah
di pagi hari. Tapi entah bagaimana, semua jasa itu tak pernah diliput. Dunia
medis malah menjadikannya kambing hitam utama, seperti tetangga yang disalahkan
tiap kali listrik padam.
π Big Pharma vs. Para
Pembela Lemak
Tentu saja, narasi ini cepat viral. Apalagi ada bumbu teori
konspirasi: bahwa big pharma mempromosikan obat penurun kolesterol demi
menebalkan rekening, bukan arteri. Para pembela kolesterol lalu bangkit,
mengibarkan panji bertuliskan “Bring back the butter!”—dan dunia
tiba-tiba terasa seperti film Braveheart, tapi versi nutrisi.
⚖️ Kebenaran: Bukan Hitam, Bukan
Putih, Tapi Kuning Telur
Seperti halnya cinta, kebenaran medis jarang sesederhana
“baik” atau “jahat.” Kolesterol memang penting, tapi kalau kadarnya kebanyakan,
ia bisa berubah jadi drama queen di dalam arteri—membuat plak, menyumbat
jalan darah, dan mengundang tragedi di ruang ICU.
Sebaliknya, terlalu rendah juga bukan solusi. Hidup tanpa
kolesterol itu seperti hidup tanpa minyak goreng: memang lebih sehat, tapi
hambar, kering, dan berpotensi menurunkan semangat hidup (dan kadar
testosteron).
𧬠Dari Laboratorium ke
TikTok
Tentu saja, sebagian pesannya masuk akal: fokuslah pada
kesehatan metabolik, bukan sekadar angka kolesterol. Rasio trigliserida dan HDL
memang lebih informatif. Tapi ketika seseorang berkata, “LDL tinggi itu tanda
tubuhmu bahagia,” kita perlu bertanya pelan-pelan: “Tubuhmu atau hatimu yang
berdebar karena plak?”
❤️ Akhirnya: Berdamai dengan
Kolesterol
Setelah semua debat ini, mungkin sudah saatnya kita
berdamai. Kolesterol bukan malaikat, tapi juga bukan iblis. Ia seperti anggota
keluarga yang cerewet tapi setia — kadang bikin tekanan darah naik, tapi juga
menjaga rumah tetap utuh.
Jadi sebelum membuang telur, mentega, dan otak sapi dari
hidupmu, mungkin lebih baik periksa dulu darahmu — dan juga feed media
sosialmu. Karena yang paling berbahaya bukan kolesterol di dalam darah, tapi kolesterol
informasi yang menyumbat aliran akal sehat kita.
Kesimpulan Jenaka:
“Hidup sehat bukan soal menurunkan kolesterol, tapi
menurunkan ego — terutama saat berdebat di kolom komentar.” π₯
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.