Sabtu, 08 November 2025

πŸ₯“ Kolesterol: Dari Musuh Bebuyutan Menjadi Teman Lama yang Salah Paham

Pernahkah kamu merasa telah salah menilai seseorang selama bertahun-tahun—lalu baru sadar, “Eh, ternyata dia baik juga ya?” Nah, begitulah kisah cinta-benci kita dengan Kolesterol. Dulu dia dicap jahat, licik, penyumbat pembuluh darah, dan biang kerok segala tragedi jantung. Tapi kini, setelah puluhan tahun terapi statin dan salad tanpa rasa, muncul desas-desus di dunia maya: “Kolesterol itu pahlawan yang difitnah!”

Bahkan, sebuah video di media sosial menampilkan tulisan besar: “HIGH CHOLESTEROL IS HEALTHY πŸ˜‚—dengan emoji tawa, karena tak ada yang lebih lucu daripada menggugat seluruh ilmu kardiologi modern.

🧠 Molekul yang Tidak Pernah Minta Maaf

Mari kita jujur. Kolesterol itu sebenarnya makhluk yang polos. Ia hanya ingin membangun membran sel, bikin hormon cinta (testosteron dan estrogen), dan membantu tubuh memproduksi vitamin D agar kita tetap cerah di pagi hari. Tapi entah bagaimana, semua jasa itu tak pernah diliput. Dunia medis malah menjadikannya kambing hitam utama, seperti tetangga yang disalahkan tiap kali listrik padam.

Dr. Ben Bikman—ahli metabolisme dan juru bicara kolesterol yang paling tenang di dunia—bahkan berkata, “Menurunkan kolesterol terlalu agresif itu bisa bikin libido turun.”
Mendadak, semua pria di gym mulai menatap botol statin mereka dengan curiga.

πŸ’Š Big Pharma vs. Para Pembela Lemak

Tentu saja, narasi ini cepat viral. Apalagi ada bumbu teori konspirasi: bahwa big pharma mempromosikan obat penurun kolesterol demi menebalkan rekening, bukan arteri. Para pembela kolesterol lalu bangkit, mengibarkan panji bertuliskan “Bring back the butter!”—dan dunia tiba-tiba terasa seperti film Braveheart, tapi versi nutrisi.

Mereka punya amunisi juga: studi AMORIS yang melibatkan 800 ribu orang menunjukkan bahwa para centenarian (yang hidup sampai 100 tahun) sering punya kolesterol tinggi. “Lihat! Buktinya jelas!” kata mereka.
Tapi ilmuwan arus utama menjawab santai: “Itu bukan karena kolesterol bikin panjang umur… tapi karena yang kolesterolnya rendah sudah keburu meninggal duluan.”
Debat pun berlanjut, seperti perang tak berkesudahan antara nasi putih dan nasi merah.

⚖️ Kebenaran: Bukan Hitam, Bukan Putih, Tapi Kuning Telur

Seperti halnya cinta, kebenaran medis jarang sesederhana “baik” atau “jahat.” Kolesterol memang penting, tapi kalau kadarnya kebanyakan, ia bisa berubah jadi drama queen di dalam arteri—membuat plak, menyumbat jalan darah, dan mengundang tragedi di ruang ICU.

Sebaliknya, terlalu rendah juga bukan solusi. Hidup tanpa kolesterol itu seperti hidup tanpa minyak goreng: memang lebih sehat, tapi hambar, kering, dan berpotensi menurunkan semangat hidup (dan kadar testosteron).

Maka muncullah kesimpulan ilmiah yang membingungkan tapi bijak:
πŸ‘‰ “Kolesterol itu seperti mantan — jangan dibenci, tapi juga jangan diundang balik terlalu sering.”

🧬 Dari Laboratorium ke TikTok

Masalahnya, ilmu gizi kini bukan lagi milik laboratorium, tapi milik TikTok. Di sana, seseorang dengan filter beauty mode bisa memproklamasikan bahwa makan telur 10 butir sehari “membersihkan arteri.”
Dan anehnya, video itu sering mendapat lebih banyak penonton daripada kuliah kardiologi Harvard.

Tentu saja, sebagian pesannya masuk akal: fokuslah pada kesehatan metabolik, bukan sekadar angka kolesterol. Rasio trigliserida dan HDL memang lebih informatif. Tapi ketika seseorang berkata, “LDL tinggi itu tanda tubuhmu bahagia,” kita perlu bertanya pelan-pelan: “Tubuhmu atau hatimu yang berdebar karena plak?”

❤️ Akhirnya: Berdamai dengan Kolesterol

Setelah semua debat ini, mungkin sudah saatnya kita berdamai. Kolesterol bukan malaikat, tapi juga bukan iblis. Ia seperti anggota keluarga yang cerewet tapi setia — kadang bikin tekanan darah naik, tapi juga menjaga rumah tetap utuh.

Jadi sebelum membuang telur, mentega, dan otak sapi dari hidupmu, mungkin lebih baik periksa dulu darahmu — dan juga feed media sosialmu. Karena yang paling berbahaya bukan kolesterol di dalam darah, tapi kolesterol informasi yang menyumbat aliran akal sehat kita.

Kesimpulan Jenaka:

“Hidup sehat bukan soal menurunkan kolesterol, tapi menurunkan ego — terutama saat berdebat di kolom komentar.” πŸ₯š

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.