Selasa, 11 November 2025

πŸͺ™ Dua Satu Wajah: Pahlawan, Kritik, dan Seni Menyetrika Sejarah

Ada pepatah lama yang mengatakan: “pahlawan dan "tokoh kontroversial" hanya dipisahkan oleh narasi yang menang.” Tapi di dunia politik kita, batas itu sering kali bukan hanya tipis — melainkan lentur seperti karet gelang yang bisa ditarik ke arah mana pun oleh kepentingan.

Beberapa waktu lalu, publik kembali ramai memperdebatkan keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar pahlawan kepada seorang tokoh yang jejaknya penuh kontroversi. Bagi sebagian orang, tokoh ini adalah penyelamat bangsa — pembangun ekonomi, pemimpin berwawasan luas, dan simbol stabilitas.
Namun bagi yang lain, ia dianggap mewariskan ketakutan, represi, dan luka sosial yang belum sepenuhnya sembuh.

Perdebatan itu pun seperti nonton pertandingan bola: semua yakin pendapatnya paling benar, tapi tak ada yang betul-betul tahu siapa yang jadi wasitnya.

⚖️ Pahlawan: Profesi dengan Deskripsi Pekerjaan yang Fleksibel

Secara hukum, gelar pahlawan diberikan kepada mereka yang punya integritas moral, jiwa kebangsaan, dan pengabdian luar biasa.
Namun dalam praktiknya, kriteria itu sering kali terasa seperti panduan resep tanpa takaran pasti. Sedikit ini, tambahkan itu, aduk sesuai selera politik.

Istilah “pengabdian luar biasa” bisa berarti berjuang demi rakyat, tapi juga bisa dimaknai sebagai berjuang demi visi pribadi yang dianggap demi rakyat.
“Integritas moral” pun bisa berarti tak pernah korup, atau sedikit korup tapi produktif, jadi... ya sudah lah.

Maka jadilah proses penetapan pahlawan seperti acara realitas — di mana setiap peserta punya penggemar fanatik, juri yang subjektif, dan hasil akhir yang lebih politis daripada musikal.

πŸ“š Anti-Hero dan Seni Menyukai yang Rumit

Dalam dunia fiksi, kita mengenal tokoh anti-hero — sosok yang melakukan hal-hal kelam demi tujuan yang (katanya) mulia. Ia bukan orang jahat, tapi juga sulit disebut suci.
Konsep ini ternyata cocok sekali dengan politik. Banyak tokoh besar kita yang, jika dijadikan karakter film, akan membuat penonton bingung: ini protagonis, antagonis, atau karakter abu-abu dengan lighting dramatis?

Di sinilah publik terbelah. Sebagian menilai hasil akhirnya lebih penting dari caranya. Sebagian lain justru percaya bahwa caranya lebih penting dari hasilnya. Dan sebagian sisanya... hanya menunggu kapan perdebatan ini selesai supaya bisa lanjut menonton sinetron sejarah di TV.

πŸ‘₯ Publik, Politik, dan Efek Kamera Depan

Menariknya, penilaian terhadap seorang tokoh sangat tergantung dari sudut pandang kamera sejarah.
Dari kiri — ia pahlawan.
Dari kanan — ia pelanggar nilai.
Dari tengah — ia hanya manusia dengan pencahayaan politik yang kebetulan pas di satu sisi.

Fenomena ini mirip selfie: hasilnya tergantung filter dan angle yang digunakan.
Sejarah pun begitu — tergantung siapa yang memegang kameranya, dan siapa yang punya hak unggah ke arsip nasional.

🧩 Kesimpulan: Sejarah Butuh Editor, Bukan Hanya Pujangga

Akhirnya, kita belajar bahwa pahlawan bukanlah makhluk mitologis tanpa cacat. Mereka adalah manusia biasa dengan catatan luar biasa — baik maupun buruk.
Sejarah, pada dasarnya, bukan tentang mencari sosok sempurna, tapi tentang berani menatap bayangan di balik cahaya.

Namun, berhati-hatilah: jika kita terus menyetrika sejarah agar tampak rapi tanpa noda, lama-lama yang tersisa hanyalah kain hangus — licin, tapi kehilangan coraknya.
Dan bangsa tanpa corak, sama saja seperti mata uang tanpa dua sisi: tak lagi bisa digunakan untuk membeli hikmah masa lalu.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.