Ada pepatah lama yang mengatakan: “pahlawan dan "tokoh kontroversial" hanya dipisahkan oleh narasi yang menang.” Tapi di dunia politik kita,
batas itu sering kali bukan hanya tipis — melainkan lentur seperti karet gelang
yang bisa ditarik ke arah mana pun oleh kepentingan.
Beberapa waktu lalu, publik kembali ramai memperdebatkan
keputusan pemerintah yang menganugerahkan gelar pahlawan kepada seorang tokoh
yang jejaknya penuh kontroversi. Bagi sebagian orang, tokoh ini adalah
penyelamat bangsa — pembangun ekonomi, pemimpin berwawasan luas, dan simbol
stabilitas.
Namun bagi yang lain, ia dianggap mewariskan ketakutan, represi, dan luka
sosial yang belum sepenuhnya sembuh.
Perdebatan itu pun seperti nonton pertandingan bola: semua
yakin pendapatnya paling benar, tapi tak ada yang betul-betul tahu siapa yang
jadi wasitnya.
⚖️ Pahlawan: Profesi dengan
Deskripsi Pekerjaan yang Fleksibel
Secara hukum, gelar pahlawan diberikan kepada mereka yang
punya integritas moral, jiwa kebangsaan, dan pengabdian luar
biasa.
Namun dalam praktiknya, kriteria itu sering kali terasa seperti panduan
resep tanpa takaran pasti. Sedikit ini, tambahkan itu, aduk sesuai selera
politik.
Istilah “pengabdian luar biasa” bisa berarti berjuang
demi rakyat, tapi juga bisa dimaknai sebagai berjuang demi visi pribadi
yang dianggap demi rakyat.
“Integritas moral” pun bisa berarti tak pernah korup, atau sedikit
korup tapi produktif, jadi... ya sudah lah.
Maka jadilah proses penetapan pahlawan seperti acara
realitas — di mana setiap peserta punya penggemar fanatik, juri yang subjektif,
dan hasil akhir yang lebih politis daripada musikal.
π Anti-Hero dan Seni
Menyukai yang Rumit
Dalam dunia fiksi, kita mengenal tokoh anti-hero —
sosok yang melakukan hal-hal kelam demi tujuan yang (katanya) mulia. Ia bukan
orang jahat, tapi juga sulit disebut suci.
Konsep ini ternyata cocok sekali dengan politik. Banyak tokoh besar kita yang,
jika dijadikan karakter film, akan membuat penonton bingung: ini protagonis,
antagonis, atau karakter abu-abu dengan lighting dramatis?
Di sinilah publik terbelah. Sebagian menilai hasil akhirnya
lebih penting dari caranya. Sebagian lain justru percaya bahwa caranya lebih
penting dari hasilnya. Dan sebagian sisanya... hanya menunggu kapan perdebatan
ini selesai supaya bisa lanjut menonton sinetron sejarah di TV.
π₯ Publik, Politik, dan
Efek Kamera Depan
Menariknya, penilaian terhadap seorang tokoh sangat
tergantung dari sudut pandang kamera sejarah.
Dari kiri — ia pahlawan.
Dari kanan — ia pelanggar nilai.
Dari tengah — ia hanya manusia dengan pencahayaan politik yang kebetulan pas di
satu sisi.
Fenomena ini mirip selfie: hasilnya tergantung filter
dan angle yang digunakan.
Sejarah pun begitu — tergantung siapa yang memegang kameranya, dan siapa yang
punya hak unggah ke arsip nasional.
π§© Kesimpulan: Sejarah
Butuh Editor, Bukan Hanya Pujangga
Akhirnya, kita belajar bahwa pahlawan bukanlah makhluk
mitologis tanpa cacat. Mereka adalah manusia biasa dengan catatan luar biasa —
baik maupun buruk.
Sejarah, pada dasarnya, bukan tentang mencari sosok sempurna, tapi tentang
berani menatap bayangan di balik cahaya.
Namun, berhati-hatilah: jika kita terus menyetrika sejarah
agar tampak rapi tanpa noda, lama-lama yang tersisa hanyalah kain hangus —
licin, tapi kehilangan coraknya.
Dan bangsa tanpa corak, sama saja seperti mata uang tanpa dua sisi: tak lagi
bisa digunakan untuk membeli hikmah masa lalu.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.