Kelas menengah sering digambarkan sebagai “tulang punggung ekonomi Indonesia”. Istilah yang kedengarannya gagah ini pada kenyataannya mirip slogan iklan mie instan: terdengar heroik, tapi isinya apa adanya. Berdasarkan klasifikasi BPS, siapa pun yang berpenghasilan antara Rp 2,04 juta sampai Rp 9,91 juta per kapita per bulan resmi menjadi bagian dari kelas yang konon menopang 81,49% pengeluaran rumah tangga nasional—meski sering kali, pengeluaran itu termasuk juga cicilan PayLater.
Dengan jumlah yang mencapai dua pertiga populasi (kalau
digabung dengan “kelas menengah wanna-be”), kelompok ini memang seperti cokelat
kiloan di supermarket: banyak, penting, tapi cepat habis kalau kena inflasi.
Dan sayangnya, pilar ini kini sedang bergetar—bukan karena gempa, tapi karena
cicilan, harga cabai, dan notifikasi bank yang berbunyi “saldo tidak cukup”.
Penyusutan Kelas Menengah: Plot Twist yang Tidak
Diinginkan
BPS mencatat bahwa jumlah kelas menengah turun dari 57,33
juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Artinya, 9,5 juta orang
“turun kasta” dalam lima tahun—sebuah migrasi sosial yang jauh lebih cepat
daripada migrasi burung ke kutub utara.
Ini menunjukkan satu hal: kelas menengah itu ternyata
seperti bubble tea—bentuknya besar, warnanya menarik, tapi sekali
ditusuk sedotan, langsung kempes.
Kelas Menengah Pedesaan: Bertani di Atas Tali Rafia
Kalau kelas menengah perkotaan hidup dalam drama cicilan,
kelas menengah petani hidup dalam horor bernama cuaca dan harga komoditas.
Mayoritas petani Indonesia adalah petani kecil, dengan pendapatan tahunan
rata-rata cuma Rp 5,23 juta. Itu artinya, mereka yang berpendapatan Rp 2–5 juta
per bulan sudah dianggap kelas menengah versi agraris—tentu dengan
syarat tambahan: punya lahan 0,5–2 hektar, traktor minjem tetangga, dan anak
yang sekolahnya sudah bisa pakai Google Classroom.
Masalahnya, pendapatan petani ini bisa naik turun sesuka
pasar global. Satu kali gagal panen, mereka bisa langsung kembali ke status
“kelas menengah halu”. Dan kalau harga anjlok, pendapatan yang tadinya Rp 3
juta bisa menyusut seperti singkong direbus kelamaan.
Jawa vs Sumatra: Kompetisi Panggung Ekonomi
Dari sisi geografis, dinamika kelas menengah Indonesia mirip
kompetisi MasterChef: ada dapur utama, ada dapur kedua. Jawa
memegang 58,75% PDB nasional, didukung industri manufaktur dan jasa. Itulah
sebabnya kelas menengah perkotaan di Jawa tampil lebih percaya diri—bahkan
kadang lebih percaya diri daripada skill memasaknya.
Sementara itu, Sumatra menyumbang 21,36% PDB lewat komoditas
dan tambang. Banyak petani sawit bisa masuk kelas menengah, tapi itu pun
tergantung harga sawit dunia. Jika harga naik, mereka langsung naik kelas. Jika
harga turun, mereka jadi seperti film seri yang dihentikan tiba-tiba: to
be continued entah kapan.
Fondasi kelas menengah di luar Jawa dengan demikian sering
terasa seperti jembatan kayu di pedalaman: bisa dilewati, tapi jangan
lompat-lompat.
Lampu Kuning untuk Perekonomian
Penurunan populasi kelas menengah seharusnya menjadi lampu
kuning besar untuk perekonomian nasional. Tapi lampu kuning ini sering dianggap
masyarakat sebagai “boleh lanjut asal hati-hati”—sama seperti di jalan raya.
Padahal persoalannya jauh lebih serius. Kelas menengah
adalah pasar, konsumen, pembayar pajak, pembeli sepeda lipat, dan penggerak
ekonomi lokal. Jika jumlah mereka menyusut, daya tahan ekonomi kita ikut
melemah. Ibarat rumah, kita sedang kehilangan tiang tengah—dan sisanya
menanggung hidup dengan modal tembok saja.
Program semacam petani milenial tentu memberi harapan. Tapi
tanpa kebijakan stabil, tepat sasaran, dan bebas dari drama anggaran, program
ini hanya akan seperti acara motivasi: semangat naik sejam, pendapatan tetap
segitu-gitu saja.
Kesimpulan: Pilar Itu Masih Berdiri, Tapi Perlu Diperkuat
Kelas menengah Indonesia bukan sekadar angka statistik;
mereka adalah orang-orang yang hidup dengan strategi ekonomi yang rumit: irit,
hemat, tapi tetap ingin rekreasi ke Bali setahun sekali. Penyusutan mereka
adalah tanda bahwa “pilar perekonomian” itu mulai getarannya serius—lebih
serius dari getaran motor matic usia 10 tahun.
Memperkuat kelas menengah berarti memastikan mereka tidak
lagi hidup dalam ketidakpastian cuaca, harga komoditas, dan cicilan. Kalau
pilar ini runtuh, ekonomi Indonesia tidak hanya goyang, tapi bisa ambruk
seperti lemari triplek tanpa skrup.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.