Minggu, 23 November 2025

Dinasti Politik: Ketika Kekuasaan Turun-Temurun Lebih Stabil daripada Harga Cabai

Jika ada satu hal yang menyatukan Asia dan Amerika Latin—selain kecintaan mereka pada makanan pedas—maka itu adalah kecintaan mendalam pada dinasti politik. Ya, kekuasaan yang diwariskan seperti perabotan antik keluarga: rapuh, mahal, tapi entah kenapa selalu diwariskan dan tidak pernah benar-benar dibuang.

Meski demokrasi modern sering berkoar “kedaulatan di tangan rakyat”, di banyak negara Asia dan Amerika Latin, rakyat tampaknya hanya meminjamkan tangan sebentar untuk mencoblos, sebelum tangan-tangan keluarga elite kembali mengambil alih setir kekuasaan.

Asia: Ketika Politik Jadi Bisnis Keluarga Resmi

Di Asia, dinasti politik bukan kebetulan. Ia seperti menu wajib di restoran Padang: selalu ada, dan kalau tidak ada, rasanya curiga. Dari Korea Utara dengan keluarga Kim yang seolah memperlakukan negara sebagai waralaba pribadi, hingga Filipina dan Thailand yang memperlakukan politik seperti acara reuni keluarga besar—yang penting yang tampil tetap marga itu-itu saja.

India punya Nehru-Gandhi, Pakistan punya Bhutto-Zardari, Thailand punya Shinawatra, dan Singapura… ya, Singapura punya keluarga Lee, yang kepemimpinannya persis seperti iPhone: modelnya ganti, mereknya tetap.

Mengapa dinasti di Asia tumbuh subur? Karena tanahnya subur. Ada pupuk patronase, benih loyalitas keluarga, dan air pengairan dari ekonomi konglomerat. Belum lagi mitos “darah pahlawan”: seolah kemampuan memimpin diturunkan lewat DNA, bukan lewat integritas, program, atau IQ.

Dan kini tren makin lucu: dinasti makin muda. Gibran jadi Wapres Indonesia di usia 36, Paetongtarn jadi PM Thailand di 37, Bilawal jadi Menlu Pakistan di 35. Anak muda lain main Mobile Legends, mereka main negara-negaraan.

Kalau ada yang tumbang? Tenang. Di Asia, dinasti hanya istirahat, bukan tamat. Park Geun-hye dipenjara? Oke. Marcos tumbang 36 tahun lalu? Muncul lagi, fresh from the oven!

Amerika Latin: Dinasti Politik Rasa Telenovela

Sementara di Amerika Latin, dinasti politik tidak tumbuh seperti pohon beringin; lebih tepatnya seperti kembang api—meriah, dramatis, dan berakhir dengan suara ledakan.

Di sini, kekuasaan keluarga sering dipotong oleh kudeta, revolusi, atau skandal korupsi yang bisa mengisi 80 episode telenovela. Ortega-Murillo di Nikaragua menjalankan negara seperti perusahaan keluarga: presiden suami, wakil presiden istri, anak-anak pegang divisi strategis. Praktis, efisien, dan… menyeramkan.

Ada juga dinasti ideologis khas Amerika Latin: Chávez-Maduro di Venezuela, keluarga Castro di Kuba. Mereka bertahan bukan dengan partai atau narasi media, tapi dengan ideologi dan—sedikit—senjata. Baik untuk brand positioning, kurang baik untuk oposisi.

Perbedaan dengan Asia? Metodenya.

  • Asia: mainnya halus, lewat partai, media, dan mekanisme pemilu yang fleksibel seperti karet gelang.
  • Amerika Latin: mainnya keras, sering pakai tentara, revolusi, atau minimal skandal korupsi kelas kakap.

Akhir cerita pun beda:

  • Asia: jarang tamat. Paling banter “rehat karier”.
  • Amerika Latin: tamat dramatis—dipenjara, diasingkan, atau diburu Netflix untuk dokumenter.

Indonesia: Anggota Baru Klub Dinasti Asia

Munculnya Gibran dan Kaesang dalam politik Indonesia bukanlah anomaly. Ini hanya menunjukkan Indonesia resmi ikut arisan dinasti Asia. Bedanya, kita masih pakai versi “lunak”—belum ada adegan kudeta, tembakan, atau istana terbakar (alhamdulillah).

Kalau dibandingkan Ortega di Nikaragua, dinasti Indonesia masih seperti sinetron pukul 12 siang: dramanya ada, tapi masih ramah keluarga.

Kesimpulan: Dinasti Politik, dari Meja Makan ke Gedung Negara

Pada akhirnya, dinasti politik adalah fenomena global yang menyesuaikan diri seperti air. Di Asia, dinasti mengalir halus melalui institusi. Di Amerika Latin, dinasti mengalir deras—kadang sampai meluap dan membanjiri rezim itu sendiri.

Yang jelas, kekuasaan keluarga tetap menjadi salah satu aset politik paling berharga—lebih tahan lama dari koalisi, lebih stabil dari perhitungan suara, dan lebih cepat bangkit daripada mantan pejabat yang baru dihukum.

Warisan politik, singkatnya, adalah bukti bahwa dalam banyak negara, masa depan tak ditentukan oleh “siapa yang paling kompeten”, tetapi oleh “siapa yang punya album foto keluarga paling berpengaruh”.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.