Kamis, 06 November 2025

“Tangan Tersembunyi” dan Jemari yang Terlalu Rajin Mengetik: Sebuah Studi Konspirasi di Era Scroll dan Like

Pada suatu hari yang cerah—secerah algoritma TikTok yang sedang memantau minatmu—seorang wanita dengan penuh drama memposting video: “Aku baru saja menemukan buku langka dari tahun 1926! Mereka tidak ingin kita tahu ini!”

Tentu saja, seluruh dunia maya segera bergetar. Bukan karena isinya, tapi karena thumbnail-nya pakai filter misterius dan tulisan “TERLARANG” dengan font merah menyala.

Buku itu berjudul “The Secret World Government or The Hidden Hand”. Namanya saja sudah seperti sinopsis film Marvel yang ditulis oleh teori konspirasi. Penulisnya, seorang Mayor Jenderal Rusia bernama Arthur Cherep-Spiridovich, tampaknya tidak puas hanya menjadi “mayor”, jadi dia menambahkan gelar bangsawan “Count”—mungkin biar terdengar seperti villain yang punya kastil di Transylvania dan hobi tertawa, “Mwahaha!”

Dari Konspirasi ke Komedi Situasi

Buku ini konon mengungkap bahwa dunia dikendalikan oleh 300 elite rahasia yang menandatangani kontrak dengan Lucifer. Ya, Lucifer. Bukan Elon Musk, bukan IMF, tapi Lucifer sendiri—seolah-olah Iblis punya startup bernama “Evil Inc.” dengan investor utama keluarga Rothschild.
Tentu saja, semua peristiwa besar di dunia—dari Revolusi Prancis sampai macetnya tol Jakarta—adalah bagian dari masterplan mereka.

Namun, jika dibaca dengan kacamata abad ke-21, buku itu terasa seperti Wikipedia-nya paranoia. Isinya: setengah sejarah, setengah halusinasi, dan sepenuh-penuhnya keyakinan diri bahwa semuanya ada hubungannya. Bahkan hujan pun mungkin disalahkan pada “penguasa non-manusia”.

Kebangkitan Zombie dari Rak Buku Antik

Yang menarik bukan bukunya, tapi bagaimana ia kembali hidup. Di tangan media sosial, teori konspirasi itu seperti vampir literasi—sudah mati, tapi terus dihidupkan dengan algoritma.
Mekanismenya sederhana:

  1. Katakan bahwa sesuatu “terlarang”.
  2. Tambahkan nada takut: “Aku bisa dibungkam karena ini!”
  3. Gunakan pertanyaan dramatis: “Siapa yang mengendalikan kita sebenarnya?”
  4. Lalu duduklah manis sambil menunggu views dan engagement naik.

Dan begitulah, konspirasi tahun 1926 akhirnya mendapatkan rebranding gratis di tahun 2025—lengkap dengan komentar “Mindblowing 🔥” dari akun anonim dengan foto profil piramida Illuminati.

Sastra Kebencian, tapi Versi Viral

Sayangnya, di balik kelucuannya, ada aroma busuk yang tak bisa dihapus filter Instagram: kebencian lama yang dikemas ulang. Buku itu lahir dari dunia yang sedang ketakutan, dan seperti banyak manusia yang panik, penulisnya mencari kambing hitam.
Dulu kambing hitamnya adalah “bangsa asing” dan “kaum tertentu”. Sekarang, kambingnya sudah digital: “elite global”, “AI jahat”, atau “reptilian dari planet finansial”. Bedanya, kalau dulu konspirasi menyebar lewat pamflet, sekarang cukup lewat retweet.

Antara Netflix dan Narasi Gelap

Teori konspirasi punya pesona aneh. Ia menawarkan rasa tegang tanpa perlu tiket bioskop. Ada villain, ada korban, ada “orang yang tahu kebenaran”—dan tentu saja, kita semua ingin jadi yang terakhir itu.
Masalahnya, ketika semuanya jadi misteri, tidak ada ruang untuk logika. Kita berakhir dalam dunia di mana setiap fakta dianggap manipulasi, dan setiap thread Twitter dianggap wahyu alternatif.

Kalimat, “Dunia dikendalikan oleh mereka yang tak terlihat,” terasa puitis—sampai kita sadar bahwa “mereka” mungkin hanya algoritma yang memutuskan video mana yang kamu lihat lebih dulu.

Kesimpulan: Hati-hati dengan Jemari Tersembunyi

Pada akhirnya, mungkin “tangan tersembunyi” yang paling berpengaruh bukan milik Lucifer, tapi jari-jari kita sendiri yang terlalu cepat mengetik “share” sebelum membaca.
Kita ingin percaya ada konspirasi besar, karena itu lebih mudah daripada menerima kenyataan bahwa dunia ini memang… ya, berantakan saja. Tidak perlu setan global untuk menjelaskan harga cabai naik atau krisis ekonomi—kadang cukup supply chain dan cuaca.

Jadi, sebelum kamu menekan tombol “Bagikan” pada postingan yang mengklaim “rahasia terlarang dari tahun 1926”, coba pikir: apakah kamu sedang melawan konspirasi… atau justru menjadi bagian dari kampanye marketing gratis bagi buku yang seharusnya sudah pensiun seabad lalu?

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.