Perjalanan spiritual manusia itu, kalau mau jujur, mirip banget dengan sinyal Wi-Fi rumah: kadang full bar sampai video YouTube kualitas 4K lancar, kadang mendadak turun jadi 144p pas lagi butuh-butuhnya. Dalam bahasa Ibnu Athaillah? Itulah al-qabḍ dan al-basṭ. Dua rasa hati yang bikin seorang salik kadang merasa seperti wali dadakan, kadang seperti hamba yang bahkan untuk bilang “astaghfirullah” saja butuh buffering.
Padahal, menurut Al-Hikam, kedua kondisi ini sebenarnya cuma
“rest area” dalam perjalanan jauh menuju Allah. Bukan tujuan akhir. Jadi kalau
lagi dapat rasa-rasa manis makrifat, jangan GR. Dan kalau lagi gelap gulita,
jangan drama.
Qabḍ dan Basṭ: Dua Rasa yang Sering Disalahpahami
Al-qabḍ itu ibarat hari Senin pagi: hati sempit,
bingung, sedih, dan ingin kembali tidur. Sementara al-basṭ adalah Jumat
sore menjelang libur panjang: hati lapang, tenang, dan merasa segala masalah
hidup bisa diselesaikan dengan minum es teh manis.
Tapi ingat, keduanya bukan indikator kemajuan spiritual.
Ibnu Athaillah seperti ingin berkata:
“Tenang, Nak. Kalau lagi lapang itu bukan berarti kamu sudah
keren. Kalau lagi sempit juga bukan berarti Allah benci.”
Allah cuma sedang bikin hati kita tidak jatuh cinta pada
rasa, tapi jatuh cinta pada Pencipta rasa.
Awas: Basṭ Bisa Bikin Halusinasi Level Wali
Ini bagian yang menarik: basṭ malah lebih bahaya.
Para arifin kalau dapat basṭ itu justru deg-degan. Karena
bisa muncul penyakit rohani yang sangat menular, bernama:
“Sombong Spiritual Akut”
Gejalanya:
- merasa
doa lebih cepat di-“read” Allah,
- merasa
tiap momen hidup adalah ilham,
- merasa
karamah sudah dekat, tinggal nunggu notifikasi.
Padahal bisa jadi itu cuma efek tidur cukup.
Allah Memutar Hati Kita: Seperti Mesin Cuci
Ibnu Athaillah mengumpamakan perjalanan spiritual seperti
orang yang dimasukkan ke mode spin oleh Allah.
Kadang dilempar ke kondisi sempit (qabḍ), kadang diputer ke
kondisi lapang (basṭ). Semua itu agar hati tidak menempel pada keadaan.
Pokoknya Allah ingin berkata:
“Hei hamba-Ku, yang kamu cari itu Aku. Bukan perasaanmu.”
Mesin cuci ilahi ini pada akhirnya menjemur kita di teras
maqam yang lebih tinggi: al-hubb al-mahd, al-uns, dan puncaknya tamkīn.
Di level ini, hati sudah seperti stabilizer premium: tidak gampang goyah, tidak
gampang baper.
Empat Amalan anti-Badai Spiritual (Versi Abul Abbas
al-Mursi)
Kalau hati naik-turun, gurunya Ibnu Athaillah memberikan
resep yang bisa dibilang seperti “panduan hidup versi simple”:
- Saat
taat: Jangan pamer, karena itu bukan jasa kita.
- Saat
maksiat: Jangan nunda tobat kayak nunda bayar listrik.
- Saat
senang: Jangan suka sama nikmatnya, tapi sama Pemberinya.
- Saat
susah: Jangan lebay, semua dari Allah, bukan dari tetangga.
Simple. Tapi mengerjakannya lebih sulit daripada tidak
menambah jajan Shopee di tanggal kembar.
Doa Anti Panik: Menenangkan Hati Tanpa Perlu Kopi
Ketika hati gelisah dan bingung mau ngapain, Nabi SAW sudah
kasih “zikir darurat”:
“Allah, Allah, Rabbku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun.”
Ini semacam tombol reset rohani. Mengingatkan bahwa:
- masalah
dari Allah,
- solusi
dari Allah,
- tugas kita cuma menyebut nama-Nya…bukan memikirkan 27 skenario paling dramatis yang belum tentu terjadi.
Kesimpulan yang Tidak Berat-berat Amat
Perjalanan sufi itu bukan lomba siapa paling banyak dapat
rasa adem di hati. Bukan pula kompetisi siapa paling sering “merasa dekat.”
Semua rasa itu cuma alat belajar. Fasilitas sementara.
Puncaknya adalah ketika seseorang bisa berkata:
“Ya Allah, aku tidak ingin apa pun—bahkan surga kalau
perlu—asalkan Engkau ada.”
Inilah level tamkīn, level ketika hati tidak lagi
jadi korban mood, tapi sudah menyaksikan Allah di setiap keadaan.
Dan kalau masih sering naik turun?
Tenang. Berarti kita masih manusia.
Wallahu a’lam — dan semoga hati kita tidak lemot
sinyalnya lagi.
abah-arul.blogspot.com., Desember 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.