Selasa, 18 November 2025

Kelas Menengah: Kaum yang Terlalu Kaya untuk Bansos, Terlalu Miskin untuk Tenang

Di Indonesia, ada satu makhluk ekonomi yang keberadaannya misterius dan nasibnya tragis: kelas menengah rentan. Mereka ini seperti karakter di film horor—kelihatannya aman, tapi setiap saat bisa disergap inflasi dari balik pintu dapur.

Selama ini, perhatian negara banyak tertuju pada mereka yang berada di bagian paling bawah piramida ekonomi. Wajar saja: angka-angka kemiskinan memang lebih mudah terlihat. Tapi rupanya, di balik bisingnya mal dan deretan mobil yang antre di SPBU, ada sekelompok orang yang secara diam-diam juga sedang ngos-ngosan menjaga kewarasan finansial. Dialah kelas menengah—kaum yang kalau harga telur naik seribu rupiah saja langsung menghitung ulang rencana hidup.

Kelas Menengah yang Menyusut: Bukan Diet, Tapi Krisis

Menurut BPS, jumlah kelas menengah turun dari 57 juta jiwa pada 2019 menjadi 47 juta jiwa pada 2024. Penurunan 10 juta jiwa ini bukan karena mereka tiba-tiba kesadaran untuk hidup minimalis—melainkan karena ekonomi menolak diajak kompromi.

Mereka ini bukan hilang, hanya tergelincir ke bawah. Seperti orang yang berdiri di eskalator rusak: niatnya naik, tapi kok makin turun.

Tekanan inflasi juga ikut menjadi antagonis utama. Harga pangan dan biaya hidup naik, gaji stagnan, dan cicilan tetap setiap bulan membunyikan “dun dun duuun” background soundtrack. Ibaratnya, hidup kelas menengah itu seperti lomba lari tapi lintasannya pakai pasir pantai.

Terlalu “Kaya” untuk Bansos, Terlalu “Miskin” untuk Tenang

Sialnya, posisi kelas menengah ini serba nanggung. Mereka tidak masuk daftar bansos yang menyasar desil 1–4, tapi juga tidak punya ruang napas layaknya kelas atas. Mereka ini kelas ekonomi “pas-pasan”—pas dibutuhkan negara, pas tidak dibantu juga.

Istilah kasarnya: kelas menengah adalah jaring pengaman negara, padahal mereka sendiri tidak punya jaring cadangan.

Kenapa Kelas Menengah Harus Dibantu? Alasannya Tidak Sesederhana "Kasihan"

  1. Mencegah jatuh lebih murah daripada mengangkat lagi.
    Kalau kelas menengah sampai jatuh miskin, biaya APBN untuk membantu mereka naik lagi akan lebih besar. Ini seperti membiarkan seseorang terjungkal dari sepeda lalu memanggil dokter, padahal bisa dicegah dengan belikan helm dari awal.
  2. Kelas menengah = mesin konsumsi nasional.
    Tanpa konsumsi kelas menengah, ekonomi bisa lesu darah. Negara butuh mereka seperti negara butuh pajak, atau seperti kita butuh gorengan saat hujan turun.
  3. Ketimpangan makin lebar kalau kelas menengah makin tipis.
    Kalau terus dibiarkan, nanti tinggal ada dua kelas: yang makan salmon dan yang makan harapan.

Tapi Bagaimana Bantunya? Tidak Melulu Harus Kasih Amplop Kok

Masalah pertama: data. Data bansos kita kadang seperti kamera CCTV jadul—gambar terlihat, tapi wajah kurang jelas. CELIOS menyarankan memperkuat Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), supaya bantuan tepat sasaran dan tidak lagi diberikan ke orang yang “rumahnya dua lantai tapi masih ngaku miskin”.

Masalah kedua: bentuk bantuannya.
Kelas menengah tidak butuh bansos untuk beli beras setiap bulan. Yang mereka butuh adalah:

  • potongan PPN,
  • batas PTKP dinaikkan,
  • dan program pelatihan ala Kartu Prakerja yang membuat mereka tidak hanya bertahan hidup, tapi naik level.

Prakerja sudah membuktikan bahwa bantuan tidak harus berupa duit tunai, tapi modal keterampilan yang anti-inflasi. Harga cabe bisa naik, tapi kemampuan editing video tidak ikut naik.

Kesimpulan: Kelas Menengah Bukan Superhero, Mereka Juga Butuh Bantuan

Indonesia selama ini berdiri di atas pundak kelas menengah—pembayar pajak yang setia, konsumen yang tangguh, dan warga yang tidak pernah protes kalau minyak goreng naik (ya, protes sih, tapi sambil tetap beli).

Kalau mereka jatuh miskin, bukan hanya mereka yang rugi, tetapi seluruh perekonomian ikut pusing. Karena itu, memperluas perlindungan sosial ke kelas menengah bukan tindakan manja-manjain, tapi investasi nasional jangka panjang.

Kalau fondasinya kuat, bangunannya aman. Kalau kelas menengah kuat, Indonesia bisa tidur lebih nyenyak.

Tanpa itu?
Ya… ekonomi kita mungkin akan seperti tembok rumah tua: kita tidak tahu kapan retaknya, tapi tahu pasti bahwa itu bukan pertanda baik.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.