Di bulan November 2025, Indonesia resmi memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Sebuah ujian baru, segar, canggih, dan—kata pemerintah—lebih “objektif”. Banyak yang menyambutnya dengan penuh harapan. Tapi ada juga yang langsung memegang kepala sambil bergumam, “Lagi? Serius nih?”
Kalau Ujian Nasional dulu dianggap seperti film horor tahunan, maka TKA hadir sebagai spin-off yang katanya lebih manusiawi. Namun seperti semua spin-off, publik masih bertanya-tanya: “Apakah ini bakal lebih bagus, atau cuma ganti judul tapi masalah tetap sama?”
Siswa: TKA adalah Jembatan Emas—Semoga Bukan Jembatan Goyang
Ambil contoh Ananda Adelia Putri dari MANU 1 Banyuputih. Baginya, TKA bukan sekadar ujian, tapi jembatan menuju fakultas impian. Jembatan ini diharapkan kokoh, menopang langkahnya menuju Fakultas Hukum UNS. Kita semua turut mendukung—walau diam-diam bertanya, “Jembatannya pakai beton mutu tinggi atau kayu sisa renovasi sekolah?”
Para guru pun bersikap suportif. Hanief Kurnia misalnya, mengatakan materi TKA sejalan dengan kurikulum sekolah. Ini kabar baik. Sayangnya, waktu belajar di kelas terbatas. Yang berarti: materi sudah pas, tapi durasi belajarnya seperti sinetron episode pertama yang langsung dipotong iklan lima kali.
Namun, optimisme tetap melambung. Para siswa madrasah terutama, berharap TKA bisa jadi tiket objektif untuk menunjukkan kemampuan, tanpa harus kalah oleh sekolah lain yang komputer lab-nya tidak mendengung seperti kipas angin raksasa.
Pengamat: TKA Bagus Secara Ide, Tapi Kok Berasa Setengah Matang?
Masuklah Edi Subkhan, pengamat pendidikan dari Unnes. Beliau sebenarnya mendukung ide besar TKA, hanya saja… beliau seperti melihat roti yang sudah masuk oven, tapi baru setengah jalan dikeluarkan. “Kok masih bantat begini?”
Ia mengkritik tiga hal besar:
-
Jumlah soal analitis 15 dari 25, dengan waktu pengerjaan seperti lomba mengetik cepat. Ini membuat TKA mirip acara MasterChef: bukan cuma harus pintar, tapi juga harus cepat—kalau bisa sambil plating.
-
Penyusunan soal dikebut, seolah panitia dikejar deadline pengumpulan tugas kuliah. Bandingkan dengan Australia yang butuh 18 bulan untuk meramu soal. Kita? Mungkin 18 hari. Atau 18 grup WhatsApp.
-
Keadilan akses. Ini masalah klasik: komputer sekolah tidak merata. Di satu sekolah, komputer sudah layar sentuh. Di sekolah lain, tombol spasi harus dipencet dua kali baru mau bekerja. Belum lagi kurikulum Merdeka yang tingkat penerapannya… ya, merdeka benar—terserah sekolah masing-masing.
TKA: Niat Sudah Bagus, Eksekusi Masih Drama
Beginilah pola khas reformasi pendidikan kita: niatnya bagus, rasional, modern. Tapi pelaksanaannya sering terburu-buru, seperti masak mie instan tapi airnya belum mendidih.
TKA hadir dengan semangat objektivitas dan desentralisasi evaluasi. Itu keren. Tapi tanpa transparansi, pemerataan infrastruktur, dan kajian empiris yang matang, TKA bisa berubah menjadi “UN Reborn”—lebih chic, tapi tetap bikin stres.
Solusinya: Jangan Hanya Ubah Nama, Ubah Sistemnya
NU Online mengingatkan: bukan untuk menolak inovasi, tapi meminta evaluasi beneran, bukan evaluasi formalitas dengan spanduk dan konsumsi nasi box.
Pemerintah perlu:
-
membuka proses penyusunan soal,
-
menyelaraskan kurikulum secara nyata (bukan cuma di PowerPoint),
-
menjelaskan ke perguruan tinggi bagaimana nilai TKA dipakai,
-
dan memastikan lab komputer tidak lagi pakai monitor tabung.
Penutup: TKA, Bayi Reformasi yang Butuh Asupan Gizi
Pada akhirnya, TKA 2025 seperti bayi yang lahir dengan wajah lucu dan penuh harapan, tapi masih perlu banyak asi, vaksin, dan perhatian.
TKA membawa mimpi meritokrasi, tapi juga mengungkap retakan lama di tubuh pendidikan kita. Keberhasilannya nanti bukan diukur dari konferensi pers peluncuran, tetapi dari keseriusan kita menambal jurang ketidakadilan, memperbaiki proses, dan mendengarkan kritik.
Karena pada akhirnya, kita butuh ujian yang tidak hanya mengukur kemampuan siswa, tapi juga kesanggupan negara untuk berlaku adil—kepada semua anak, di semua sekolah, dengan semua fasilitas, meskipun komputer lab-nya masih harus dipukul lembut sebelum menyala.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.