Selasa, 04 November 2025

🌐 Ironi Digital Nusantara: Mahal, Lambat, dan Penuh Drama Sinyal

Bayangkan Anda sedang mencoba mengunduh dokumen penting untuk presentasi besok pagi. Progres bar-nya bergerak… 1%, 2%, lalu tiba-tiba pause — karena paket data habis. Anda isi ulang Rp 100 ribu, tapi unduhan tetap pending. Sementara itu, teman Anda di Singapura sudah mengunduh season terbaru The Crown sambil menyeduh kopi kedua. Selamat datang di Indonesia, negeri dengan internet termahal di ASEAN yang kecepatannya membuat kura-kura bisa ikut lomba.

πŸ’Έ Ketika Mbps Jadi Barang Mewah

Menurut data yang viral dari Kompas.com (dan disebarkan dengan kecepatan lebih tinggi dari kecepatan unduh kita sendiri), harga internet Indonesia mencapai Rp 6.800 per Mbps, dengan rata-rata kecepatan 39,88 Mbps. Bandingkan dengan Singapura yang melaju 10 kali lipat lebih cepat dengan harga jauh lebih murah.
Kalau ini balapan Formula 1, mobil kita sudah mogok di pit stop sementara Singapura sudah finis dan selfie dengan piala.

Di tengah jargon “Transformasi Digital Menuju Indonesia Maju”, rakyat justru sibuk men-transformasikan kuota jadi doa. Karena setiap kali sinyal hilang, muncul bisikan spiritual: “Sabar, ini ujian.”

🏝️ Geografi, Oligopoli, dan Drama BTS (Bukan yang Korea)

Masalahnya tidak sesederhana “kurang menara”. Geografi Indonesia yang kepulauan membuat pemasangan kabel fiber optik ibarat menjahit sarung di tengah badai. Tapi sayangnya, bukan hanya alam yang jadi tantangan — struktur pasar juga ikut-ikutan bikin repot.
Tiga operator besar menguasai panggung, dan mereka bersaing seperti sinetron: penuh janji manis tapi ending-nya sama saja — tagihan membengkak.

Lalu datanglah faktor ketiga: birokrasi, yang membuat pembangunan infrastruktur digital terasa seperti game level hard. Dari izin menara sampai lelang frekuensi, prosesnya begitu panjang hingga sinyal harapan pun hilang. Dan jangan lupakan kisah tragis BTS 4G yang mangkrak — bukan karena personelnya keluar grup, tapi karena proyeknya tersangkut kasus.

πŸ“‰ Dampak: UMKM, Pendidikan, dan Cita-Cita yang Tersendat

Internet lambat ini bukan cuma bikin buffering YouTube, tapi juga buffering ekonomi. UMKM sulit berkembang karena ongkos digital mahal, guru-guru PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sering jadi PJJ juga: Pura-pura Jaringan Jelek.

Layanan kesehatan digital pun kena imbas — dokter bilang, “Silakan kirim hasil lab via online,” pasien menjawab, “Dok, sinyalnya masih di laut.”
Sementara negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand sudah berlari di cloud, kita masih sibuk mencari colokan di warung kopi.

πŸš€ Solusi: Dari Viral ke Vital

Infografik Kompas memang sukses membuat kita reflektif — dan sedikit refleks marah. Tapi kemarahan di X (Twitter) tidak akan mempercepat sinyal. Yang dibutuhkan adalah political will yang lebih cepat dari loading Zoom.

Bayangkan kalau subsidi internet benar-benar diterapkan, birokrasi disederhanakan, dan operator diwajibkan bersaing sehat. Kita mungkin bisa berubah dari negara 404 Not Found menjadi Digital Archipelago 2.0.

Karena sejatinya, internet bukan lagi soal “akses hiburan”, tapi infrastruktur hidup — seperti listrik dan air. Bedanya, kalau air mati kita bisa mandi pakai ember, tapi kalau sinyal hilang, kita langsung merasa tak beradab.

πŸ’‘ Penutup: Raksasa Digital yang Masih Tidur

Indonesia punya 200 juta pengguna internet. Tapi tanpa kecepatan dan pemerataan, semua itu hanya angka — seperti punya ponsel canggih tanpa charger.
Kalau kita tidak segera membangun kedaulatan digital, jangan heran kalau nanti ASEAN sudah bicara metaverse, kita masih sibuk mencari spot sinyal di pojokan teras.

Jadi, mungkin inilah saatnya kita berhenti berkata “sinyalnya lemah,” dan mulai bertanya: “Siapa yang melemahkannya?”

Karena di era digital ini, yang paling kuat bukan sinyalnya — tapi kesabaran rakyatnya.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.