Bayangkan Anda sedang mencoba mengunduh dokumen penting untuk presentasi besok pagi. Progres bar-nya bergerak… 1%, 2%, lalu tiba-tiba pause — karena paket data habis. Anda isi ulang Rp 100 ribu, tapi unduhan tetap pending. Sementara itu, teman Anda di Singapura sudah mengunduh season terbaru The Crown sambil menyeduh kopi kedua. Selamat datang di Indonesia, negeri dengan internet termahal di ASEAN yang kecepatannya membuat kura-kura bisa ikut lomba.
πΈ Ketika Mbps Jadi Barang
Mewah
Di tengah jargon “Transformasi Digital Menuju Indonesia
Maju”, rakyat justru sibuk men-transformasikan kuota jadi doa. Karena setiap
kali sinyal hilang, muncul bisikan spiritual: “Sabar, ini ujian.”
π️ Geografi, Oligopoli,
dan Drama BTS (Bukan yang Korea)
Lalu datanglah faktor ketiga: birokrasi, yang membuat
pembangunan infrastruktur digital terasa seperti game level hard. Dari
izin menara sampai lelang frekuensi, prosesnya begitu panjang hingga sinyal
harapan pun hilang. Dan jangan lupakan kisah tragis BTS 4G yang mangkrak —
bukan karena personelnya keluar grup, tapi karena proyeknya tersangkut kasus.
π Dampak: UMKM,
Pendidikan, dan Cita-Cita yang Tersendat
Internet lambat ini bukan cuma bikin buffering YouTube, tapi
juga buffering ekonomi. UMKM sulit berkembang karena ongkos digital mahal,
guru-guru PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sering jadi PJJ juga: Pura-pura
Jaringan Jelek.
π Solusi: Dari Viral ke
Vital
Infografik Kompas memang sukses membuat kita reflektif — dan
sedikit refleks marah. Tapi kemarahan di X (Twitter) tidak akan mempercepat
sinyal. Yang dibutuhkan adalah political will yang lebih cepat dari
loading Zoom.
Bayangkan kalau subsidi internet benar-benar diterapkan,
birokrasi disederhanakan, dan operator diwajibkan bersaing sehat. Kita mungkin
bisa berubah dari negara 404 Not Found menjadi Digital Archipelago
2.0.
Karena sejatinya, internet bukan lagi soal “akses hiburan”,
tapi infrastruktur hidup — seperti listrik dan air. Bedanya, kalau air mati
kita bisa mandi pakai ember, tapi kalau sinyal hilang, kita langsung merasa tak
beradab.
π‘ Penutup: Raksasa
Digital yang Masih Tidur
Jadi, mungkin inilah saatnya kita berhenti berkata
“sinyalnya lemah,” dan mulai bertanya: “Siapa yang melemahkannya?”
Karena di era digital ini, yang paling kuat bukan sinyalnya
— tapi kesabaran rakyatnya.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.