Sabtu, 15 November 2025

Kuantum: Saat China Bikin Pusing dan Amerika Bikin Powerpoint

Bayangkan dunia komputasi kuantum seperti perlombaan balap motor antar RT. Si China sudah datang dengan motor custom berstiker "Quantum Fotonik", klaimnya bisa ngebut seribu kali lebih cepat dari motor biasa. Sementara tetangga sebelah, si Amerika, masih sibuk presentasi pakai PowerPoint tunjuk gambar motor impiannya yang "suatu hari nanti" akan bisa nyala. Postingan @StarboySAR yang viral itu ibarat pekik kemenangan di grup WhatsApp kompleks: "Lihatlah! Motor kita sudah dipakai tukang ojek, sementara mereka masih gambar di kertas!"

Memang, yang dirayakan si Starboy ada benarnya. Tim China berhasil bikin chip kuantum seukuran piring kecil yang katanya bisa bikin pusat data AI ngebut seperti ketiban arwah. Ini bukan cuma teori di laboratorium lagi, tapi sudah dicoba untuk hal-hal yang mulia—mulai dari bantu hitung roket sampai bantu cari penyakit. Mereka juga punya prosesor "Zuchongzhi" yang namanya susah diucapkan, tapi katanya bisa ngitung soal matematika yang buat komputer biasa perlu waktu miliaran tahun. Ya, cukup buat bikin kita semua merasa tua sebelum jawabannya keluar.

Tapi, seperti iklan obat kuat di televisi, klaimnya kadang agak melewati batas kewajaran. Katanya teknologi ini sudah bikin kluster Nvidia "usang". Ini seperti bilang sendal jepit sudah usang karena ada sepatu lari—padahal buat ke warung, ya sendal jepit lebih praktis! Chip kuantum ini jagonya di soal-soal tertentu, tapi belum bisa gantikan GPU buat main game atau buka Instagram. Jadi, jangan buru-buru lempar graphics card-mu ke tong sampah.

Lalu ada bagian favorit saya: perbandingan dengan Amerika. Si China sibuk pamer motor balap yang sudah jalan, sementara CEO Nvidia, Jensen Huang, dengan santainya bilang, "Santai, bro, kuantum yang berguna masih lama." Tapi yang tidak disebutkan si Starboy: Amerika itu seperti tukang yang punya seribu proyek setengah jadi di garasi. Sementara China fokus bikin satu motor yang kinclong, Amerika sibuk utak-atik segala rupa—dari koreksi error sampai algoritma—yang ujung-ujungnya bikin kita bertanya: ini mereka bikin solusi atau sekadar cari masalah baru?

Pada akhirnya, postingan itu bukan cuma laporan teknologi, tapi bagian dari sinetron geopolitik. China ingin dilihat sebagai anak rajin yang sudah bisa bikin motor listrik sendiri, sambil sesekali menyindir, "Lihat tuh, yang di sebelah masih impor suku cadang!" Sementara Amerika, dengan gaya ala Steve Jobs, lebih suka bilang, "Tunggu produk kita rilis, ini akan mengubah dunia!"—sambil kita semua menunggu dengan sabar, atau mungkin sampai lupa.

Kesimpulannya? Lompatan China itu nyata, seperti mi instan yang katanya "lebih enak dari mi restoran". Tapi kita harus ingat: dalam perlombaan kuantum, yang menang bukan yang paling cepat teriak "hore!", tapi yang paling tahan banting sampai garis finish. Dan garis finish-nya? Mungkin masih sejuta PowerPoint presentation away.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.