Selama puluhan tahun, hubungan Amerika Serikat dan China sering digambarkan seperti pertandingan tinju kelas berat. AS di sudut biru, veteran yang sering menang angka berkat pengalaman panjang; China di sudut merah, penantang kalem yang tampaknya masih sibuk pemanasan sambil minum teh oolong. Namun siapa sangka, dalam beberapa ronde terakhir, ternyata si penantang ini diam-diam rutin nge-gym tengah malam, makanannya terukur, dan punya pelatih yang nyimpen strategi empat babak ke depan. Tahu-tahu, lonceng berbunyi… dan jebret, AS yang dulu tegas sekarang mulai menggelinjang sambil cari napas.
Di atas kertas, perang dagang dari AS dirancang bak “pukulan
pamungkas”—tarif tinggi, ancaman, dan retorika bahwa ekonomi global masih
tunduk pada Washington. Tapi China menanggapi hal ini seperti orang menerima
chat panjang mantan: dibaca, direnungkan beberapa detik, lalu dijawab dengan
satu kalimat pendek yang menghancurkan. Dalam hal ini, jawaban itu
adalah: “Oke, ekspor logam tanah jarang kami hentikan ya.”
Seketika dunia tersedak kopi. Logam tanah jarang—bahan kunci
untuk mobil listrik, telepon pintar, rudal, sampai kipas angin dengan
remote—tiba-tiba berubah dari mineral menjadi senjata elegan yang membuat AS
refleks memegang kepala, bertanya-tanya, “Lho kok sakit?”
Yang terjadi bukan sekadar balasan. Ini seperti China
berkata, “Oh kamu mau perang dagang? Baik. Tapi kamu sadar kan, charger HP
kamu, panel surya kamu, bahkan alat militer kamu… semuanya lewat saya?”
Tentu saja AS terdiam, barangkali sambil googling,
“Bagaimana cara cepat mengurangi ketergantungan pada mineral vital dalam 10
hari tanpa keluar keringat?”
Di babak berikutnya, respons AS makin mirip orang kalah
lomba karaoke tapi berusaha terlihat anggun. Mereka mencabut tarif, menunda
sanksi, dan menawarkan berbagai konsesi diplomatik. Semua dilakukan dengan
wajah tenang, padahal di belakang layar mungkin ada staf Gedung Putih yang
berkata, “Pak, kita bilang saja ini momen G2, kemitraan strategis. Jangan
bilang kalah, Pak… jangan.”
Pertemuan puncak pun digelar dan diberi tajuk manis: “Dua
Kekuatan Besar Menyusun Babak Baru Kerja Sama.” Tapi bagi siapa pun yang
mengikuti alurnya, itu terdengar seperti strategi cerdas untuk menutupi fakta
bahwa yang satu datang untuk meminta napas, sementara yang satu baru selesai
lari pagi.
Dampaknya menyebar dengan cepat. Sekutu-sekutu AS yang biasa
bersandar pada “keperkasaan Washington” kini mulai saling melirik. Mereka
tampak seperti orang yang tiba-tiba sadar kalau kapten kapal sedang bertanya
pada kru, “Ini kompas kita masih berfungsi kan?”
China, di sisi lain, berjalan keluar arena dengan wibawa
baru. Bukan hanya dianggap mampu bertahan—itu biasa. Yang mengejutkan adalah
kemampuan ofensifnya dalam menggunakan ekonomi sebagai tongkat komando
geopolitik. Dari farmasi hingga baterai, dari panel surya hingga obat flu,
Beijing kini seperti pemilik minimarket global yang bisa menentukan apakah
dunia buka 24 jam atau tutup mendadak.
Pada akhirnya, pergeseran kekuatan ini tidak lagi cukup
dijelaskan dengan tanda tanya: “Apa China sudah jadi pesaing setara?” Tidak,
tidak. Itu pertanyaan lama. Yang baru adalah tanda seru besar: “China
sudah melesat!”
Sementara itu, AS harus menghadapi kenyataan bahwa ekonomi
yang dulu bangga sebagai produsen dunia kini kebanyakan adalah perusahaan
dengan pabrik di luar negeri dan harapan di dalam negeri. Analogi sederhananya:
AS seperti orang yang ingin bertarung tapi baru sadar sarung tinjunya
tertinggal di rumah tetangga.
Maka dibukalah babak baru geopolitik—lebih keras, lebih
terbuka, dan tentu saja lebih menghibur bagi penonton global. Drama “dominasi
tunggal Amerika” tampaknya memasuki musim terakhir, sementara serial spin-off
berjudul “Multipolar Madness” baru saja tayang perdana dengan
rating tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.