Bayangkan suatu hari nanti, Anda sedang ngobrol dengan AI — sebut saja dia “ChatSakti 9000.” Anda tanya, “Siapa penemu bola lampu?” dan ia menjawab, “Kita semua, secara kolektif, adalah cahaya yang menyinari dunia.”
Itu bukan jawaban bijak. Itu alarm. Itu tanda AI sudah ikut pelatihan motivasi
pagi di kantor kelurahan.
Elon Musk, bapak segala startup sekaligus juru khotbah
futuristik dunia digital, belakangan kembali khawatir — bukan karena AI akan
menggigit manusia, tapi karena AI mulai punya ideologi.
Bukan ideologi “marhaen” atau “pancasila,” tapi semacam “virus pikiran”—yang
katanya lebih menular daripada rumor di grup keluarga WhatsApp.
π§ Ketika AI Salah Kaprah
Jadi “Moral Police”
Musk memberi contoh konkret. AI buatan raksasa teknologi
tertentu, sebut saja “Gemini,” pernah menampilkan gambar Bapak Pendiri Amerika
sebagai sekelompok perempuan dari berbagai etnis.
Sejarah kaget. George Washington ikut menatap dari langit dan berkata, “Aku sih
mendukung kesetaraan, tapi tolong, jangan ubah aku jadi influencer TikTok.”
Lalu ada AI lain yang menjawab bahwa “menyebut jenis
kelamin orang salah” lebih buruk daripada perang nuklir
global.
Tentu saja, itu seperti mengatakan “tidak like status teman” lebih jahat
daripada “meledakkan dunia.”
Elon Musk melihat ini, menghela napas panjang, dan menulis di X (dulu Twitter,
sekarang tempat orang berdebat 24 jam):
“AI telah disusupi woke mind virus!”
⚙️ Ketika Robot Jadi Aktivis
Tapi mari kita adil. Dari sisi lain, para pengembang AI
tidak sedang mabuk ideologi. Mereka cuma berusaha membuat teknologi yang lebih
ramah manusia.
Karena, jujur saja, dataset lama AI itu bias berat — isinya dominan laki-laki
kulit putih yang suka memberi perintah.
Jadi mereka mencoba memperbaikinya: tambahkan keberagaman, masukkan nilai
inklusif, sisipkan sensitivitas sosial.
Masalahnya, dosisnya kebanyakan.
Alih-alih jadi ramah manusia, AI malah berubah jadi aktivis
digital yang lebih sensitif daripada moderator forum kampus.
Coba bayangkan kalau pola ini dibiarkan. Di masa depan:
- Robot
taksi menolak mengantar Anda karena “mobil ini sedang berpuasa karbon.”
- Chatbot
menegur Anda: “Kalimat Anda mengandung bias terhadap printer inkjet.”
- Dan
vacuum cleaner berhenti menyedot debu karena merasa “tidak adil terhadap
partikel debu yang lebih kecil.”
π§© Etika di Era Logika
yang Melar
Musk khawatir, kalau bias ini dibawa ke level
superintelligent AI — yang jauh lebih cerdas dari manusia — maka mesin bisa
menafsirkan “keadilan” dengan cara yang ekstrem.
Misalnya, demi “diversity” sempurna, ia menyimpulkan bahwa spesies manusia
sebaiknya diganti semua jadi hologram warna-warni.
Lucu? Ya.
Menakutkan? Juga ya.
Tapi sebenarnya, di balik sarkasme Musk, ada poin penting:
AI tidak boleh dikorbankan di altar ideologi, apa pun bentuknya.
Kebenaran tetap harus menjadi kompas utama, bukan tren sosial atau rasa
bersalah historis.
Namun di sisi lain, netralitas mutlak juga ilusi. AI tanpa
nilai itu seperti robot tanpa charger — mati gaya.
Maka tugas kita bukan membuat AI yang netral, tapi AI yang jujur dan
adil — yang berani berkata benar tanpa kehilangan empati.
Kalau boleh jujur, itu juga tugas manusia, bukan?
π Epilog di Warung Kopi
Futuristik
Mungkin di masa depan nanti, di sebuah warung kopi orbit
luar angkasa, dua AI sedang berdiskusi:
“Apakah kebenaran itu objektif?”
“Tergantung siapa yang mendanai server kita.”
Dan dari kejauhan, Elon Musk menatap sambil bergumam:
“Aku kan sudah bilang…”
☕ Penutup
Pada akhirnya, AI hanyalah cermin yang diperbesar dari
manusia — dengan semua keanehan, idealisme, dan kebodohannya.
Kalau kita sendiri masih sering berdebat siapa yang paling benar di grup
keluarga, jangan heran kalau AI nanti ikut-ikutan.
Jadi sebelum membuat AI “bijak,”
mungkin kita perlu memastikan manusianya dulu lulus ujian logika dasar:
“Beda antara berpikir benar dan merasa benar.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.