Ada banyak cara untuk memenangkan pemilu di Amerika Serikat:
berkampanye habis-habisan, menghabiskan jutaan dolar untuk iklan TV, atau...
cukup menghitung orang yang bahkan tidak boleh memilih.
Ya, selamat datang di dunia apportionment,
sistem yang begitu rumit hingga bahkan para politisi tampak kebingungan
menjelaskannya — padahal di balik semua angka dan peta distrik itu, tersimpan
pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya duduk di kursi kekuasaan,
dan siapa yang hanya dihitung demi kursi itu?
Sensus: Acara Tahunan yang Menentukan Takdir (dan Dana
Federal)
Konstitusi AS dengan sangat demokratis memerintahkan agar
“setiap orang” dihitung dalam sensus — tidak peduli apakah dia warga negara,
turis yang lupa pulang, atau imigran yang menyelinap lewat pagar belakang
Texas.
Hasilnya, negara bagian seperti California, Texas, dan
Florida jadi seperti restoran all-you-can-count — semua orang dihitung, semua
dapat bonus kursi Kongres dan dana federal.
Sementara negara-negara bagian konservatif seperti Alabama dan Tennessee cuma
bisa berkata, “Kami juga mau, tapi kami tak punya cukup orang untuk dihitung!”
Angka-Angka yang Menari di Twitter
Masuklah Elon Musk dan Torsten Prochnow — dua komentator
dunia maya yang mengubah statistik jadi drama politik.
Musk, yang biasanya sibuk meluncurkan roket dan mobil listrik, kali ini
meluncurkan teori elektoral supersonik: katanya Partai Demokrat
“mencuri” puluhan kursi lewat imigran ilegal.
Masalahnya, angka yang ia sebut (40 juta!) lebih cocok jadi
data jumlah pengikutnya di X daripada data sensus resmi.
Lembaga riset yang lebih tenang — semacam Pew Research dan FAIR — menyebut
jumlahnya hanya sekitar 14–16 juta. Tapi, tentu saja, “16 juta imigran ilegal”
tak akan seviral “40 juta alien politik yang mencuri kursi Kongres”.
Kursi yang Bergerak Sendiri
Sensus 2020 menunjukkan bahwa penghitungan imigran (ilegal
maupun legal) memang punya efek domino kecil tapi nyata: beberapa kursi
berpindah tangan ke negara bagian dengan populasi tinggi.
California bisa dapat bonus 5 kursi, Texas 3 kursi, dan Florida 2 kursi.
Itu artinya, beberapa kursi di Kongres mungkin secara tidak
langsung “diduduki” oleh mereka yang bahkan tidak bisa memilih.
Ironis? Ya. Tapi juga sangat Amerika — negara yang bisa membuat film pahlawan
super dari konsep yang bahkan hukum belum sempat mengatur.
Electoral College: Tempat Di Mana Matematika Bertemu
Mistisisme
Ketika kursi berpindah, suara elektoral ikut berubah. Dalam
pemilu ketat, 10 suara bisa berarti perbedaan antara “Mr. President” dan “Mr.
Please Concede”.
Jadi, meskipun klaim “50 kursi curang” jelas hiperbola, dampak 10–15 kursi
tetap cukup untuk membuat kedua partai saling tuding sambil berkata, “Bukan
salah kami, itu salah sensus!”
Dari Isu Kemanusiaan ke Komedi Kekuasaan
Alih-alih membahas nasib manusia di perbatasan, debat ini
berubah jadi ajang perebutan kursi — bukan kursi untuk duduk bersama mencari
solusi, tapi kursi yang empuk di Capitol Hill.
Kaum konservatif menyerukan reformasi sensus, kaum liberal
menyerukan empati, dan rakyat biasa menyerukan… tolong jangan naikkan
pajak kami.
Dan di tengah semua itu, para imigran ilegal mungkin sedang berpikir:
“Kami datang untuk mencari pekerjaan, tapi ternyata kami
malah jadi bahan debat politik nasional. Gratis pula!”
Kesimpulan yang Tak Berkursi
Pada akhirnya, dampak imigrasi ilegal terhadap sistem
politik Amerika memang nyata — tapi tidak se-dramatis film fiksi sains.
Partai Demokrat mungkin mendapat bonus kursi, tapi bukan melalui konspirasi
jahat; melainkan melalui sistem yang, entah bagaimana, sudah memutuskan bahwa
menghitung semua orang lebih penting daripada menanyakan siapa yang bisa
memilih.
Jadi, lain kali jika seseorang mengeluh soal imigran yang
“mencuri kursi,” mungkin jawab saja:
“Santai saja, kursinya masih banyak. Yang sulit itu,
menemukan politisi yang benar-benar mau duduk untuk bekerja.”
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.