Konon di suatu pagi cerah, malaikat shift pagi di langit
pertama mengeluh.“Wahai Jibril, hari ini antrean amal lagi panjang! Banyak yang bersinar, tapi
baunya… gosip!”
Rupanya, banyak amal yang datang dari bumi dengan wajah sumringah tapi
membawa caption: “Lihat, aku sudah sedekah nih, guys,
jangan lupa like dan share biar berkah viralnya!”
Maka malaikat pun menolak dengan sopan tapi tegas, seperti
penjaga gerbang mal saat kita lupa bawa tiket parkir. Amal itu pun turun
kembali ke bumi, tertiup angin komentar netizen: “MasyaAllah
tabarakallah tapi kok sambil selfie, ya?”
Langit Kedua: Amarah dan Amal yang Overheating
Amal lain mencoba naik. Ia tampak gagah, membawa sertifikat
“Salat Tepat Waktu 5 Tahun Berturut-turut”. Tapi baru sampai langit kedua,
alarm spiritual berbunyi:
“Ding-ding! Ditemukan unsur panas berlebih akibat pemiliknya sering marah di
jalan!”
Benar saja — di setiap perjalanan menuju masjid, ia sempat membunyikan klakson
panjang sambil berseru lirih: “Astaghfirullah, dasar pengendara bodoh!”
Amalnya pun tertolak karena ternyata hatinya ikut overheating.
Malaikat mencatat: ‘Ibadah bagus, tapi pendingin emosi rusak total.’
Langit Ketiga: Zona Eksklusif Anti-Sombong
Di sinilah tragedi spiritual mulai terasa komedi. Banyak
amal datang dengan kostum kemewahan batin: ada yang bersinar karena hafalannya,
ada yang melayang karena zakatnya. Tapi begitu dicek, setiap amal punya embel-embel:
“Aku lebih baik dari mereka.”
Malaikat penjaga pun hanya geleng-geleng:
“Masuk daftar penundaan, nih. Silakan perbaiki versi beta-nya — versi tawaduk
belum diunggah.”
Betapa miripnya amal kita dengan software update —
banyak fitur baru, tapi sering bug di bagian niat.
Langit Keempat hingga Keenam: Ujub, Dengki, dan Drama
Hati
Di langit keempat, malaikat menemukan amal yang sangat indah
— sampai-sampai malaikat sendiri hampir klik “approve”. Tapi tiba-tiba muncul
pop-up:
“Pemilik amal sempat berkata di dalam hati: ‘Aku memang
paling ikhlas.’”
Gagal total. Amal pun jatuh kembali ke bumi, menabrak ego yang belum sempat
tobat.
Di langit kelima, malaikat mendeteksi dengki tersembunyi.
Amal itu tampak tenang, tapi aura hatinya berwarna hijau pekat, tanda iri
terhadap keberhasilan orang lain.
Malaikat pun mencatat: “Dengki detected. Amal ditolak demi kesehatan spiritual
semesta.”
Sampai akhirnya di langit keenam, riya’ menjadi penjagal
amal paling elegan. Amal yang satu ini tampil seperti selebriti: penuh cahaya,
harum semerbak, tapi... terlalu sadar kamera.
Malaikat pun menegur lembut,
“Tuan amal, Anda ini tampan tapi terlalu narsis. Yang Anda
pandang bukan Allah, tapi followers.”
Langit Ketujuh: Surga bagi Amal yang Tidak Pamer
Barulah ketika amal kecil datang — berupa doa sunyi dari
seorang ibu, atau sedekah diam-diam di malam gelap — semua malaikat tersenyum.
Tak ada tagar, tak ada testimoni.
Ia menembus langit seperti cahaya lilin yang tak berisik, dan Allah menerimanya
dengan kasih sayang.
Betapa ironis: amal yang paling tidak ingin terlihat, justru
paling bercahaya di mata Ilahi.
Refleksi Hati
Kalau dipikir-pikir, perjalanan amal ini seperti
audisi reality show rohani. Banyak peserta gugur bukan karena
salah bacaan, tapi karena terlalu sibuk memastikan kamera fokus pada wajah
mereka.
Sementara pemenangnya justru yang duduk di sudut, tersenyum tanpa berkata
apa-apa, dan tetap melanjutkan amal meski tak ada yang menonton.
Dalam dunia penuh “filter” dan “engagement rate”,
mungkin ikhlas adalah algoritma terakhir yang tidak bisa
dimanipulasi. Ia tak butuh like, tak butuh views — hanya butuh hati yang bersih
dan niat yang jernih.
Jadi, jika suatu hari amal kita tersangkut di langit
pertama, jangan buru-buru menyalahkan malaikat. Barangkali, yang perlu
diperbaiki bukan cara kita beribadah, tapi cara kita menyimpan kamera
di hati.
abah-arul.blogspot.com., November 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.