Selama puluhan tahun, pembicaraan soal iklim mirip seminar motivasi yang terlalu sering: penuh jargon, penuh grafik, dan penuh janji yang seringnya berakhir jadi poster Instagram. Untungnya, COP30 di Belém, Brasil, tahun 2025, membawa angin segar—atau tepatnya angin lembap khas Amazon yang aromanya mengingatkan kita bahwa bumi sedang panas bukan karena drama politik, tapi karena… ya memang panas beneran.
Untuk pertama kalinya, masyarakat adat tidak hanya dijadikan
pajangan eksotis di pojok paviliun dengan kalimat standar: “Mereka yang
paling terdampak.” Kali ini mereka diundang masuk ke ruang negosiasi,
dikasih kursi, dikasih mic, dan—wow—ternyata kalau mereka bicara, semua orang
malah bengong sambil mikir, “Kenapa dari dulu nggak mereka aja yang mimpin?”
Dari Tamu Undangan ke Co-Host: Upgrade Langka di Dunia
COP
Biasanya, peran masyarakat adat dalam konferensi iklim mirip
cameo film Marvel: penting, tapi durasinya cuma 30 detik. Namun di COP30,
sekitar 3.000 orang adat hadir dan 1.000 di antaranya masuk ke ruang resmi. Itu
setara dengan naik kelas dari VIP Pass ke Backstage
All-Access.
Inisiatif Círculo dos Povos juga membuat
mereka bukan hanya “didengar,” tapi diundang untuk “memimpin.” Bayangkan:
selama ini sains bilang 36% hutan alami dunia ada di wilayah adat—artinya
penjaga hutan paling efektif di planet ini ternyata bukan pemerintah, bukan
perusahaan energi hijau, bukan influencer pecinta alam, tapi orang-orang yang
sejak dulu tinggal di situ, merawat tanahnya, dan tidak pernah jualan “tanaman
hias rare” di marketplace.
Dan Brasil pun mengumumkan pengakuan sepuluh wilayah adat
baru. Ini seperti pemerintah akhirnya ngeh bahwa “tolong jangan ditebang” itu
bukan sekadar request manis, tapi strategi iklim.
Penjaga Bumi: Pahlawan Tanpa Cape, Tapi Punya Pengetahuan
Ribuan Tahun
Amazon sedang mendekati tipping point—fase di
mana hutan bisa berubah jadi sabana kering, alias versi Amazon tanpa air, tanpa
oksigen maksimal, dan tanpa masa depan. Di tengah ancaman itu, masyarakat adat
tampil seperti tim superhero yang sebenarnya sudah ada sejak sebelum konsep
superhero ditemukan.
Para pemimpin adat seperti Chief Raoni Metuktire dan Dinamam
Tuxá menyampaikan pesan sederhana: “Kami bukan sekadar korban—kami
pemimpin!” Dan jujur saja, melihat rekam jejak mereka, sulit untuk
membantah. Pengetahuan ekologis mereka sudah ada jauh sebelum istilah “reduksi
emisi” ditemukan ilmuwan yang hobi pakai jas lab.
Optimisme vs Ironi: Drama Lama COP
Namun, tentu saja, tidak ada konferensi akbar tanpa plot
twist. Pembangunan fasilitas untuk menyambut COP30 justru ikut menebangi hutan.
Ini seperti mengadakan seminar tentang diet sehat di restoran all-you-can-eat:
niatnya mulia, eksekusinya… yah, butuh revisi.
Brasil mungkin mengakui sepuluh wilayah adat baru, tapi
ratusan lainnya masih antri seperti pelanggan di loket pelayanan publik yang
hanya buka satu jam sehari.
Sementara itu, para perusak hutan tetap rajin bekerja,
seolah mereka yakin COP itu singkatan dari “Cukup Orang Protes”.
Kesimpulan: Ketika Kebijaksanaan Lama Akhirnya Dianggap
Keren
COP30 adalah momen bersejarah ketika dunia akhirnya mengakui
bahwa solusi iklim tidak selalu terletak pada teknologi futuristik, aplikasi
canggih, atau perangkat sensor 7 juta rupiah. Kadang jawabannya ada pada
orang-orang yang selama ini tinggal berdampingan dengan alam, tanpa drama,
tanpa jargon, dan tanpa harus bikin keynote presentation.
Artikel Evelyn Smail mengingatkan kita bahwa masa depan
iklim yang adil tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari pengakuan
sederhana: dunia butuh kepemimpinan masyarakat adat—bukan sebagai ikon,
tetapi sebagai pengarah jalan.
Karena kalau bumi ini ingin tetap sejuk, hijau, dan tidak
berubah menjadi sauna global, maka suara paling bijaksana memang datang dari
mereka yang sejak awal menjaga hutan tanpa pernah menagih ucapan terima kasih.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.