Rabu, 26 November 2025

COP30: Ketika Para Penjaga Hutan Akhirnya Dikasih Mic dan Semua Orang Baru Sadar, “Oh, Mereka Emang Jago!”

Selama puluhan tahun, pembicaraan soal iklim mirip seminar motivasi yang terlalu sering: penuh jargon, penuh grafik, dan penuh janji yang seringnya berakhir jadi poster Instagram. Untungnya, COP30 di Belém, Brasil, tahun 2025, membawa angin segar—atau tepatnya angin lembap khas Amazon yang aromanya mengingatkan kita bahwa bumi sedang panas bukan karena drama politik, tapi karena… ya memang panas beneran.

Untuk pertama kalinya, masyarakat adat tidak hanya dijadikan pajangan eksotis di pojok paviliun dengan kalimat standar: “Mereka yang paling terdampak.” Kali ini mereka diundang masuk ke ruang negosiasi, dikasih kursi, dikasih mic, dan—wow—ternyata kalau mereka bicara, semua orang malah bengong sambil mikir, “Kenapa dari dulu nggak mereka aja yang mimpin?”

Dari Tamu Undangan ke Co-Host: Upgrade Langka di Dunia COP

Biasanya, peran masyarakat adat dalam konferensi iklim mirip cameo film Marvel: penting, tapi durasinya cuma 30 detik. Namun di COP30, sekitar 3.000 orang adat hadir dan 1.000 di antaranya masuk ke ruang resmi. Itu setara dengan naik kelas dari VIP Pass ke Backstage All-Access.

Inisiatif Círculo dos Povos juga membuat mereka bukan hanya “didengar,” tapi diundang untuk “memimpin.” Bayangkan: selama ini sains bilang 36% hutan alami dunia ada di wilayah adat—artinya penjaga hutan paling efektif di planet ini ternyata bukan pemerintah, bukan perusahaan energi hijau, bukan influencer pecinta alam, tapi orang-orang yang sejak dulu tinggal di situ, merawat tanahnya, dan tidak pernah jualan “tanaman hias rare” di marketplace.

Dan Brasil pun mengumumkan pengakuan sepuluh wilayah adat baru. Ini seperti pemerintah akhirnya ngeh bahwa “tolong jangan ditebang” itu bukan sekadar request manis, tapi strategi iklim.

Penjaga Bumi: Pahlawan Tanpa Cape, Tapi Punya Pengetahuan Ribuan Tahun

Amazon sedang mendekati tipping point—fase di mana hutan bisa berubah jadi sabana kering, alias versi Amazon tanpa air, tanpa oksigen maksimal, dan tanpa masa depan. Di tengah ancaman itu, masyarakat adat tampil seperti tim superhero yang sebenarnya sudah ada sejak sebelum konsep superhero ditemukan.

Para pemimpin adat seperti Chief Raoni Metuktire dan Dinamam Tuxá menyampaikan pesan sederhana: “Kami bukan sekadar korban—kami pemimpin!” Dan jujur saja, melihat rekam jejak mereka, sulit untuk membantah. Pengetahuan ekologis mereka sudah ada jauh sebelum istilah “reduksi emisi” ditemukan ilmuwan yang hobi pakai jas lab.

Optimisme vs Ironi: Drama Lama COP

Namun, tentu saja, tidak ada konferensi akbar tanpa plot twist. Pembangunan fasilitas untuk menyambut COP30 justru ikut menebangi hutan. Ini seperti mengadakan seminar tentang diet sehat di restoran all-you-can-eat: niatnya mulia, eksekusinya… yah, butuh revisi.

Brasil mungkin mengakui sepuluh wilayah adat baru, tapi ratusan lainnya masih antri seperti pelanggan di loket pelayanan publik yang hanya buka satu jam sehari.

Sementara itu, para perusak hutan tetap rajin bekerja, seolah mereka yakin COP itu singkatan dari “Cukup Orang Protes”.

Kesimpulan: Ketika Kebijaksanaan Lama Akhirnya Dianggap Keren

COP30 adalah momen bersejarah ketika dunia akhirnya mengakui bahwa solusi iklim tidak selalu terletak pada teknologi futuristik, aplikasi canggih, atau perangkat sensor 7 juta rupiah. Kadang jawabannya ada pada orang-orang yang selama ini tinggal berdampingan dengan alam, tanpa drama, tanpa jargon, dan tanpa harus bikin keynote presentation.

Artikel Evelyn Smail mengingatkan kita bahwa masa depan iklim yang adil tidak lahir dari pidato panjang, tetapi dari pengakuan sederhana: dunia butuh kepemimpinan masyarakat adat—bukan sebagai ikon, tetapi sebagai pengarah jalan.

Karena kalau bumi ini ingin tetap sejuk, hijau, dan tidak berubah menjadi sauna global, maka suara paling bijaksana memang datang dari mereka yang sejak awal menjaga hutan tanpa pernah menagih ucapan terima kasih.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.