Pada akhir tahun 2025, dunia maya mendadak biru. Bukan karena sedih, tapi karena sebuah postingan viral bertema “Energi Biru” — lengkap dengan emoji air π§⚡ dan klaim dahsyat:
“Jepang temukan listrik abadi dari air laut dan air tawar!
Tanpa angin! Tanpa matahari! Tanpa batas!”
Ribuan warganet pun terpana. Ada yang langsung komentar,
“Wah, akhirnya gratis listrik selamanya!” Ada pula yang berjanji akan berhenti
bayar PLN mulai bulan depan (dan mungkin segera menyesalinya).
Padahal, kalau postingan itu dianalogikan sebagai iklan obat
herbal, maka tulisan kecil di bawahnya berbunyi: “hasil dapat
berbeda-beda tergantung keadaan sains dan kantong riset.”
π‘ Dari “Air Campur Garam”
ke Sains yang Tak Sesimpel Itu
Secara ilmiah, energi biru memang bukan tipuan. Konsepnya
elegan — semacam kencan kimiawi antara air laut dan air tawar. Ketika keduanya
bertemu di balik membran khusus, ion-ion garam bergerak, menciptakan arus
listrik. Prinsip ini disebut Reverse Electrodialysis (RED), alias
cara pintar memanfaatkan “drama salinitas” untuk menyalakan lampu.
Ibaratnya, air laut itu si garam yang terlalu banyak omong,
sedangkan air tawar itu pendengar yang sabar. Pertemuan mereka menghasilkan
percikan — bukan cinta, tapi listrik.
Masalahnya, sama seperti hubungan jarak jauh, teknologi ini
manis di teori, tapi mahal di praktik. Membrannya rentan mampet oleh
mikroorganisme, mahal diproduksi, dan lebih sering buntu daripada jaringan
Wi-Fi di acara nikahan.
π³π΄ Norwegia:
Kisah Cinta yang Gagal dengan Air Garam
Norwegia pernah menjadi pelopor kisah cinta osmotik. Pada
tahun 2009, mereka membangun pembangkit listrik dari pertemuan air laut dan
sungai di Tofte. Dunia sains bersorak. Namun, empat tahun kemudian, proyek itu
mati suri — seperti drama Netflix yang tak diperpanjang karena rating jeblok.
Alasannya klasik: biaya tinggi, efisiensi rendah, dan
membran yang lebih rapuh daripada janji politikus. Pada akhirnya, energi
osmotik di Norwegia pun tersapu ombak, meninggalkan pelajaran mahal: bahwa
“konsep cemerlang” tak selalu cocok dengan “tagihan listrik bulanan.”
π―π΅ Jepang:
Mencoba Lagi, dengan Modal Kesabaran dan R&D
Lompat ke 2025, Jepang mencoba bangkit dengan pembangkit
osmotik di Fukuoka. Kali ini mereka lebih berhati-hati, tak pakai klaim
bombastis. Tapi warganet global tetap yang paling kreatif. Satu foto pipa air
bercampur garam langsung disulap jadi meme:
“Air laut + air tawar = Powerbank alam semesta.”
Sementara para insinyur di Fukuoka masih sibuk mengganti
membran yang tersumbat, dunia maya sudah sibuk menghitung berapa hari lagi
mereka bisa berhenti bayar listrik.
π Indonesia: Negeri
Seribu Muara, tapi Nol Megawatt
Di atas kertas, Indonesia adalah surga energi biru. Ada
ribuan sungai yang bermuara ke laut — Kapuas, Mahakam, Musi — semuanya siap
“berkolaborasi kimia.” Potensinya disebut bisa mencapai belasan gigawatt, cukup
buat menyalakan seluruh negeri, plus karaoke RT sebelah.
Namun hingga akhir 2025, jumlah pembangkit osmotic di
Indonesia masih sama dengan jumlah kucing yang punya SIM: nol.
Penyebabnya? Ya, klasik lagi: biaya, birokrasi, dan
kurangnya minat investor yang lebih tertarik pada proyek surya dan panas bumi
yang sudah terbukti bisa balik modal sebelum pensiun.
⚙️ Harapan, Ironi, dan Masa Depan
yang Masih Menetes
Energi biru memang indah — seperti puisi tentang laut dan
sungai yang berdansa menghasilkan listrik. Tapi untuk saat ini, tarian itu
masih butuh banyak latihan. Kita masih menunggu “membran ajaib” yang tahan
lama, murah, dan tidak tersumbat oleh kehidupan laut yang terlalu sosial.
Namun, jangan salah: hype viral semacam itu tetap punya
nilai. Ia membuat publik peduli pada sains, walau dengan cara yang sedikit
berlebihan. Kalau bukan karena video dengan emoji ⚡π¦
itu, mungkin tak ada yang tahu bahwa “air asin” bisa jadi bahan kuliah elektro.
π Epilog: Dari Viral ke
Vital
Energi biru adalah simbol harapan — bahwa bahkan perbedaan
(antara asin dan tawar) bisa menghasilkan tenaga. Tapi harapan tanpa riset
ibarat powerbank tanpa kabel: penuh potensi, tapi tak berguna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.