Pernahkah Anda merasa hidup ini seperti ikut lomba lari tanpa tahu garis finisnya di mana? Sementara yang lain tampak berlari pakai sepatu ultracepat, kita masih sibuk mencari sandal jepit sebelah kiri. Nah, di tengah hiruk-pikuk zaman “kerja keras, tapi tetap miskin sinyal”, muncul satu nasihat sederhana tapi menohok: tenanglah. Karena ternyata, tidak semua yang cepat itu selamat, dan tidak semua yang santai itu tertinggal.
Video “Hidup Tenang dan Damai” dari sebuah kanal nasihat
terkenal mengajak kita menengok kembali makna kebahagiaan sejati. Tapi bukan
lewat seminar motivasi berbayar atau kutipan berbahasa Inggris di Instagram —
melainkan lewat sosok petani. Ya, petani: makhluk suci yang hidup
damai tanpa perlu tahu harga saham naik atau turun, dan tetap bisa tidur
nyenyak meski sinyal 4G-nya cuma muncul kalau manjat pohon kelapa.
Dikisahkan si petani hidup di tengah sawah, ditemani angin
sepoi dan suara jangkrik yang setia bersenandung tiap malam. Sarapannya cabai
dan ikan hasil tangkapan sendiri, minumnya air kendi — yang entah kenapa,
selalu lebih sejuk daripada air galon merek apa pun. Hidupnya sederhana, tapi
hatinya luas. Tidak perlu liburan ke Bali untuk merasa damai; cukup menatap
padi menguning sambil bersyukur, “Alhamdulillah, panen lagi.”
Bandingkan dengan “manusia kota”. Mereka hidup di hutan
beton, tapi pikirannya malah jadi hutan bayangan. Otak mereka seperti pabrik
tanpa jam istirahat, memproduksi keinginan, ambisi, dan kekhawatiran dalam
shift bergantian. Hasil produksinya bukan uang, tapi overthinking.
Mereka kerja siang malam, jungkir balik, kadang nyungsep, semua demi mengejar
sesuatu yang—ironisnya—semakin dikejar malah semakin kabur. Lalu suatu hari
ajal datang menepuk bahu sambil berkata, “Udahan dulu, bro.” Dan semua yang
dikumpulkan pun berakhir di lembar warisan, bukan ketenangan.
Padahal inti dari semua nasihat itu sederhana: hidup
tenang bukan tentang punya segalanya, tapi cukup dengan yang ada. Bahasa
kerennya: qana’ah. Bahasa warung kopinya: “nggak usah maksa, yang
penting cukup buat beli gorengan.”
Tentu, ini bukan ajakan untuk rebahan sepanjang hari sambil
berkata, “biar rezeki yang mencari kita.” Tidak. Kesederhanaan bukan kemalasan
berlabel spiritual, tapi kerja dengan hati yang tenang dan pikiran yang pasrah.
Karena kalau hati tenang, tangan juga tidak gemetaran waktu menakar garam di
dapur — dan tindakan pun ikut stabil.
Di era di mana orang sibuk membandingkan isi keranjang
belanja online, nasihat semacam ini terasa seperti semangkuk es kelapa muda di
tengah gurun. Kita jadi ingat bahwa damai itu bukan sesuatu yang bisa dikirim
lewat kurir, tapi tumbuh dari dalam hati yang tahu kapan harus berhenti
mengejar.
Memang, gambaran petani yang tenang mungkin agak ideal. Di
dunia nyata, banyak petani yang juga pusing mikirin pupuk, bukan cuma padi.
Tapi pesannya tetap ampuh: kedamaian bukan hasil keadaan, tapi hasil
kesadaran.
Jadi, kalau hidup terasa berat dan pikiran terus berisik,
coba berhenti sebentar. Tutup pabrik bayangan di kepala, buka jendela, hirup
udara, dan bisikkan pada diri sendiri:
“Hidup ini bukan lomba siapa paling cepat kaya, tapi siapa
paling tenang saat hujan datang.”
Dan siapa tahu, dengan cara itu, kita bisa jadi “petani
batin” yang menanam benih syukur di ladang hati — dan memanen kedamaian yang
tidak tergantung cuaca ekonomi. 🌿
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.