Di dunia pertanian, perang antara manusia dan hama sebenarnya sudah berlangsung lebih lama daripada sinetron Tersanjung. Bedanya, kalau sinetron itu akhirnya tamat, hama tidak pernah mau akur. Mereka tetap datang, menyerang, makan daun seenaknya, lalu kabur tanpa bayar parkir. Maka muncullah pestisida—senjata kimiawi manusia modern—yang dalam imajinasi kita mirip pembersih kamar mandi versi Hulk.
Namun, ternyata pestisida punya ragam jurus yang lebih rumit
dari jurus silat Wiro Sableng.
1. Pestisida: Dari “Sentuh Mati” sampai “Gas Pembasmi
Kejulidan”
Pertama-tama ada pestisida kontak, yang prinsip
kerjanya sederhana: sentuh–mati. Bila hama kena setitik, tamatlah
riwayatnya. Konsepnya sama seperti sandal para ibu ketika melihat kecoa: tidak
perlu teori, langsung diselesaikan di tempat.
Lalu ada pestisida lambung. Cara ini cocok untuk
hama doyan ngemil. Mereka makan daun yang sudah disemprot, lalu perutnya protes
dan… ya, Anda tahu kelanjutannya. Ini seperti karma bagi orang yang tidak
membaca label “pedas level 5” tapi nekat makan.
Jenis berikutnya: sistemik. Ini lebih
canggih—tanaman menyerap racun, lalu mengedarkannya ke seluruh tubuhnya. Jadi
ketika hama menyedot cairan tanaman, mereka seperti meminum es teh manis yang
ternyata diisi micin level dewa.
Adapun pestisida fumigan, alias “gas pembasmi
kejulidan hama”. Dipakai di dalam ruang tertutup, efeknya dahsyat. Kalau ada
versi untuk grup WhatsApp keluarga, mungkin hidup akan lebih tenang.
Terakhir, repelen, yang tidak membunuh, hanya
mengusir. Konsepnya seperti aroma minyak angin bagi orang yang sedang masuk
angin: orang lain menjauh bukan karena marah, tapi karena silau dengan
aromanya.
2. Minyak Neem: Pahlawan Super dari Pohon Mimba
Tepat ketika kita mulai merasa semua pestisida itu terlalu
dramatis, muncullah minyak neem, pahlawan super alami yang tidak
pakai jubah— hanya bau khas yang membuat hama berkata, “Terima kasih, tapi saya
pulang saja.”
Bahan aktifnya, azadirachtin, bekerja seperti
teman toxic: bikin hama tidak nafsu makan, bikin masa depannya hancur, dan
menghancurkan seluruh rencana perkembangan diri mereka. Larva yang sedang
bermimpi menjadi ngengat dewasa mendadak mental breakdown dan
gagal metamorfosis.
Neem juga menurunkan fertilitas serangga. Alias: program KB
versi alam. Semut dan ulat pun auto gagal punya keturunan tanpa sidang isbat.
Kelebihan lainnya?
- Ramah
lingkungan
- Tidak
berbahaya buat lebah
- Tidak
bikin petani pusing tujuh keliling
- Limbahnya
bisa jadi pupuk
Dalam dunia pestisida, minyak neem ini ibarat guru ngaji:
lembut, tapi tegas menghentikan maksiat para hama.
3. Cara Pakai: Jangan Disemprot Pas Jam Panas!
Petani disarankan menyemprot neem di pagi hari atau sore,
karena kalau di tengah hari bolong, matahari akan menguraikan neem lebih cepat
daripada netizen mengurai gosip.
Dan jangan lupa semprot bagian bawah daun. Banyak hama
bersembunyi di sana sambil nonton tiktoks hama lain.
4. Sains Pun Mendukung
Penelitian modern bilang: neem itu bukan sekadar ramuan
nenek moyang. Bahkan peneliti Texas A&M sekarang sedang membuat nanopestisida
neem—versi kecil, lincah, dan lebih hemat. Kalau nanti ada versi neem 5G,
hama mungkin otomatis uninstall diri sendiri.
Penutup: Kalau Bisa Lembut, Kenapa Harus Sangar?
Di antara semua pestisida yang bekerja seperti pasukan
kopassus, minyak neem hadir sebagai pendekatan “damai tapi efektif”. Ia tidak
merusak lingkungan, tidak menyakiti hewan baik-baik, tapi tetap berhasil
menertibkan para pelaku pengunyahan daun.
Dalam dunia yang semakin sadar lingkungan, mungkin sudah
waktunya kita bilang:
“Hama boleh cerdik, tapi neem selalu lebih elegan.”
Jika perang melawan hama bisa dimenangkan dengan cara ramah,
kenapa harus memilih yang keras? Lagipula, sudah cukup banyak drama dalam hidup
ini—tidak perlu menambah drama kimia di ladang.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.