Jumat, 14 November 2025

Alam Rohani dan Drama Kehidupan: Panduan Bercocok Tanam di Ladang Batin

Di zaman ketika notifikasi ponsel lebih sering datang daripada rasa tobat, ajakan untuk menyelami alam rohani terdengar seperti promo detoks digital yang agak mistis. Padahal, yang dimaksud dengan “alam rohani” ini bukanlah dunia gaib penuh makhluk berkostum efek spesial, melainkan ruang batin yang sering kita tinggal seperti gudang rumah—penuh debu, barang lama, dan sesekali ada kecoa eksistensial lewat.

Menurut ceramah yang dibahas, ternyata manusia punya dua set indera: yang satu bisa melihat bola lampu menyala, yang satu lagi bisa melihat kenapa kita masih gelisah padahal tagihan listrik baru dibayar. Indera batin ini katanya bisa “hidup” kalau kita rajin merawatnya. Bayangkan seperti tanaman hias: kalau disiram tiap Ramadan saja, ya jelas layu.

Untuk menghidupkan indera batin, diperlukan mujahadah dan riyadah—dua istilah yang terdengar seperti nama jurus silat, tapi maknanya lebih dekat dengan “berjuang keras” dan “latihan disiplin.” Intinya: jangan manja sama hawa nafsu. Kalau nafsu bilang “rebahan dulu,” kita jawab “tidak!” Kalau nafsu bilang “scroll lima menit,” kita lawan walau akhirnya tetap dua jam.

Agar tidak tersesat, diperlukan bimbingan seorang guru yang sanadnya jelas—semacam GPS spiritual. Tanpa itu, perjalanan ke dalam diri bisa berubah jadi wisata tersesat di lorong pikiran sendiri, yang ujungnya bukan pencerahan tapi overthinking.

Konon, tujuan akhir perjalanan ini adalah futuh—semacam momen “dapat wahyu batin” ketika semua pamer ego tiba-tiba tampak cringe. Pada tahap ini, seseorang mengalami “mati sebelum mati,” yang artinya ego istirahat dulu, giliran hati yang maju. Mirip mematikan aplikasi latar belakang supaya baterai hidup lebih lama.

Lalu, ada daftar “sifat pejuang rohani.” Daftarnya panjang, tapi intinya:

  • Jangan bohong.
  • Jangan nyakitin makhluk hidup.
  • Jangan sombong.
  • Jangan ikut hawa nafsu.

Kalau dipikir-pikir, itu mirip daftar gimmick motivator modern… hanya saja ini benar-benar harus dikerjakan, bukan sekadar diposting. Dan yang paling puncak: tawadhu’. Kerendahan hati. Sifat yang langka di era ketika semua orang ingin memamerkan kebaikan, bahkan kalau bisa, pakai caption puitis dan hashtag panjang.

Di sisi lain, kehadiran pesan spiritual ini di platform digital menimbulkan dinamika menarik. Ceramah yang biasanya disampaikan di majelis kini berubah menjadi konten video berdurasi pendek—dilengkapi komentar:
“MasyaAllah, saya juga merasakan hal itu, Kiai!”
“Saya dapat futuh setelah nonton, terima kasih!”
Padahal futuh biasanya butuh bertahun-tahun mujahadah, bukan autoplay YouTube.

Plus, algoritma kadang memotong materi penting. Tiba-tiba kalimat tentang “bahaya hawa nafsu” disambung iklan mi instan. Spiritualitas pun diuji di titik paling krusial: menonton ceramah sambil lapar.

Namun, pesan inti video itu tetap jelas: jihad al-nafs, alias perang melawan diri sendiri—bukan orang lain, bukan tetangga, bukan mantan. Ini jihad yang tidak butuh spanduk, tapi butuh keberanian menegur ego yang suka memonopoli keputusan hidup.

Di tengah dunia yang penuh janji palsu kebahagiaan instan, ajakan untuk kembali ke alam rohani adalah undangan untuk meng-upgrade hati: dari mode “keras kepala” ke mode “lembut tapi tegas.” Bahwa perjalanan paling menentukan bukanlah melancong ke luar negeri, tetapi menyelam ke dalam diri sendiri—tempat kita menemukan kedamaian, makna, dan mungkin juga sisa-sisa niat baik yang selama ini tertimbun kesibukan.

Dan siapa tahu, setelah mujahadah panjang, kita bisa sampai di tahap di mana hati benar-benar bening. Minimal, kita bisa berhenti berdebat di kolom komentar. Itu pun sudah karomah kecil di zaman sekarang.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.