Sabtu, 22 November 2025

Merawat Jiwa, Menjadi Manusia: Panduan Santai Menjaga Hifzhun Nafs Tanpa Menyalahkan Iman

Di zaman modern, manusia seolah diwajibkan tampil seperti tokoh utama film Marvel: kuat, tangguh, selalu siap aksi, dan tentu saja… tidak pernah burnout. Akibatnya, ketika ada yang stres atau cemas, masyarakat langsung menatapnya seakan sedang menatap HP yang jatuh ke air: penuh kekhawatiran dan sedikit menyalahkan.

Komentar standar pun keluar: “Kurang zikir, ya?”
Padahal yang bersangkutan mungkin sudah zikir, sudah makan, sudah olahraga… tinggal satu yang kurang: tenang.

Kenyataannya, merawat kesehatan mental bukan tanda iman menurun, melainkan bagian dari Hifzhun Nafs—perintah syariat untuk menjaga jiwa. Maka, ke psikolog itu boleh. Ke psikiater juga boleh. Yang tidak boleh adalah mengira masalah mental selesai hanya dengan “coba deh tidur siang.”

1. Hifzhun Nafs: Bukti Islam Itu Ramah Kesehatan Mental

Dalam konsep kebutuhan pokok manusia, menjaga jiwa (an-nafs) adalah prioritas besar. Bukan cuma menjaga diri dari bahaya fisik, tapi juga menjaga kondisi batin agar tetap stabil—setidaknya cukup stabil untuk menghadapi hidup dan chat grup keluarga.

Jadi:

  • mengurangi stres itu ibadah,
  • mencari ketenangan itu ibadah,
  • terapi klinis juga ibadah versi “paket lengkap”.

Yang penting, jangan lagi bilang: “Kamu cuma kurang kuat.”
Karena yang Maha Kuat itu Allah, bukan manusia yang masih bingung bedain suara motor lewat dan suara notif WA.

2. Al-Qur’an Sudah Mengakui: Manusia Itu Labil, dan Itu Normal

Salah satu hal paling menyejukkan adalah bahwa Al-Qur’an tidak pernah menuntut manusia menjadi superhuman. Justru sebaliknya.

a. “Manusia diciptakan lemah” — QS An-Nisa: 28

Bukan lemah iman, tapi memang fitrah: sulit mengendalikan dorongan dan emosi.
Bahasa psikologinya: impulse control.
Bahasa sehari-harinya: “wajar kalau ngegas dikit”.

Jadi kalau lihat notifikasi email langsung deg-degan, itu bukan kurang dzikir, tapi manusiawi.

b. “Halu’an: mudah gelisah” — QS Al-Ma'arij: 19

Ayat ini seolah berkata: “Santai. Kamu gelisah? Sudah dari sononya.”
Bahkan mirip deskripsi klinis Generalized Anxiety Disorder. Artinya, rasa cemas itu bukan Bukti Iman Rubuh, tapi bagian dari dinamika jiwa yang sudah diakui sejak lama.

c. Dukungan emosional di Gua Tsur — QS At-Taubah: 40

Adegan klasik: seseorang ketakutan.
Lalu ditenangkan dengan:

  1. Dukungan emosional,
  2. Penguatan spiritual.

Ini kombinasi psiko-edukasi plus dzikir. Cocok sekali sebagai model konseling “syariah plus ilmiah”.

3. Hidup di Era Stres Massal: Cara Waras ala Syariah dan Sains

Kesimpulan praktisnya sederhana:

  • Ke psikolog: boleh.
  • Obat anti-cemas: boleh bila perlu.
  • Mengurangi stigma: wajib.
  • Menyalahkan orang stres karena “kurang iman”: tolong jangan.

Selain itu, Islam mendorong banyak hal yang selaras dengan prinsip kesehatan mental:

  • olahraga (meski kadang lebih berat melawan rasa malas daripada treadmill-nya),
  • makan sehat (bukan cuma makan enak),
  • pertemanan yang sehat (yang chat-nya tidak membuat pusing),
  • tidur cukup (tantangan terberat umat ponsel).

Penutup: Menjadi Manusia Itu Ibadah, Bukan Kompetisi

Merawat kesehatan mental berarti merawat amanah: diri kita sendiri.
Pendekatan spiritual dan pendekatan psikologi modern bukan dua kutub yang bertengkar, tapi dua saudara kandung yang jalannya paralel, sama-sama menuju ketenangan jiwa.

Menjadi manusia seutuhnya itu:

  • mengakui bahwa kita kadang rapuh,
  • lalu berusaha memperbaiki diri dengan ikhtiar yang benar,
  • sambil bersandar kepada Allah yang Maha Menenangkan.

Karena kalau Al-Qur’an sendiri sudah bilang manusia diciptakan lemah…
siapa kita yang sok-sokan kuat?

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.