Di zaman modern, manusia seolah diwajibkan tampil seperti tokoh utama film Marvel: kuat, tangguh, selalu siap aksi, dan tentu saja… tidak pernah burnout. Akibatnya, ketika ada yang stres atau cemas, masyarakat langsung menatapnya seakan sedang menatap HP yang jatuh ke air: penuh kekhawatiran dan sedikit menyalahkan.
Kenyataannya, merawat kesehatan mental bukan tanda
iman menurun, melainkan bagian dari Hifzhun Nafs—perintah
syariat untuk menjaga jiwa. Maka, ke psikolog itu boleh. Ke psikiater juga
boleh. Yang tidak boleh adalah mengira masalah mental selesai hanya dengan
“coba deh tidur siang.”
1. Hifzhun Nafs: Bukti Islam Itu Ramah Kesehatan Mental
Dalam konsep kebutuhan pokok manusia, menjaga jiwa (an-nafs)
adalah prioritas besar. Bukan cuma menjaga diri dari bahaya fisik, tapi juga
menjaga kondisi batin agar tetap stabil—setidaknya cukup stabil untuk
menghadapi hidup dan chat grup keluarga.
Jadi:
- mengurangi
stres itu ibadah,
- mencari
ketenangan itu ibadah,
- terapi
klinis juga ibadah versi “paket lengkap”.
2. Al-Qur’an Sudah Mengakui: Manusia Itu Labil, dan Itu
Normal
Salah satu hal paling menyejukkan adalah bahwa Al-Qur’an
tidak pernah menuntut manusia menjadi superhuman. Justru sebaliknya.
a. “Manusia diciptakan lemah” — QS An-Nisa: 28
Jadi kalau lihat notifikasi email langsung deg-degan, itu
bukan kurang dzikir, tapi manusiawi.
b. “Halu’an: mudah gelisah” — QS Al-Ma'arij: 19
c. Dukungan emosional di Gua Tsur — QS At-Taubah: 40
- Dukungan
emosional,
- Penguatan
spiritual.
Ini kombinasi psiko-edukasi plus dzikir. Cocok sekali
sebagai model konseling “syariah plus ilmiah”.
3. Hidup di Era Stres Massal: Cara Waras ala Syariah dan
Sains
Kesimpulan praktisnya sederhana:
- Ke
psikolog: boleh.
- Obat
anti-cemas: boleh bila perlu.
- Mengurangi
stigma: wajib.
- Menyalahkan
orang stres karena “kurang iman”: tolong jangan.
Selain itu, Islam mendorong banyak hal yang selaras dengan
prinsip kesehatan mental:
- olahraga
(meski kadang lebih berat melawan rasa malas daripada treadmill-nya),
- makan
sehat (bukan cuma makan enak),
- pertemanan
yang sehat (yang chat-nya tidak membuat pusing),
- tidur
cukup (tantangan terberat umat ponsel).
Penutup: Menjadi Manusia Itu Ibadah, Bukan Kompetisi
Menjadi manusia seutuhnya itu:
- mengakui
bahwa kita kadang rapuh,
- lalu
berusaha memperbaiki diri dengan ikhtiar yang benar,
- sambil
bersandar kepada Allah yang Maha Menenangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.