Elon Musk kembali bikin heboh. Katanya, revolusi AI itu seperti tsunami supersonik — cepat, besar, dan bakal bikin manusia yang masih pakai Excel 2007 hanyut duluan. Di podcast Joe Rogan, Musk dengan wajah serius menjelaskan bahwa di masa depan, kerja itu opsional.
Kedengarannya indah, ya. Siapa sih yang nggak mau hidup santai sambil rebahan, sementara robot kerja 24 jam tanpa ngeluh? Tapi tunggu dulu. Kalau semua kerjaan diambil AI, lalu siapa yang bayar kuota Wi-Fi kita buat nonton drama Korea dan scrolling Shopee tengah malam?
Gelombang Pertama: Pekerja Digital yang Terbawa Arus
Fase awal tsunami ini menghantam pekerja digital. Mulai dari
analis data, penulis konten, sampai pegawai administrasi yang dulu paling rajin
mengirim email “mohon segera ditindaklanjuti.” Sekarang, semua bisa dilakukan
AI tanpa kopi, tanpa cuti, dan tanpa sinyal drama.
Menurut data, 36% pekerjaan sudah tersentuh AI. Itu
berarti, dari 10 pegawai, mungkin 3,6 orang sekarang sedang pura-pura sibuk
padahal sedang digantikan oleh algoritma di balik layar.
Laporan Forbes bahkan memperkirakan setengah juta pegawai
pemerintah AS bisa tergusur dalam lima tahun. Bayangkan, AI nanti bukan
cuma bisa jawab pertanyaan rakyat — tapi juga bisa janji “akan segera kami
proses” dengan suara yang lebih meyakinkan daripada pejabat sungguhan.
Gelombang Kedua: Pekerjaan Fisik Masih Bertahan (Untuk
Sementara)
Sementara itu, para tukang ledeng, petani, dan teknisi
listrik masih bisa bernapas lega. Belum ada AI yang bisa memperbaiki pipa bocor
sambil jongkok di got. Tapi jangan terlalu santai — robot Boston Dynamics
sekarang sudah bisa jalan, angkat barang, dan (yang paling berbahaya) tidak
minta uang makan siang.
Mungkin suatu hari nanti, tukang ojek juga akan digantikan robo-driver
yang tidak bisa diajak ngobrol tentang politik, tapi setidaknya tidak tersesat
karena “sinyal hilang”.
Visi Elon Musk: Dunia Tanpa Pekerjaan, tapi Penuh
Pertanyaan
Musk membayangkan masa depan dengan konsep “Universal
High Income” (UHI) — semua orang dapat penghasilan tinggi tanpa harus
bekerja. Kedengarannya seperti surga, tapi kita tahu betul: kalau semua orang
punya uang, siapa yang jualan gorengan?
Krisis makna pun mengintai. Tanpa kerja, banyak orang
kehilangan alasan untuk bangun pagi. Tak heran kalau nantinya muncul seminar
bertema “Menemukan Jati Diri di Era Tanpa Slip Gaji.”
Dan jangan lupa soal bias algoritma. Kalau AI-nya
dilatih dengan data yang salah, bisa jadi robot HRD malah menolak lamaran
seseorang karena namanya mirip mantan developer yang dulu suka ngoding
asal-asalan.
Negara-Negara Ikut Panik: Regulasi Jadi Papan Selancar
Sadar akan bahaya gelombang ini, berbagai negara mulai
pasang papan selancar regulasi.
- Uni
Eropa bikin AI Act — intinya, kalau AI-nya nakal, dendanya bisa
bikin startup langsung gulung tikar.
- Amerika
Serikat, di bawah Trump 2025, memilih jalur bebas hambatan: “biar AI
berinovasi dulu, kalau rusak baru kita pikirin.”
- Inggris
lebih kalem, pakai pendekatan “percaya tapi verifikasi.” Mirip dosen
pembimbing: kasih kebebasan, tapi siap memotong nilai kalau hasilnya
ngawur.
Dunia pun terbagi dua: yang mau mengatur AI, dan yang sibuk
meniru AI supaya tetap relevan di LinkedIn.
Akhir Cerita: Antara Utopia dan Drama Dunia Nyata
Tsunami AI ini bukan lagi di laut lepas — airnya sudah
sampai ke mata kaki. Beberapa pekerja mulai belajar berselancar (alias
reskilling), sementara sebagian lain masih sibuk mencari pelampung (alias
lowongan baru).
Masa depan mungkin tidak seindah mimpi Elon Musk, tapi juga
tidak sesuram film Terminator. Yang jelas, kalau kita tak belajar
beradaptasi, bisa-bisa nanti satu-satunya pekerjaan manusia yang tersisa
hanyalah… mengeluh di media sosial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.