Selasa, 04 November 2025

Tsunami AI dan Nasib Pekerja Manusia: Antara Cangkul, Chatbot, dan Cuan

Elon Musk kembali bikin heboh. Katanya, revolusi AI itu seperti tsunami supersonik — cepat, besar, dan bakal bikin manusia yang masih pakai Excel 2007 hanyut duluan. Di podcast Joe Rogan, Musk dengan wajah serius menjelaskan bahwa di masa depan, kerja itu opsional.

Kedengarannya indah, ya. Siapa sih yang nggak mau hidup santai sambil rebahan, sementara robot kerja 24 jam tanpa ngeluh? Tapi tunggu dulu. Kalau semua kerjaan diambil AI, lalu siapa yang bayar kuota Wi-Fi kita buat nonton drama Korea dan scrolling Shopee tengah malam?

Gelombang Pertama: Pekerja Digital yang Terbawa Arus

Fase awal tsunami ini menghantam pekerja digital. Mulai dari analis data, penulis konten, sampai pegawai administrasi yang dulu paling rajin mengirim email “mohon segera ditindaklanjuti.” Sekarang, semua bisa dilakukan AI tanpa kopi, tanpa cuti, dan tanpa sinyal drama.

Menurut data, 36% pekerjaan sudah tersentuh AI. Itu berarti, dari 10 pegawai, mungkin 3,6 orang sekarang sedang pura-pura sibuk padahal sedang digantikan oleh algoritma di balik layar.

Laporan Forbes bahkan memperkirakan setengah juta pegawai pemerintah AS bisa tergusur dalam lima tahun. Bayangkan, AI nanti bukan cuma bisa jawab pertanyaan rakyat — tapi juga bisa janji “akan segera kami proses” dengan suara yang lebih meyakinkan daripada pejabat sungguhan.

Gelombang Kedua: Pekerjaan Fisik Masih Bertahan (Untuk Sementara)

Sementara itu, para tukang ledeng, petani, dan teknisi listrik masih bisa bernapas lega. Belum ada AI yang bisa memperbaiki pipa bocor sambil jongkok di got. Tapi jangan terlalu santai — robot Boston Dynamics sekarang sudah bisa jalan, angkat barang, dan (yang paling berbahaya) tidak minta uang makan siang.

Mungkin suatu hari nanti, tukang ojek juga akan digantikan robo-driver yang tidak bisa diajak ngobrol tentang politik, tapi setidaknya tidak tersesat karena “sinyal hilang”.

Visi Elon Musk: Dunia Tanpa Pekerjaan, tapi Penuh Pertanyaan

Musk membayangkan masa depan dengan konsep “Universal High Income” (UHI) — semua orang dapat penghasilan tinggi tanpa harus bekerja. Kedengarannya seperti surga, tapi kita tahu betul: kalau semua orang punya uang, siapa yang jualan gorengan?

Krisis makna pun mengintai. Tanpa kerja, banyak orang kehilangan alasan untuk bangun pagi. Tak heran kalau nantinya muncul seminar bertema “Menemukan Jati Diri di Era Tanpa Slip Gaji.”

Dan jangan lupa soal bias algoritma. Kalau AI-nya dilatih dengan data yang salah, bisa jadi robot HRD malah menolak lamaran seseorang karena namanya mirip mantan developer yang dulu suka ngoding asal-asalan.

Negara-Negara Ikut Panik: Regulasi Jadi Papan Selancar

Sadar akan bahaya gelombang ini, berbagai negara mulai pasang papan selancar regulasi.

  • Uni Eropa bikin AI Act — intinya, kalau AI-nya nakal, dendanya bisa bikin startup langsung gulung tikar.
  • Amerika Serikat, di bawah Trump 2025, memilih jalur bebas hambatan: “biar AI berinovasi dulu, kalau rusak baru kita pikirin.”
  • Inggris lebih kalem, pakai pendekatan “percaya tapi verifikasi.” Mirip dosen pembimbing: kasih kebebasan, tapi siap memotong nilai kalau hasilnya ngawur.

Dunia pun terbagi dua: yang mau mengatur AI, dan yang sibuk meniru AI supaya tetap relevan di LinkedIn.

Akhir Cerita: Antara Utopia dan Drama Dunia Nyata

Tsunami AI ini bukan lagi di laut lepas — airnya sudah sampai ke mata kaki. Beberapa pekerja mulai belajar berselancar (alias reskilling), sementara sebagian lain masih sibuk mencari pelampung (alias lowongan baru).

Masa depan mungkin tidak seindah mimpi Elon Musk, tapi juga tidak sesuram film Terminator. Yang jelas, kalau kita tak belajar beradaptasi, bisa-bisa nanti satu-satunya pekerjaan manusia yang tersisa hanyalah… mengeluh di media sosial.

Jadi, sebelum robot-robot itu belajar stand-up comedy dan ikut lomba pidato, mungkin kita perlu belajar satu hal penting: AI memang pintar, tapi manusia masih satu-satunya makhluk yang bisa tertawa di tengah bencana.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.