Minggu, 09 November 2025

🐭 Tikus di Surga dan Manusia di Kamar: Komedi Utopia yang Gagal

Bayangkan hidup di dunia tanpa kerja, tanpa tagihan listrik, tanpa cicilan, dan makanan selalu tersedia 24 jam seperti di hotel bintang lima — tapi gratis. Itulah impian semua manusia... dan juga, ternyata, impian para tikus di laboratorium John B. Calhoun tahun 1968. Eksperimen itu disebut Universe 25, semacam “Taman Eden Tikus”, di mana semua kebutuhan disediakan.

Namun, seperti banyak film utopia yang berubah jadi distopia, semesta tikus ini tidak berakhir dengan pesta keju abadi. Justru, ia berakhir dengan tragedi sosial terbesar di dunia pengerat: kehancuran total karena terlalu bahagia.

🧀 Surga Tikus: Dari Buffet All-You-Can-Eat ke Reality Show Kiamat

Awalnya, semuanya berjalan baik. Tikus-tikus itu beranak pinak dengan penuh semangat (mungkin karena Netflix belum ada). Tapi begitu populasi mencapai ribuan, mulai muncul gejala sosial khas peradaban maju:

  • Tikus jantan jadi agresif tanpa alasan — semacam komentar netizen yang selalu marah meski topiknya resep omelet.
  • Tikus betina kehilangan naluri keibuan — mereka tampak lelah, mungkin karena kebanyakan drama domestik.
  • Dan muncul kelompok elit baru: “the beautiful ones” — tikus-tikus yang menolak kawin, malas bersosialisasi, dan sibuk grooming diri sepanjang hari.

Kalau ini terjadi di dunia manusia, kelompok ini mungkin punya akun Instagram bertema self-care & healing journey, dengan caption, “Aku tidak menjauh, aku hanya sedang menyembuhkan diriku dari energi toxic masyarakat.”

Singkatnya, koloni itu pun punah — bukan karena kelaparan, tapi karena kehilangan alasan untuk hidup. Bahkan para tikus pun sadar: hidup yang terlalu nyaman bisa membuat eksistensi terasa tidak berguna. (Tentu, mereka sadar ini agak terlambat—karena semuanya mati duluan.)

🧍‍♂️ Masuk ke Dunia Nyata: Dari Tikus yang Isolasi ke Manusia yang Login

Beberapa dekade kemudian, tanpa perlu laboratorium, manusia menciptakan eksperimennya sendiri: Hikikomori.
Bukan di kandang, tapi di kamar tidur.
Bukan diberi keju, tapi Wi-Fi.

Fenomena ini dimulai di Jepang, lalu menular ke seluruh dunia, termasuk netizen Indonesia yang suka bilang “males keluar rumah, mending rebahan sambil scroll TikTok.”

Ada jutaan manusia yang hidup seperti “the beautiful ones” versi manusia: tidak berinteraksi, tidak menikah, tidak bekerja — tapi rajin menjaga skincare routine. Mereka tak lagi mengejar kekuasaan atau cinta, melainkan koneksi stabil dan baterai 100%.

Jika tikus-tikus Universe 25 mengalami behavioral sink karena kepadatan fisik, manusia modern mengalaminya karena kepadatan ekspektasi sosial. Sama-sama sesak, hanya beda jenis kandang.

  • Kandang tikus terbuat dari logam.
  • Kandang manusia terbuat dari notifikasi, penilaian, dan perbandingan sosial.

📱 Teknologi: Cermin atau Jeruji Emas?

Para tikus tidak punya internet, jadi mereka hanya bisa saling gigit. Kita lebih beradab — kita menggigit lewat kolom komentar.

Teknologi memberi ruang baru untuk eksistensi, tapi juga membuat kamar terasa lebih luas dari dunia nyata. Dalam dunia digital, seseorang bisa jadi influencer, gamer, atau filsuf Twitter tanpa perlu meninggalkan kasur. Hikikomori modern mungkin tidak sepenuhnya terisolasi — mereka hanya berpindah spesies sosial: dari manusia ke avatar.

Lucunya, meski kita sering menertawakan tikus di Universe 25, perilaku kita kadang jauh lebih absurd. Tikus tidak pernah mengunggah konten “healing dulu biar gak jadi toxic”, tapi kita melakukannya sambil menyeruput kopi di kafe penuh orang yang juga sedang healing.

🧘‍♀️ Manusia: Tikus dengan Wi-Fi dan Perasaan Eksistensial

Di sinilah perbedaan utama:
Tikus tidak punya filsafat. Manusia punya — meski kadang lebih membingungkan daripada membantu.
Tikus di Universe 25 tidak sadar bahwa mereka sedang punah. Kita sadar… tapi sering pura-pura tidak peduli.

Kita membangun kota cerdas, tapi lupa membangun ruang untuk gagal. Kita menciptakan media sosial untuk berhubungan, tapi akhirnya makin kesepian. Kita ingin kenyamanan, tapi malah menciptakan “surga” yang penuh tekanan — mirip seperti membuat spa yang airnya mendidih.

Utopia ternyata bukan tempat tanpa penderitaan — melainkan tempat di mana penderitaan kehilangan makna. Dan di sanalah, manusia modern berdiri: makmur tapi cemas, terhubung tapi terasing, sibuk tapi kosong.

🧩 Penutup: Jangan Jadi Tikus yang Cantik

Pelajaran paling lucu sekaligus pahit dari Universe 25 dan Hikikomori adalah ini:
kadang, ketika dunia terlalu nyaman, kita malah kehabisan alasan untuk hidup.

Jadi, sebelum kita menjadi “the beautiful ones” versi manusia — sibuk mempercantik feed tapi melupakan fungsi sosial — mungkin kita perlu kembali ke hal-hal sederhana: bertemu teman tanpa kamera, gagal tanpa rasa malu, dan hidup tanpa harus terlihat sempurna.

Karena sejatinya, manusia bukan tikus yang cerdas. Kita hanyalah tikus yang bisa menulis puisi tentang kandangnya sendiri.

abah-arul.blogspot.com., November 2025


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.