Bayangkan hidup di dunia tanpa kerja, tanpa tagihan listrik, tanpa cicilan, dan makanan selalu tersedia 24 jam seperti di hotel bintang lima — tapi gratis. Itulah impian semua manusia... dan juga, ternyata, impian para tikus di laboratorium John B. Calhoun tahun 1968. Eksperimen itu disebut Universe 25, semacam “Taman Eden Tikus”, di mana semua kebutuhan disediakan.
Namun, seperti banyak film utopia yang berubah jadi
distopia, semesta tikus ini tidak berakhir dengan pesta keju abadi. Justru, ia
berakhir dengan tragedi sosial terbesar di dunia pengerat: kehancuran total
karena terlalu bahagia.
🧀 Surga Tikus: Dari
Buffet All-You-Can-Eat ke Reality Show Kiamat
Awalnya, semuanya berjalan baik. Tikus-tikus itu beranak
pinak dengan penuh semangat (mungkin karena Netflix belum ada). Tapi begitu
populasi mencapai ribuan, mulai muncul gejala sosial khas peradaban maju:
- Tikus
jantan jadi agresif tanpa alasan — semacam komentar netizen yang
selalu marah meski topiknya resep omelet.
- Tikus
betina kehilangan naluri keibuan — mereka tampak lelah, mungkin karena
kebanyakan drama domestik.
- Dan
muncul kelompok elit baru: “the beautiful ones” — tikus-tikus yang
menolak kawin, malas bersosialisasi, dan sibuk grooming diri sepanjang
hari.
Kalau ini terjadi di dunia manusia, kelompok ini mungkin
punya akun Instagram bertema self-care & healing journey, dengan
caption, “Aku tidak menjauh, aku hanya sedang menyembuhkan diriku dari energi
toxic masyarakat.”
Singkatnya, koloni itu pun punah — bukan karena kelaparan,
tapi karena kehilangan alasan untuk hidup. Bahkan para tikus pun sadar:
hidup yang terlalu nyaman bisa membuat eksistensi terasa tidak berguna. (Tentu,
mereka sadar ini agak terlambat—karena semuanya mati duluan.)
🧍♂️ Masuk ke Dunia
Nyata: Dari Tikus yang Isolasi ke Manusia yang Login
Fenomena ini dimulai di Jepang, lalu menular ke seluruh
dunia, termasuk netizen Indonesia yang suka bilang “males keluar rumah, mending
rebahan sambil scroll TikTok.”
Ada jutaan manusia yang hidup seperti “the beautiful ones”
versi manusia: tidak berinteraksi, tidak menikah, tidak bekerja — tapi rajin
menjaga skincare routine. Mereka tak lagi mengejar kekuasaan atau cinta,
melainkan koneksi stabil dan baterai 100%.
Jika tikus-tikus Universe 25 mengalami behavioral sink
karena kepadatan fisik, manusia modern mengalaminya karena kepadatan
ekspektasi sosial. Sama-sama sesak, hanya beda jenis kandang.
- Kandang
tikus terbuat dari logam.
- Kandang
manusia terbuat dari notifikasi, penilaian, dan perbandingan sosial.
📱 Teknologi: Cermin atau
Jeruji Emas?
Para tikus tidak punya internet, jadi mereka hanya bisa
saling gigit. Kita lebih beradab — kita menggigit lewat kolom komentar.
Teknologi memberi ruang baru untuk eksistensi, tapi juga
membuat kamar terasa lebih luas dari dunia nyata. Dalam dunia digital,
seseorang bisa jadi influencer, gamer, atau filsuf Twitter tanpa perlu
meninggalkan kasur. Hikikomori modern mungkin tidak sepenuhnya terisolasi —
mereka hanya berpindah spesies sosial: dari manusia ke avatar.
Lucunya, meski kita sering menertawakan tikus di Universe
25, perilaku kita kadang jauh lebih absurd. Tikus tidak pernah mengunggah
konten “healing dulu biar gak jadi toxic”, tapi kita melakukannya sambil
menyeruput kopi di kafe penuh orang yang juga sedang healing.
🧘♀️ Manusia: Tikus
dengan Wi-Fi dan Perasaan Eksistensial
Kita membangun kota cerdas, tapi lupa membangun ruang
untuk gagal. Kita menciptakan media sosial untuk berhubungan, tapi akhirnya
makin kesepian. Kita ingin kenyamanan, tapi malah menciptakan “surga” yang
penuh tekanan — mirip seperti membuat spa yang airnya mendidih.
Utopia ternyata bukan tempat tanpa penderitaan — melainkan
tempat di mana penderitaan kehilangan makna. Dan di sanalah, manusia modern
berdiri: makmur tapi cemas, terhubung tapi terasing, sibuk tapi kosong.
🧩 Penutup: Jangan Jadi
Tikus yang Cantik
Jadi, sebelum kita menjadi “the beautiful ones” versi
manusia — sibuk mempercantik feed tapi melupakan fungsi sosial — mungkin kita
perlu kembali ke hal-hal sederhana: bertemu teman tanpa kamera, gagal tanpa
rasa malu, dan hidup tanpa harus terlihat sempurna.
Karena sejatinya, manusia bukan tikus yang cerdas. Kita
hanyalah tikus yang bisa menulis puisi tentang kandangnya sendiri.
abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.