Jumat, 31 Oktober 2025

๐ŸŽ“ TKA 2025: Tes Kemampuan Akrobatik di Dunia Pendidikan

Bayangkan suasananya: jam dinding di ruang guru menunjukkan pukul 13.35 WIB. Di dunia maya, BBC Indonesia menulis, “Tes Kemampuan Akademik (TKA) akan mulai dilaksanakan 3–9 November. Tes ini tidak wajib.”

Lima menit kemudian, siswa kelas 12 di seluruh Indonesia mendadak pucat — karena di grup WA sekolah, wali kelas mengumumkan:

“Anak-anak, besok simulasi TKA ya. WAJIB hadir. Yang nggak ikut, nilai rapornya dipertimbangkan ulang.”

Begitulah cara kata “tidak wajib” berubah menjadi “kalau tidak ikut, ya siap-siap saja jadi legenda tanpa ijazah.”

๐Ÿง  Antara Tes dan Tes-timoni

TKA katanya bukan Ujian Nasional. Bukan juga ujian masuk kampus. Ia hanyalah “pemetaan kemampuan siswa”. Tapi pemetaannya begitu serius sampai siswa merasa sedang dipetakan masa depannya juga.
“Kalau cuma pemetaan, kenapa jam belajar tambah tiga kali lipat?” keluh seorang siswa, sambil menatap soal latihan yang panjangnya setara novel Laskar Pelangi versi matematika.

Kementerian bilang, “Santai saja, ini cuma untuk validasi rapor.”
Tapi sekolah menjawab, “Justru itu, biar rapor kamu kelihatan valid — bukan hasil doa ibu dan sedekah wali murid.”

๐Ÿ“š Petisi Digital dan Revolusi dari Kamar Kos

Lalu muncullah gerakan heroik: Petisi “Batalkan TKA 2025” di Change.org.
Dalam enam hari, lebih dari 239 ribu tanda tangan terkumpul. Satu-satunya petisi yang lebih cepat viral mungkin cuma “Batalkan Kenaikan Harga Cilok.”

Isinya jujur dan penuh perasaan: siswa merasa overload — bukan karena tugas, tapi karena kebijakan.
“Pak, tiga bulan itu bukan waktu persiapan tes, itu waktu buat healing setelah P5,” tulis satu komentar.
Yang lain menulis lebih filosofis:

“Kalau hidup adalah ujian, tolong jangan dijadwalin 3–9 November, Pak.”

๐Ÿ’ฌ “10 Tahun Kulino Sedekah Nilai”

Di tengah riuh perdebatan, muncul satu komentar pendek di X (Twitter) dari akun @Ayyasy2311:

“10 tahun kulino dengan sedekah nilai.”

Satu kalimat yang lebih menohok daripada 100 halaman naskah akademik.
Artinya kira-kira: “10 tahun sekolah, tapi nilai masih hasil kasihan.”
Sarkasme lembut, tapi terasa seperti tamparan realitas: sistem pendidikan kita terlalu lama menilai angka, bukan makna.
Kini, ketika TKA mencoba menilai kemampuan “asli”, justru semua merasa asing.

๐Ÿ“‰ Drama Kebijakan: Ketika ‘Tidak Wajib’ Jadi Wajib Moral

Mendikdasmen, Pak Abdul Mu’ti, menjelaskan dengan tegas, “TKA tidak wajib.”
Sayangnya, di Indonesia, yang tidak wajib sering kali justru paling dipaksakan — dari ikut arisan RT sampai ikut ujian nasional yang sudah “dihapus”.

Sekolah-sekolah pun berlomba-lomba “mewajibkan yang tidak wajib”, demi satu tujuan mulia: menjaga ranking sekolah di mata dinas.
Hasilnya? Siswa belajar mati-matian, guru stres, orang tua pasrah, dan pemerintah mengumumkan: “Tenang, ini hanya tes pemetaan.”

Pemetaan yang satu ini bahkan bisa jadi lebih rumit dari GPS, karena hasilnya menentukan arah hidup ribuan siswa.

๐Ÿชถ Ujian yang Membentuk atau Membebani?

Ada yang bilang, “Tes seperti ini penting biar tahu kualitas pendidikan nasional.”
Tapi siswa menjawab dengan tenang (dan sedikit sinis):

“Kami bukan data, Pak. Kami drama berjalan.”

Bahkan algoritma bimbel online sampai ikut stres: mendadak permintaan latihan TKA naik 300%, sementara siswa di grup belajar saling kirim meme bertuliskan:

“Kalau gagal di TKA, setidaknya kita lulus di Tes Kesabaran Akhir.”

 Sebuah Akhir yang Belum Tamat

Sampai hari ini, petisi belum dikabulkan. Pemerintah tetap kukuh: “The show must go on.”
Ya, show must go on — meski pemain utamanya belum sempat hafal skrip.

Di satu sisi, TKA bisa jadi langkah baik untuk memperbaiki sistem nilai nasional yang selama ini “disubsidi belas kasihan”.
Tapi di sisi lain, pelaksanaan yang terburu-buru membuat siswa merasa sedang ikut lomba sprint padahal belum sempat pakai sepatu.

Kata orang bijak, pendidikan itu seharusnya menumbuhkan, bukan menumbangkan.
Dan kalau benar “TKA” berarti Tes Kemampuan Akademik, semoga ke depan juga diikuti versi baru: TKA+ — Tes Kemampuan Adaptasi, untuk para pejabat yang suka mengubah aturan di menit-menit terakhir.

Kesimpulan :
TKA 2025 bukan sekadar ujian bagi siswa — tapi juga bagi pemerintah: ujian kesabaran, ujian komunikasi, dan ujian apakah mereka benar-benar memahami arti belajar dari pengalaman.

Karena, kalau murid saja sudah punya petisi, mungkin sudah waktunya guru bangsa ikut ujian juga.

abah-arul.blogspot.com., November 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.