Pendahuluan: Pertempuran Sendok dan Statistik
Setiap pagi, dunia terbelah menjadi dua kubu:
- Kubu #TeamSarapan,
yang percaya tanpa nasi goreng, otak tidak bisa diajak kompromi.
- Dan
kubu #TeamPuasaIntermiten, yang bangga berkata, “Saya tidak
lapar, saya sedang detoks seluler.”
Lalu datanglah artikel dari Tempo.co dengan
judul menggetarkan: “Bahaya Melewatkan Sarapan.”
Publik pun geger. Para ibu langsung panik, para mahasiswa tertawa sinis, dan
seorang warganet bijak bernama @afrkml muncul bak nabi nutrisi
di antara dua golongan yang saling melempar sendok.
Bab 1: Ketika Warganet Jadi Ahli Gizi Dadakan
Dalam thread-nya yang viral, @afrkml menulis dengan gaya
ilmiah tapi tetap menyelipkan “WKWK”—sebuah gaya khas yang membuat sains terasa
seperti nongkrong di angkringan.
Beliau dengan lembut namun tegas menulis:
“Sarapan itu boleh, tidak sarapan juga boleh… asal sesuai
syarat dan ketentuan berlaku.”
Kalimat ini seperti fatwa nutrisi dari langit: sakral tapi
santai.
Beliau pun menambahkan berbagai link jurnal ilmiah, seakan berkata, “Kalau
masih gak percaya, nih baca sampai mata buram.”
Dan di tengah masyarakat yang percaya “kalau belum makan
nasi belum makan,” thread itu terasa seperti revolusi diet nasional.
Bab 2: Nasi Goreng vs Neuron Otak
Tempo bilang, kalau kamu gak sarapan, kamu bisa stres dan
pelupa.
Sains bilang, ya bisa juga enggak, tergantung siapa kamu dan apa yang kamu
makan semalam.
@afrkml menjelaskan bahwa yang penting bukan jam makan,
tapi pola makan teratur.
Artinya, kalau kamu makan malam jam 11 dengan dua porsi mi instan dan kerupuk
udang, lalu bangun jam 7 bilang “aku lagi puasa intermittent,” maka kamu
sebenarnya cuma menunda penyesalan, bukan sedang sehat.
Dan di situlah letak kejeniusan thread ini: ia tidak
menyalahkan sarapan, tapi menyalahkan kebiasaan makan ngawur.
Bab 3: Antara Sains dan Sendok Nasi
Ilmuwan ternyata juga bisa bingung. Ada yang bilang sarapan
bikin sehat, ada yang bilang tidak pengaruh, ada pula yang bilang “tergantung
sampel penelitian dan jumlah bubur ayam yang dikonsumsi.”
Penelitian terbaru bahkan bilang lemak itu punya hubungan
paling kuat dengan obesitas.
Artinya, mungkin bukan sarapannya yang bikin gemuk — tapi roti isi keju, kopi
susu kental manis, dan balas dendam makan malam saat begadang nonton drakor.
Tapi mari jujur: tidak ada penelitian yang siap
menghadapi ibu kos yang berkata,
“Sarapan dulu, Nak, biar gak pingsan di jalan.”
Itulah bentuk intervensi gizi paling emosional yang tidak bisa
diukur oleh meta-analisis manapun.
Bab 4: Kelompok Rentan dan Politik Piring
Dalam thread-nya, @afrkml juga menegaskan bahwa tidak semua
orang bisa skip sarapan.
Anak sekolah, ibu hamil, pekerja shift malam — mereka butuh asupan pagi agar
tidak tiba-tiba menatap layar Excel seperti menatap nasib.
Jadi, jika kamu sehat dan ingin melewatkan sarapan, silakan.
Tapi kalau kamu tipe yang jam 10 sudah marah ke rekan kerja karena belum makan,
mungkin bukan kamu yang intermittent fasting, tapi intermittent
marah-marah.
Kesimpulan: Filsafat Nasi Goreng
Pada akhirnya, perdebatan ini mengajarkan satu hal penting:
Tidak ada kebenaran tunggal di dunia nutrisi — hanya banyak mulut
dengan banyak pendapat.
Sarapan atau tidak sarapan, semua sah-sah saja…
asalkan kamu tidak menggantinya dengan tiga gelas kopi dan sepiring keripik
kentang sambil berkata,
“Aku cuma minum kalori cair.”
Kesehatan, seperti hidup, adalah urusan keseimbangan:
antara logika dan lapar, antara jurnal ilmiah dan sambal kecap,
antara niat diet dan bau sedap nasi goreng dari dapur sebelah.
Jadi, daripada terus berdebat, mungkin kita cukup berkata:
“Yang penting, jangan makan teori — makan yang bener aja.” ๐ฝ️
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.