Kamis, 30 Oktober 2025

๐Ÿค– STEM, Sate, dan Masa Depan Bangsa: Cara Indonesia Menyiapkan Anak Cerdas di Era AI

Kalau dulu orang tua kita bangga anaknya hafal Pancasila, sekarang banyak yang lebih bangga kalau anaknya bisa bikin robot dari lego dan coding-nya lancar pakai Python. Zaman memang sudah berubah. Di era AI sekarang, anak yang tak bisa ngoding mungkin masih bisa hidup, tapi kemungkinan besar hidupnya akan dikoding oleh orang lain.

Begitulah kira-kira pesan tersirat dari Stephanie Riady, Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group, yang dalam wawancara terbaru bicara soal Pendidikan STEM — alias Science, Technology, Engineering, and Mathematics. Empat kata yang dulu mungkin cuma muncul di buku IPA sekarang jadi kunci keselamatan bangsa. Kalau dulu slogan sekolah adalah “rajin pangkal pandai”, sekarang berubah jadi “STEM pangkal bertahan hidup.”

STEM Itu Bukan Sekadar Robot dan Rumus

Masalahnya, begitu mendengar kata “STEM”, banyak orang langsung membayangkan anak-anak berkacamata tebal sedang solderan kabel, atau menatap laptop dengan mata panda karena coding seharian. Padahal, kata Stephanie, esensi STEM bukan di robotnya — tapi di cara berpikirnya.
STEM itu melatih otak anak supaya bisa menganalisis masalah, bukan cuma menghafal jawaban.

Sayangnya, di banyak sekolah kita, konsep “pola pikir kritis” masih sering disalahpahami. Misalnya, ketika murid bertanya, “Bu, kenapa harus hafal rumus ini?” guru malah menjawab, “Jangan tanya, kerjakan saja!” Nah, di situ STEM langsung meninggal dunia sebelum sempat berkembang.

Tantangan: Antara Kurikulum, Guru, dan Anggaran Kopi

Untuk jujur-jujuran, sistem pendidikan kita memang masih lebih mirip sistem ujian nasional daripada laboratorium inovasi.
Guru masih sibuk mengejar target nilai, bukan target rasa ingin tahu.
Anak-anak sibuk menghafal definisi, bukan memahami konsep.
Dan sebagian sekolah masih berpikir STEM itu singkatan dari “Susah Tapi Emang Menarik”.

Belum lagi urusan fasilitas. Di satu sekolah, anak-anak sudah pakai tablet dan printer 3D. Di sekolah lain, penghapus papan tulis masih berupa tisu basah bekas kantin.
Jadi, kalau mau bicara revolusi pendidikan, kita harus mulai dari revolusi stabilitas WiFi dulu.

Tapi bukan berarti tak ada harapan. Pemerintah, yayasan, dan dunia usaha sebenarnya sudah mulai bergerak. Stephanie Riady misalnya, lewat program Pelita Harapan dan Riady Foundation, sudah berusaha menjembatani kesenjangan itu dengan pelatihan guru dan materi ajar baru.
Masalahnya, kalau diibaratkan sinetron, mereka baru masuk episode 3, sementara dramanya bakal panjang sampai 200 episode. Tapi tak apa — asal tidak disponsori oleh iklan micin pendidikan, kita masih punya harapan.

AI: Asisten Guru yang Tak Pernah Minta THR

Sekarang masuk ke topik yang paling seksiAI dalam pendidikan.
Bagi sebagian guru, AI terdengar seperti murid ajaib yang tak pernah absen dan tahu semua jawaban. Tapi jangan salah — AI bukan pengganti guru. Ia cuma alat bantu yang bisa mempercepat pembelajaran.
Kalau guru itu juru masak, AI adalah mixer otomatis yang bisa bikin adonan lebih cepat — tapi kalau bahannya salah, tetap gosong juga.

AI bisa membantu siswa belajar sesuai gaya masing-masing, memberikan feedback instan, dan bahkan bikin simulasi eksperimen.
Namun, AI juga bisa berulah kalau tidak diatur. Misalnya, kalau sistemnya salah baca, nilai anak bisa berubah dari 85 jadi 58 — dan tiba-tiba seluruh grup WA orang tua jadi ajang protes nasional.

Karena itu, pendidikan AI harus diiringi dengan etika dan regulasi. Data siswa jangan sampai bocor, dan algoritma jangan sampai bias. Kalau tidak, nanti anak yang nilainya rendah bisa disalahkan sistem — bukan karena malas, tapi karena “AI-nya lagi bad mood.”

Kesimpulan: Mendidik Anak Bukan Sekadar Biar Bisa Ngoding

Pada akhirnya, pendidikan STEM bukan soal membuat anak kita jago matematika atau bisa bikin aplikasi yang viral. Tujuannya adalah membentuk manusia berpikir, bukan sekadar manusia pengikut tren.
Karena di masa depan, pekerjaan banyak yang diambil robot, tapi tanggung jawab moral, kreativitas, dan empati — itu tetap pekerjaan manusia.

Indonesia butuh generasi yang bisa berpikir seperti ilmuwan, bekerja seperti insinyur, berimajinasi seperti seniman, dan berperilaku seperti manusia utuh.
Dan untuk itu, kita harus berani memperbaiki cara mengajar — bukan hanya mengganti buku teks, tapi juga meng-upgrade logika nasional kita dari mode “copy-paste” menjadi “create and solve”.

Jadi, kalau ada yang masih bertanya:

“Kenapa sih harus repot belajar STEM segala?”

Jawab saja dengan tenang:

“Karena kalau tidak, nanti anak kita bukan menciptakan robot, tapi malah jadi konten edukasi gagal di TikTok.”

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.