Kalau dulu orang tua kita bangga anaknya hafal Pancasila,
sekarang banyak yang lebih bangga kalau anaknya bisa bikin robot dari lego dan
coding-nya lancar pakai Python. Zaman memang sudah berubah. Di era AI sekarang,
anak yang tak bisa ngoding mungkin masih bisa hidup, tapi kemungkinan besar
hidupnya akan dikoding oleh orang lain.
Begitulah kira-kira pesan tersirat dari Stephanie
Riady, Direktur Eksekutif Pelita Harapan Group, yang dalam wawancara
terbaru bicara soal Pendidikan STEM — alias Science,
Technology, Engineering, and Mathematics. Empat kata yang dulu mungkin cuma
muncul di buku IPA sekarang jadi kunci keselamatan bangsa. Kalau dulu slogan
sekolah adalah “rajin pangkal pandai”, sekarang berubah jadi “STEM
pangkal bertahan hidup.”
STEM Itu Bukan Sekadar Robot dan Rumus
Masalahnya, begitu mendengar kata “STEM”, banyak orang
langsung membayangkan anak-anak berkacamata tebal sedang solderan kabel, atau
menatap laptop dengan mata panda karena coding seharian. Padahal, kata
Stephanie, esensi STEM bukan di robotnya — tapi di cara berpikirnya.
STEM itu melatih otak anak supaya bisa menganalisis masalah, bukan cuma
menghafal jawaban.
Sayangnya, di banyak sekolah kita, konsep “pola pikir
kritis” masih sering disalahpahami. Misalnya, ketika murid bertanya, “Bu,
kenapa harus hafal rumus ini?” guru malah menjawab, “Jangan tanya, kerjakan
saja!” Nah, di situ STEM langsung meninggal dunia sebelum sempat berkembang.
Tantangan: Antara Kurikulum, Guru, dan Anggaran Kopi
Untuk jujur-jujuran, sistem pendidikan kita memang masih
lebih mirip sistem ujian nasional daripada laboratorium inovasi.
Guru masih sibuk mengejar target nilai, bukan target rasa ingin tahu.
Anak-anak sibuk menghafal definisi, bukan memahami konsep.
Dan sebagian sekolah masih berpikir STEM itu singkatan dari “Susah Tapi Emang
Menarik”.
Belum lagi urusan fasilitas. Di satu sekolah, anak-anak
sudah pakai tablet dan printer 3D. Di sekolah lain, penghapus papan tulis masih
berupa tisu basah bekas kantin.
Jadi, kalau mau bicara revolusi pendidikan, kita harus mulai dari
revolusi stabilitas WiFi dulu.
Tapi bukan berarti tak ada harapan. Pemerintah, yayasan, dan
dunia usaha sebenarnya sudah mulai bergerak. Stephanie Riady misalnya, lewat
program Pelita Harapan dan Riady Foundation, sudah berusaha menjembatani
kesenjangan itu dengan pelatihan guru dan materi ajar baru.
Masalahnya, kalau diibaratkan sinetron, mereka baru masuk episode 3, sementara
dramanya bakal panjang sampai 200 episode. Tapi tak apa — asal tidak disponsori
oleh iklan micin pendidikan, kita masih punya harapan.
AI: Asisten Guru yang Tak Pernah Minta THR
Sekarang masuk ke topik yang paling seksi: AI
dalam pendidikan.
Bagi sebagian guru, AI terdengar seperti murid ajaib yang tak pernah absen dan
tahu semua jawaban. Tapi jangan salah — AI bukan pengganti guru. Ia cuma alat
bantu yang bisa mempercepat pembelajaran.
Kalau guru itu juru masak, AI adalah mixer otomatis yang bisa
bikin adonan lebih cepat — tapi kalau bahannya salah, tetap gosong juga.
AI bisa membantu siswa belajar sesuai gaya masing-masing,
memberikan feedback instan, dan bahkan bikin simulasi eksperimen.
Namun, AI juga bisa berulah kalau tidak diatur. Misalnya, kalau sistemnya salah
baca, nilai anak bisa berubah dari 85 jadi 58 — dan tiba-tiba seluruh grup WA
orang tua jadi ajang protes nasional.
Karena itu, pendidikan AI harus diiringi dengan etika
dan regulasi. Data siswa jangan sampai bocor, dan algoritma jangan sampai
bias. Kalau tidak, nanti anak yang nilainya rendah bisa disalahkan sistem —
bukan karena malas, tapi karena “AI-nya lagi bad mood.”
Kesimpulan: Mendidik Anak Bukan Sekadar Biar Bisa Ngoding
Pada akhirnya, pendidikan STEM bukan soal membuat anak kita
jago matematika atau bisa bikin aplikasi yang viral. Tujuannya adalah
membentuk manusia berpikir, bukan sekadar manusia pengikut
tren.
Karena di masa depan, pekerjaan banyak yang diambil robot, tapi tanggung jawab
moral, kreativitas, dan empati — itu tetap pekerjaan manusia.
Indonesia butuh generasi yang bisa berpikir seperti ilmuwan,
bekerja seperti insinyur, berimajinasi seperti seniman, dan berperilaku seperti
manusia utuh.
Dan untuk itu, kita harus berani memperbaiki cara mengajar — bukan hanya
mengganti buku teks, tapi juga meng-upgrade logika nasional kita dari
mode “copy-paste” menjadi “create and solve”.
Jadi, kalau ada yang masih bertanya:
“Kenapa sih harus repot belajar STEM segala?”
Jawab saja dengan tenang:
“Karena kalau tidak, nanti anak kita bukan menciptakan
robot, tapi malah jadi konten edukasi gagal di TikTok.”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.