Di dunia sawah, para petani sering kali lebih jenius daripada ilmuwan. Mereka tidak butuh laboratorium, cukup sepetak sawah, segelas kopi, dan tikus-tikus yang terlalu percaya diri. Salah satu strategi viral belakangan ini adalah: kalau mau racun tikus berhasil, sediakan juga air di dekatnya.
Sekilas, ini terdengar seperti tindakan welas asih—semacam program CSR untuk
tikus yang kehausan. Tapi jangan salah. Di balik kelembutan itu, tersembunyi
strategi militer tingkat tinggi.
๐ง Tikus, Racun, dan
Psikologi Terakhir Sebelum Wafat
๐ Etika Ekologis: Jangan
Sampai Burung Hantu Ikut Masuk ICU
Namun, seperti halnya semua strategi cerdas, selalu ada bab
“tetapi.” Air yang jadi saksi bisu drama tikus tadi bisa berubah jadi racun
bagi makhluk lain. Burung hantu yang niat makan malam bisa malah jadi pasien
tak sengaja. Ular pun mungkin berkata:
“Aku cuma lewat, kok ikut pingsan?”
Karena itu, para petani bijak menyarankan agar airnya
ditaruh dalam wadah tertutup—sejenis “minibar eksklusif” yang hanya bisa
diakses oleh tamu berbulu abu-abu bernama Rattus norvegicus.
๐พ Antara Sains dan Saung
“Jika aku petani, mungkin aku juga akan menyediakan air.”
Namun, bagi yang teliti, ada satu catatan kecil: air
sebenarnya tidak mempercepat kematian tikus—ia hanya membuatnya lebih teratur.
Jadi ini bukan metode pembunuhan cepat, tapi metode pembunuhan rapi.
๐ฟ Kesimpulan: Sawah,
Akal, dan Sedikit Humor Alam
Dalam bahasa sederhana:
“Kita tidak sedang perang total dengan alam, kita cuma
negosiasi dengan logika.”
Dan mungkin, di antara daun padi yang bergoyang, ada seekor
tikus terakhir yang berbisik lirih,
“Air ini… terlalu dalam untuk sekadar diminum.” ๐ง
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.