Ketika Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik sebagai Menteri
Keuangan, banyak orang berpikir: "Akhirnya, ada Menkeu yang ngerti
ekonomi dari sisi rakyat!" Tapi setelah duduk di kursi empuk
kementerian, ternyata pandangan idealis itu perlahan berubah jadi... realistis.
Atau dalam bahasa dapur rumah tangga: dulu mau menurunkan harga cabai, sekarang
sadar harga bawang pun nggak bisa diatur tanpa rapat lintas kementerian.
☕ 1. Dari Janji Manis ke Realisme
Fiskal
Sebelum jadi Menkeu, Purbaya dikenal lantang: “Turunkan
PPN jadi 8%! Rakyat butuh napas!”
Tapi setelah melihat laporan penerimaan negara, beliau mungkin berpikir: “Waduh,
napas rakyat panjang, tapi napas APBN bisa sesak.”
Baru tahu ternyata setiap 1% penurunan PPN itu setara dengan
kehilangan Rp70 triliun — alias cukup buat membangun jalan tol dari Sabang
sampai hampir Serang (sisanya tergantung tender).
Jadi, kalau dulu Purbaya bicara soal keringanan pajak, kini dia bicara
soal keseimbangan spiritual antara keadilan fiskal dan keberlangsungan
negara.
Dengan gaya bijak khas pejabat baru, Purbaya menyebut
pendekatannya “realisme fiskal”. Terjemahannya: janji tetap manis,
tapi pembukuannya pahit.
๐ธ 2. Stimulus Dobel:
Antara Saling Bantu atau Saling Gantung
Tak mau sendirian, Purbaya menggandeng Bank Indonesia.
Keduanya sepakat menciptakan “stimulus dobel”: BI menurunkan bunga, Kemenkeu
menurunkan harapan.
Purbaya lalu memindahkan dana pemerintah Rp200 triliun dari BI ke bank-bank
pelat merah — semacam pinjam dulu ya, nanti digerakkan ke sektor riil.
Sayangnya, sebagian ekonom curiga:
“Apakah ini gotong royong ekonomi, atau sekadar
gotong-gotongan likuiditas?”
Masalahnya, kalau dana Rp200 triliun itu disalurkan ke
proyek produktif, bagus. Tapi kalau nyasar ke kredit motor, nanti rakyat memang
semangat kerja — tapi macetnya bukan cuma di jalan, juga di laporan NPL.
Belum lagi risiko lain: kalau BI terlalu sering menuruti
Kemenkeu, bisa-bisa nanti muncul gosip, “Moneter udah nggak independen, udah
jadian sama fiskal.”
๐ฆ 3. Visi Emas 2045: Kaya
Raya tapi Tetap Hemat
Di balik angka-angka serius itu, Purbaya punya visi mulia:
menjadikan Indonesia Emas 2045.
Targetnya pertumbuhan 6–8% — terdengar optimis, sampai seseorang bertanya: “Per
tahun, Pak?”
Tapi Purbaya tahu, pertumbuhan tinggi tanpa literasi
keuangan ibarat kasih ATM ke anak TK.
Makanya lahirlah program “Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR)” — agar dari kecil
anak-anak sudah tahu bahwa menabung itu penting, walau nanti tetap bingung
kenapa bunga tabungan lebih kecil dari biaya admin.
Data SNLIK menunjukkan inklusi keuangan sudah 92%, tapi
literasinya baru 66%.
Artinya, sebagian rakyat sudah punya rekening, tapi belum paham saldo itu bukan
bonus bulanan dari bank.
๐ 4. Antara Stabilitas
dan Akselerasi: Drama Dana Mengendap
Masalah klasik tetap muncul: dana daerah Rp234 triliun
mengendap di bank.
Seolah-olah pemerintah pusat sudah kasih uang, tapi pemda masih mikir, “Dibelanjakan
sekarang atau tunggu diskon tender akhir tahun?”
Jadilah ekonomi kita seperti motor bebek yang gasnya ditekan
dua orang sekaligus — yang satu pengen ngebut, yang satu takut bensinnya habis.
Rieke Diah Pitaloka pun mengingatkan pentingnya data yang
akurat. Karena kalau datanya salah, bisa-bisa kita bangun jembatan di tempat
yang belum ada sungainya.
๐ช Kesimpulan: Antara
Harapan dan Pembukuan
Kisah fiskal Purbaya adalah refleksi dari hidup kita semua:
ingin dermawan, tapi takut saldo merah.
Kita semua ingin pertumbuhan, tapi juga butuh stabilitas.
Maka tak heran, dilema Purbaya terdengar sangat manusiawi — seperti bapak rumah
tangga yang ingin belikan anaknya sepeda baru, tapi baru ingat cicilan rumah
belum lunas.
Jadi, ketika Purbaya bicara tentang “realisme fiskal”,
mungkin yang ia maksud adalah ini:
“Kalau mau kaya, jangan cuma mimpi besar — tapi juga
hitungannya jangan minus.”
Dan mungkin, dalam hati kecilnya, beliau berdoa setiap
malam:
“Ya Tuhan, berikan kami pertumbuhan 8 persen, tapi jangan
biarkan defisit 9.”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.