Di pojok-pojok desa, di mana sinyal masih suka hilang kalau
angin kencang, berdirilah pahlawan ekonomi sejati: warung kuliner rakyat.Mereka menjual sayur asem, mendoan, dan sambal terasi yang aromanya bisa
menyaingi notifikasi “gratis ongkir” dari Shopee.
Harganya? Rp5.000 — cukup buat kenyang, meski tidak cukup untuk beli kuota.
Warung-warung ini bukan sekadar tempat makan. Mereka adalah startup
keluarga dengan modal wajan dan tekad baja. CEO-nya ibu, CFO-nya bapak, dan
tim operasionalnya anak sulung yang disuruh antar pesanan naik sepeda.
1. Antara Bertahan Hidup dan Bertahan Sinyal
Secara hukum, mereka tergolong “UMKM Mikro”. Tapi secara
spiritual, mereka adalah wirausaha makro dalam urusan sabar.
Omzet harian Rp300.000 sudah bagus — itu pun setelah dipotong minyak goreng,
gas elpiji, dan pulsa WhatsApp.
Sebagian besar belum go-digital. Katanya, 35% UMKM desa
belum tersentuh teknologi.
Namun ketika ditanya kenapa belum pakai GoFood, jawabannya menohok:
“Mas, GoFood aja belum sampai sini. Yang sering datang malah
tagihan listrik.”
Sementara itu, ritel modern seperti Indomaret sudah buka
cabang di tiap belokan.
Warung desa pun mulai tersaingi — bukan hanya karena harga, tapi karena lampu
tokonya lebih terang daripada masa depan anak muda yang masih nganggur.
2. Kemenko PM dan Revolusi Mendoan
Untungnya, pemerintah tidak tinggal diam.
Kemenko Pemberdayaan Masyarakat di bawah Muhaimin Iskandar tengah menyiapkan
kebijakan pemerataan rantai bisnis.
Artinya, warung tidak akan dibiarkan tenggelam di tengah banjir diskon
minimarket.
Program seperti “Perintis Berdaya” dan “Berdaya
Bersama” menghadirkan pelatihan digital bersama Google dan Meta.
Para ibu diajari bikin konten Instagram, daftar di GoFood, bahkan memanfaatkan
AI untuk promosi.
Barangkali nanti muncul iklan seperti ini di Facebook:
“Mendoan Bu Sri – renyahnya bikin kamu ingat mantan, tapi
tanpa luka batin.”
Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro juga membantu membeli cooler
box, motor listrik, bahkan printer nota digital.
Meski begitu, ada dilema baru: setelah punya QRIS, pelanggannya malah tidak
punya saldo.
“Bu, saya bayar pakai QRIS aja ya?”
“Boleh, Nak. Tapi itu saldonya ada?”
“Belum, Bu. Nanti kalau BLT cair.”
Begitulah ironi ekonomi digital di desa: teknologinya
futuristik, tapi saldo e-wallet-nya fluktuatif — kadang ada, kadang cuma doa.
3. Digitalisasi dan Dilema Sambal Cashless
Namun jangan salah, banyak warung berhasil naik kelas.
Di Bantul, omzet warung meningkat dari Rp80.000 ke Rp1,2 juta per hari
setelah go online.
Sekarang pelanggan datang lewat aplikasi, bukan jalan kaki.
Sayangnya, beberapa pelanggan masih bingung soal QRIS:
“Bu, kalau saya bayar pakai QRIS, nasinya keluar dari HP
gak?”
Google Maps juga jadi alat promosi.
Warung yang dulu tersembunyi di balik pohon pisang kini bisa ditemukan dengan
bintang lima dan komentar filosofis:
⭐⭐⭐⭐⭐ “Tempe gorengnya renyah,
kayak hidupku sebelum cicilan datang.”
Lebih hebat lagi, beberapa pedagang bersatu dalam koperasi
digital desa — mereka berbagi rute antar pesanan dan bahan baku secara
online.
Gotong royong tetap hidup, hanya bedanya sekarang pakai grup WhatsApp dan
link Google Sheet.
4. Dari Warung ke Dunia Maya, dari Desa ke Dunia
Jangan remehkan warung Rp5.000 itu. Mereka bukan sekadar
pengisi perut rakyat, tapi juga penjaga stabilitas sosial — karena kalau
semua orang lapar, bisa-bisa negara rawan demo.
Kini mereka belajar digital marketing sambil ngulek sambal,
dan pelan-pelan berubah jadi “Warung 2.0”.
Bayangkan beberapa tahun lagi, papan nama di depan rumah sudah berubah:
“Bu Yati’s Digital Kitchen — Gratis Sambal, Asal Bayar
Cash, Soalnya QRIS-nya Lagi Error.”
Penutup: Revolusi Tidak Selalu Butuh Startup
Transformasi ekonomi bukan cuma milik kantor ber-AC dan
pitch deck di SCBD.
Kadang, revolusi dimulai dari dapur berasap dan saldo e-wallet Rp3.742.
Jika suatu hari Indonesia benar-benar jadi bangsa digital
yang inklusif, sejarahnya mungkin tak dimulai dari Silicon Valley — tapi dari warung
sederhana yang bermimpi besar di balik aroma bawang goreng.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.