Ketika Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, mengumumkan program “Pasar 1001 Malam Ekraf & UMKM”, banyak orang mengira ini bakal jadi sinetron Ramadan versi ekonomi kreatif. Tapi ternyata bukan. Ini bukan kisah jin keluar dari teko, melainkan upaya serius agar UMKM dan pelaku Ekraf Indonesia tak cuma jadi penonton di pesta ekonomi dunia.
Nama “1001 Malam” memang bikin kita teringat pada
kisah-kisah magis dari Baghdad, tapi kali ini yang muncul bukan jin Aladdin,
melainkan jinnovasi ekonomi — jin yang bantuin pelaku usaha
naik kelas tanpa harus menggosok teko KUR dulu.
๐งบ 1. UMKM: Sang Superhero
Tanpa Jubah
UMKM ini mirip pahlawan super yang tak pernah dapat sorotan
kamera. Mereka bekerja keras setiap hari, tapi sering tak masuk berita. Padahal
data bicara lantang: 61% lebih PDB Indonesia itu hasil kerja
mereka, plus 97% lapangan kerja juga mereka yang buka.
Masalahnya, seperti kisah klasik, pahlawan ini sering tak
punya senjata. Akses modal sulit, literasi digital rendah, dan akses pasar?
Kadang-kadang cuma sampai grup WhatsApp RT. Maka, kehadiran Pasar 1001
Malam ini ibarat undangan ke pesta gala ekonomi — tapi kali ini, si
Cinderella UMKM tak perlu takut sepatu kacanya pecah, karena semua sudah
disediakan QRIS dan KUR.
๐️ 2. “Creative
Compound”: Pasar yang Bukan Pasar
Nah, bagian paling keren dari program ini adalah
konsep “creative compound”. Ini bukan pasar malam biasa yang
selesai jam 10 lalu tinggal sampah dan sisa sate. Ini lebih seperti campus
ekonomi kreatif: tempat UMKM, seniman, dan pebisnis muda nongkrong bareng,
bikin ide, jualan, dan mungkin sekalian bikin TikTok edukatif tentang branding.
Yang paling menarik, lokasinya bukan di pinggir sawah, tapi
di kawasan elite seperti Sudirman dan SCBD. Jadi, jangan kaget kalau nanti kita
lihat penjual batik duduk sebelahan sama pekerja kantoran yang baru pulang
lembur. Itulah inklusivitas kelas dunia versi Indonesia: satu
tangan pegang kopi susu, satu tangan lagi pegang tas anyaman rotan lokal.
๐ป 3. Dari Teko ke Tekno
Kalau dulu usaha kecil butuh keajaiban jin untuk berkembang,
sekarang cukup pakai fintech dan QRIS. Pemerintah mendorong
digitalisasi agar UMKM tak cuma jualan di warung, tapi juga di e-commerce dan
platform daring.
Bayangkan nanti di Pasar 1001 Malam: seorang ibu penjual
keripik tempe bisa teriak,
“Diskon 10% buat yang scan QRIS malam ini!”
Sementara di sudut lain, desainer muda sibuk live-streaming
koleksi tas daur ulangnya dengan caption,
“Sampahmu bisa jadi gaya hidup, asal kreatif dan dapat izin
Dinas Perdagangan.”
Begitulah dunia baru: teko diganti tekno, tapi
semangatnya tetap — menjemput rezeki dengan cara yang halal, kreatif, dan
terkoneksi.
๐งฉ 4. Birokrasi: Tantangan
yang Lebih Seram dari Jin Ifrit
Tentu saja, setiap kisah 1001 malam punya antagonisnya.
Dalam hal ini, birokrasi adalah tokoh paling ditakuti. Kadang
lebih licin dari jin, dan lebih lama keluar izinnya daripada cerita
Scheherazade yang bersambung 1001 malam.
Maka, agar program ini tidak berhenti di spanduk dan
konferensi pers, perlu pendampingan nyata. UMKM butuh mentor, bukan
sekadar motivator. Kalau bisa, kolaborasi dengan kampus, akademisi, dan
komunitas — supaya tiap kios bukan cuma tempat jualan, tapi juga tempat belajar
mengelola bisnis.
✨ Dari Dongeng
Menjadi Daya Saing
Program Pasar 1001 Malam Ekraf & UMKM ini
bukan sekadar acara jualan dengan lampu warna-warni. Ia adalah metafora
kebangkitan ekonomi rakyat, versi era digital.
Jika berjalan konsisten, “Pasar 1001 Malam” bisa jadi
panggung baru tempat UMKM menunjukkan bahwa mereka tak kalah dari merek global.
Dari pasar kaki lima menuju catwalk ekonomi 2045 — dengan satu prinsip
sederhana:
“Rezeki boleh dicari di dunia digital, tapi tetap diawali
dengan doa dan strategi nasional.”
Dan siapa tahu, ketika Indonesia benar-benar sampai di Visi
Emas 2045, kisah ini akan dikenang bukan sebagai dongeng, tapi
sebagai legenda ekonomi rakyat — yang dimulai dari sebuah
pasar bernama “1001 Malam”, di mana ide, keringat, dan optimisme bergandengan
tangan menuju masa depan yang gemilang.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.