Jumat, 31 Oktober 2025

๐Ÿฎ Pasar 1001 Malam: Ketika UMKM Ikut Turun ke Catwalk Ekonomi 2045

Ketika Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, A. Muhaimin Iskandar, mengumumkan program “Pasar 1001 Malam Ekraf & UMKM”, banyak orang mengira ini bakal jadi sinetron Ramadan versi ekonomi kreatif. Tapi ternyata bukan. Ini bukan kisah jin keluar dari teko, melainkan upaya serius agar UMKM dan pelaku Ekraf Indonesia tak cuma jadi penonton di pesta ekonomi dunia.

Nama “1001 Malam” memang bikin kita teringat pada kisah-kisah magis dari Baghdad, tapi kali ini yang muncul bukan jin Aladdin, melainkan jinnovasi ekonomi — jin yang bantuin pelaku usaha naik kelas tanpa harus menggosok teko KUR dulu.

๐Ÿงบ 1. UMKM: Sang Superhero Tanpa Jubah

UMKM ini mirip pahlawan super yang tak pernah dapat sorotan kamera. Mereka bekerja keras setiap hari, tapi sering tak masuk berita. Padahal data bicara lantang: 61% lebih PDB Indonesia itu hasil kerja mereka, plus 97% lapangan kerja juga mereka yang buka.

Masalahnya, seperti kisah klasik, pahlawan ini sering tak punya senjata. Akses modal sulit, literasi digital rendah, dan akses pasar? Kadang-kadang cuma sampai grup WhatsApp RT. Maka, kehadiran Pasar 1001 Malam ini ibarat undangan ke pesta gala ekonomi — tapi kali ini, si Cinderella UMKM tak perlu takut sepatu kacanya pecah, karena semua sudah disediakan QRIS dan KUR.

๐Ÿ—️ 2. “Creative Compound”: Pasar yang Bukan Pasar

Nah, bagian paling keren dari program ini adalah konsep “creative compound”. Ini bukan pasar malam biasa yang selesai jam 10 lalu tinggal sampah dan sisa sate. Ini lebih seperti campus ekonomi kreatif: tempat UMKM, seniman, dan pebisnis muda nongkrong bareng, bikin ide, jualan, dan mungkin sekalian bikin TikTok edukatif tentang branding.

Yang paling menarik, lokasinya bukan di pinggir sawah, tapi di kawasan elite seperti Sudirman dan SCBD. Jadi, jangan kaget kalau nanti kita lihat penjual batik duduk sebelahan sama pekerja kantoran yang baru pulang lembur. Itulah inklusivitas kelas dunia versi Indonesia: satu tangan pegang kopi susu, satu tangan lagi pegang tas anyaman rotan lokal.

๐Ÿ’ป 3. Dari Teko ke Tekno

Kalau dulu usaha kecil butuh keajaiban jin untuk berkembang, sekarang cukup pakai fintech dan QRIS. Pemerintah mendorong digitalisasi agar UMKM tak cuma jualan di warung, tapi juga di e-commerce dan platform daring.

Bayangkan nanti di Pasar 1001 Malam: seorang ibu penjual keripik tempe bisa teriak,

“Diskon 10% buat yang scan QRIS malam ini!”

Sementara di sudut lain, desainer muda sibuk live-streaming koleksi tas daur ulangnya dengan caption,

“Sampahmu bisa jadi gaya hidup, asal kreatif dan dapat izin Dinas Perdagangan.”

Begitulah dunia baru: teko diganti tekno, tapi semangatnya tetap — menjemput rezeki dengan cara yang halal, kreatif, dan terkoneksi.

๐Ÿงฉ 4. Birokrasi: Tantangan yang Lebih Seram dari Jin Ifrit

Tentu saja, setiap kisah 1001 malam punya antagonisnya. Dalam hal ini, birokrasi adalah tokoh paling ditakuti. Kadang lebih licin dari jin, dan lebih lama keluar izinnya daripada cerita Scheherazade yang bersambung 1001 malam.

Maka, agar program ini tidak berhenti di spanduk dan konferensi pers, perlu pendampingan nyata. UMKM butuh mentor, bukan sekadar motivator. Kalau bisa, kolaborasi dengan kampus, akademisi, dan komunitas — supaya tiap kios bukan cuma tempat jualan, tapi juga tempat belajar mengelola bisnis.

 Dari Dongeng Menjadi Daya Saing

Program Pasar 1001 Malam Ekraf & UMKM ini bukan sekadar acara jualan dengan lampu warna-warni. Ia adalah metafora kebangkitan ekonomi rakyat, versi era digital.

Jika berjalan konsisten, “Pasar 1001 Malam” bisa jadi panggung baru tempat UMKM menunjukkan bahwa mereka tak kalah dari merek global. Dari pasar kaki lima menuju catwalk ekonomi 2045 — dengan satu prinsip sederhana:

“Rezeki boleh dicari di dunia digital, tapi tetap diawali dengan doa dan strategi nasional.”

Dan siapa tahu, ketika Indonesia benar-benar sampai di Visi Emas 2045, kisah ini akan dikenang bukan sebagai dongeng, tapi sebagai legenda ekonomi rakyat — yang dimulai dari sebuah pasar bernama “1001 Malam”, di mana ide, keringat, dan optimisme bergandengan tangan menuju masa depan yang gemilang.

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.