Senin, 27 Oktober 2025

๐ŸŽญ Sumpah Pemuda dan Kolonial yang Terlalu Percaya Diri: Komedi Serius dari Tahun 1928

Seandainya Kongres Pemuda II difilmkan hari ini, mungkin genrenya adalah drama politik-komedi: para pemuda berapi-api berbicara tentang masa depan bangsa, sementara pemerintah kolonial Belanda duduk di sudut ruangan dengan catatan intel di tangan—pura-pura tenang, tapi sebenarnya gugup seperti penjaga kantin yang baru sadar anak-anaknya sedang merencanakan kudeta harga gorengan.

๐Ÿงพ Izin Resmi: Drama Persetujuan yang Penuh Syarat

Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu menampilkan wajah paling diplomatisnya. Mereka berkata,

“Silakan adakan kongres, asal jangan politik, jangan bendera, jangan teriak merdeka, dan jangan terlalu bahagia.”

Kongres diperbolehkan berlangsung karena dianggap “tidak berbahaya”. Panitianya dianggap anak baik-baik, bukan “pemuda kiri” macam PKI. Bahkan, untuk memperlihatkan rasa percaya yang sangat terbatas, Belanda menghadirkan polisi sebagai penonton kehormatan, lengkap dengan tugas mencatat pidato dan mengukur kadar bahaya setiap kalimat.

Namun puncak kejenakaannya adalah ketika pejabat kolonial, Van der Plas, menulis laporan tentang lagu Indonesia Raya. Katanya, melodinya “dangkal” dan rimanya “cacat”. Ironisnya, kritik musik paling pedas itu datang dari bangsa yang setiap tahun menyelenggarakan festival musik tiup yang lagunya hanya tiga nada dan satu sepatu kayu.

๐Ÿ” Pengawasan Kolonial: Ketika Intel Tak Paham Lirik

Di balik senyum “izinnya sudah keluar”, Belanda menjalankan operasi pengawasan yang lebih teliti daripada admin WhatsApp grup keluarga.
PID (Politieke Inlichtingen Dienst) mencatat semua pidato, mencium setiap aroma nasionalisme, bahkan mungkin menghitung volume tepuk tangan.

Namun panitia kongres tidak kalah licik—eh, cerdas.
Mereka sengaja memindahkan lokasi kongres tiga kali.
Tujuannya? Biar para intel lelah cari parkir.
Dan saat W.R. Supratman memainkan Indonesia Raya, ia memetik biolanya tanpa lirik. Alasannya sederhana: kalau polisi mendengar kata “merdeka”, acara bisa bubar, tapi kalau cuma mendengar nada, mereka mungkin mengira itu lagu gereja yang salah tempo.

๐Ÿง  Kesalahan Hitung Kolonial: Dari “Permainan Anak Muda” ke Fondasi Negara

Sementara para pemuda menulis sejarah, para pejabat Belanda sibuk menulis laporan.
Gubernur Jenderal de Graeff menyebut kongres itu cuma “permainan anak muda.”
Benar juga — hanya saja permainan itu berakhir dengan lahirnya sebuah negara.

Kesalahan perhitungan mereka terletak pada satu hal:
mereka pikir nasionalisme itu seperti penyakit yang bisa dicegah dengan masker,
padahal ia adalah virus ide — menular lewat lagu, bahasa, dan semangat.

Tiga kalimat ikrar Sumpah Pemuda — “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” — mungkin terdengar sederhana,
tapi bagi kekuasaan kolonial, itu seperti tiga granat yang dilempar sambil tersenyum.
Belanda menganggapnya angin lalu, padahal itu angin sejarah yang kelak meniup bendera Merah Putih sampai ke tiang kemerdekaan 1945.

๐ŸŽ“ Pelajaran dari Tahun 1928: Jangan Remehkan Rapat yang Terlalu Tenang

Kisah ini membuktikan: kadang penguasa kalah bukan karena rakyat memberontak, tapi karena mereka tidak peka terhadap ide yang sedang tumbuh.
Kongres Pemuda II adalah bukti bahwa “izin yang diawasi” bisa berujung pada “pengawasan yang ditinggalkan sejarah”.

Dan jika hari ini Belanda masih penasaran bagaimana semua itu bisa terjadi, jawabannya sederhana:
karena sejarah tidak ditulis oleh yang punya izin, tapi oleh yang punya keyakinan —
bahkan ketika keyakinan itu harus disembunyikan di balik bunyi biola yang “tidak berbahaya”.

Kesimpulan :
Sumpah Pemuda adalah contoh sempurna dari diplomasi tersenyum sambil menyembunyikan api di dada. Belanda berpikir mereka sedang mengawasi seminar pemuda yang membosankan; nyatanya mereka sedang menghadiri soft launching Indonesia Merdeka.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.