Minggu, 26 Oktober 2025

Apple dan Starlink: Ketika Langit Turun ke Saku, tapi Hanya untuk yang Kaya

Di suatu pagi yang penuh sinyal dan notifikasi, jagat maya mendadak geger. Bukan karena perang, bukan pula karena gosip artis — tapi karena kabar bahwa Apple dan SpaceX mungkin akan menikah secara teknologi. Bayangkan: iPhone yang bisa nyambung ke satelit Starlink! Akhirnya, kita bisa update status “nyasar di tengah hutan” langsung dari tengah hutan.

Namun, seperti biasa, di balik setiap kabar “revolusioner”, selalu ada bumbu “resek dan selektif”. Kabar ini terdengar seperti lagu lama: “Semua akan terhubung pada waktunya — asal kamu beli iPhone terbaru.”

Revolusi Digital: Tapi Jangan untuk Semua Orang, Ya?

Mari kita jujur. Ide bahwa ponsel kita bisa tetap online bahkan di Kutub Utara terdengar keren — sampai kita sadar bahwa hanya iPhone yang bisa melakukannya. Para pengguna Android pun mungkin menatap langit dan berkata, “Ah, ternyata bintang-bintang itu hanya milik mereka yang mampu mencicil iPhone 17 Pro Max dengan paket satelit.”

Padahal, janji awal teknologi ini heroik sekali: menyelamatkan nyawa, memperluas akses informasi, memutus isolasi geografis. Tapi ketika disandingkan dengan harga perangkat dan langganan bulanan, janji itu berubah jadi seperti iklan operator: “Koneksi cepat, tapi hanya untuk kalangan tertentu.”

Sementara itu, pengguna Android yang jumlahnya seperti populasi semut di dunia, hanya bisa menatap memes yang bertuliskan:

“Kami juga ingin sinyal dari langit, bukan cuma dari tower sebelah masjid.”

Oligarki Teknologi: Ketika Elon dan Tim Cook Main Monopoli

Bayangkan jika Apple dan SpaceX benar-benar jadi kolaborasi. Di satu sisi, kita punya Elon Musk, yang sudah punya ribuan satelit di orbit dan ego setinggi orbit itu sendiri. Di sisi lain, ada Tim Cook, yang menjual ponsel dengan harga setara motor listrik. Jika keduanya bersatu, mereka bisa menguasai dunia — atau setidaknya menguasai sinyalnya.

Salah satu warganet bahkan menyindir:

“Kalau dua perusahaan ini bersatu, tinggal nunggu mereka bikin gereja baru bernama Church of Infinite Connectivity.

Dan kita semua akan menyembah dengan kalimat sakral: “Sinyal kami yang di orbit, datanglah kerajaanmu, stabil lah koneksimu...”

Masalah Privasi: Big Brother Menatap dari Langit

Kalau sekarang kamu merasa diawasi karena kamera jalan dan CCTV, tunggu sampai sinyalmu datang langsung dari satelit. Bayangkan betapa romantisnya:

“Aku menatap bintang malam.”

“Bukan bintang, itu satelit Elon yang lagi baca pesanmu.”

Konon, kemampuan melacak dari orbit bisa membuat pemerintah otoriter tersenyum bahagia — mereka tak perlu lagi mata-mata di lapangan, cukup subscription plan dari Apple.

Kesimpulan: Konektivitas untuk Semua (Kecuali yang Tidak Bisa Beli)

Akhirnya, dunia mungkin akan benar-benar terhubung. Dari puncak Everest sampai pojok warung kopi di pelosok desa, sinyal akan datang menyapa. Tapi dengan satu catatan kecil: sinyal itu mungkin tidak mampir ke ponselmu.

Jadi, sementara Apple dan Starlink sedang sibuk menjahit langit dengan kabel tak terlihat, kita — rakyat biasa — mungkin akan tetap mencari posisi sinyal di pojok kamar, mengangkat ponsel tinggi-tinggi, dan berdoa pelan:

“Ya Tuhan, jika bukan sinyal dari satelit, minimal sinyal dari BTS sebelah, ya?”

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.