Di suatu pagi yang penuh sinyal dan notifikasi, jagat maya mendadak geger. Bukan karena perang, bukan pula karena gosip artis — tapi karena kabar bahwa Apple dan SpaceX mungkin akan menikah secara teknologi. Bayangkan: iPhone yang bisa nyambung ke satelit Starlink! Akhirnya, kita bisa update status “nyasar di tengah hutan” langsung dari tengah hutan.
Namun, seperti biasa, di balik setiap kabar “revolusioner”,
selalu ada bumbu “resek dan selektif”. Kabar ini terdengar seperti lagu lama:
“Semua akan terhubung pada waktunya — asal kamu beli iPhone terbaru.”
Revolusi Digital: Tapi Jangan untuk Semua Orang, Ya?
Mari kita jujur. Ide bahwa ponsel kita bisa tetap online
bahkan di Kutub Utara terdengar keren — sampai kita sadar bahwa hanya iPhone yang
bisa melakukannya. Para pengguna Android pun mungkin menatap langit dan
berkata, “Ah, ternyata bintang-bintang itu hanya milik mereka yang mampu
mencicil iPhone 17 Pro Max dengan paket satelit.”
Padahal, janji awal teknologi ini heroik sekali:
menyelamatkan nyawa, memperluas akses informasi, memutus isolasi geografis.
Tapi ketika disandingkan dengan harga perangkat dan langganan bulanan, janji
itu berubah jadi seperti iklan operator: “Koneksi cepat, tapi hanya untuk
kalangan tertentu.”
Sementara itu, pengguna Android yang jumlahnya seperti
populasi semut di dunia, hanya bisa menatap memes yang bertuliskan:
“Kami juga ingin sinyal dari langit, bukan cuma dari tower
sebelah masjid.”
Oligarki Teknologi: Ketika Elon dan Tim Cook Main
Monopoli
Bayangkan jika Apple dan SpaceX benar-benar jadi kolaborasi.
Di satu sisi, kita punya Elon Musk, yang sudah punya ribuan satelit di orbit
dan ego setinggi orbit itu sendiri. Di sisi lain, ada Tim Cook, yang menjual
ponsel dengan harga setara motor listrik. Jika keduanya bersatu, mereka bisa
menguasai dunia — atau setidaknya menguasai sinyalnya.
Salah satu warganet bahkan menyindir:
“Kalau dua perusahaan ini bersatu, tinggal nunggu mereka
bikin gereja baru bernama Church of Infinite Connectivity.”
Dan kita semua akan menyembah dengan kalimat sakral: “Sinyal
kami yang di orbit, datanglah kerajaanmu, stabil lah koneksimu...”
Masalah Privasi: Big Brother Menatap dari Langit
Kalau sekarang kamu merasa diawasi karena kamera jalan dan
CCTV, tunggu sampai sinyalmu datang langsung dari satelit. Bayangkan betapa
romantisnya:
“Aku menatap bintang malam.”
“Bukan bintang, itu satelit Elon yang lagi baca pesanmu.”
Konon, kemampuan melacak dari orbit bisa membuat pemerintah
otoriter tersenyum bahagia — mereka tak perlu lagi mata-mata di lapangan,
cukup subscription plan dari Apple.
Kesimpulan: Konektivitas untuk Semua (Kecuali yang Tidak
Bisa Beli)
Akhirnya, dunia mungkin akan benar-benar terhubung. Dari
puncak Everest sampai pojok warung kopi di pelosok desa, sinyal akan datang
menyapa. Tapi dengan satu catatan kecil: sinyal itu mungkin tidak mampir ke
ponselmu.
Jadi, sementara Apple dan Starlink sedang sibuk menjahit
langit dengan kabel tak terlihat, kita — rakyat biasa — mungkin akan tetap
mencari posisi sinyal di pojok kamar, mengangkat ponsel tinggi-tinggi, dan
berdoa pelan:
“Ya Tuhan, jika bukan sinyal dari satelit, minimal sinyal
dari BTS sebelah, ya?”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.