Bayangkan Anda sedang duduk di kafe kampus, mencoba tampak pintar dengan membaca laporan UNESCO sambil menyeruput kopi susu kekinian. Tiba-tiba Anda menemukan fakta mencengangkan: seluruh Asia Tenggara, dengan segala gegap gempita pembangunan, hanya menghasilkan 750 ribu lulusan STEM per tahun.
Sementara itu, India menghasilkan 2,5 juta, dan China 3,5 juta.
Dalam istilah sepak bola, ini seperti kita ikut Piala Dunia tapi baru belajar
aturan offside.
Nah, di sinilah Gita Wirjawan — tokoh yang entah bagaimana
selalu tampak tenang meski bicara soal hal-hal yang bikin kepala cenat-cenut —
mengibarkan bendera peringatan. Ia baru pulang dari diskusi di Universiti
Malaya dan ICDM Malaysia, dan bukannya membawa oleh-oleh teh tarik, beliau
malah membawa data statistik yang bikin deg-degan.
Ketika Statistik Menyerang
Asia Tenggara, katanya, sedang berada di posisi yang tidak
nyaman: terlalu maju untuk disebut terbelakang, tapi terlalu pelan untuk
mengejar. Ini seperti siswa yang duduk di baris tengah kelas — tidak pernah
dipuji, tidak pernah ditegur, tapi juga tidak pernah juara.
Masalah Struktural: Ketika Jalan Menuju Inovasi Penuh
Lubang
Masalah kita, kata Gita, bukan cuma soal “berapa banyak
sarjana teknik” yang bisa kita hasilkan, tapi apa yang bisa mereka bangun
setelah wisuda. Karena, mari jujur, banyak lulusan teknik yang akhirnya
justru jadi content creator dengan tutorial “cara membuat powerbank dari
kentang”.
Ada lima penyakit kronis yang ia sebut: kurang investasi
pendidikan, infrastruktur lemah, tata kelola rapuh, daya saing bisnis timpang,
dan distribusi publik yang amburadul. Kombinasi ini sempurna — jika Anda ingin
menciptakan serial drama ekonomi regional yang tidak pernah tamat.
China, sebaliknya, sukses karena mereka tahu cara menjahit
hukum, kebijakan, dan kalkulasi risiko menjadi satu baju besi bernama rule
of law and capacity to quantify. Sementara kita, masih sibuk berdebat soal
siapa yang seharusnya pegang kalkulatornya.
Swing State: Menari di Antara Dua Raksasa
Menuju Masa Depan: Dari Kertas Ujian ke Panggung Global
Karena kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton di arena
inovasi global, tepuk tangan untuk startup luar negeri, sambil berbisik, “Itu
sebenarnya ide saya, cuma belum sempat nulis proposalnya.”
Maka mari mulai menanamkan STEM bukan sekadar di kurikulum,
tapi di cara berpikir. Karena, seperti kata pepatah baru yang mungkin
diciptakan Gita Wirjawan di warung kopi,
“Bangsa yang tidak berinvestasi pada STEM ibarat membangun
masa depan di atas Wi-Fi tetangga — cepat atau lambat, pasti terputus.”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.