Senin, 27 Oktober 2025

STEM dan Takdir Asia Tenggara: Antara Kalkulator yang Mati Baterai dan Mimpi Jadi Silicon Valley

Bayangkan Anda sedang duduk di kafe kampus, mencoba tampak pintar dengan membaca laporan UNESCO sambil menyeruput kopi susu kekinian. Tiba-tiba Anda menemukan fakta mencengangkan: seluruh Asia Tenggara, dengan segala gegap gempita pembangunan, hanya menghasilkan 750 ribu lulusan STEM per tahun.


Sementara itu, India menghasilkan 2,5 juta, dan China 3,5 juta.

Dalam istilah sepak bola, ini seperti kita ikut Piala Dunia tapi baru belajar aturan offside.

Nah, di sinilah Gita Wirjawan — tokoh yang entah bagaimana selalu tampak tenang meski bicara soal hal-hal yang bikin kepala cenat-cenut — mengibarkan bendera peringatan. Ia baru pulang dari diskusi di Universiti Malaya dan ICDM Malaysia, dan bukannya membawa oleh-oleh teh tarik, beliau malah membawa data statistik yang bikin deg-degan.

Ketika Statistik Menyerang

Menurut Wirjawan, Malaysia sudah lumayan keren karena 40% lulusannya berasal dari STEM. Tapi jangan dulu tepuk tangan terlalu cepat — China 41%, dan jumlahnya berkali lipat lebih banyak.
Indonesia? Nah, kita masih di angka 20%, yang bahkan kalah dari persentase diskon flash sale tengah malam.

Asia Tenggara, katanya, sedang berada di posisi yang tidak nyaman: terlalu maju untuk disebut terbelakang, tapi terlalu pelan untuk mengejar. Ini seperti siswa yang duduk di baris tengah kelas — tidak pernah dipuji, tidak pernah ditegur, tapi juga tidak pernah juara.

Masalah Struktural: Ketika Jalan Menuju Inovasi Penuh Lubang

Masalah kita, kata Gita, bukan cuma soal “berapa banyak sarjana teknik” yang bisa kita hasilkan, tapi apa yang bisa mereka bangun setelah wisuda. Karena, mari jujur, banyak lulusan teknik yang akhirnya justru jadi content creator dengan tutorial “cara membuat powerbank dari kentang”.

Ada lima penyakit kronis yang ia sebut: kurang investasi pendidikan, infrastruktur lemah, tata kelola rapuh, daya saing bisnis timpang, dan distribusi publik yang amburadul. Kombinasi ini sempurna — jika Anda ingin menciptakan serial drama ekonomi regional yang tidak pernah tamat.

China, sebaliknya, sukses karena mereka tahu cara menjahit hukum, kebijakan, dan kalkulasi risiko menjadi satu baju besi bernama rule of law and capacity to quantify. Sementara kita, masih sibuk berdebat soal siapa yang seharusnya pegang kalkulatornya.

Swing State: Menari di Antara Dua Raksasa

Namun jangan putus asa dulu. Wirjawan mengusulkan strategi elegan: jadilah swing state — bukan berarti harus menari di tengah konflik geopolitik, tapi tahu kapan mencondongkan badan ke China untuk teknologi, dan kapan berpaling ke AS untuk modal.
Kita tidak harus jadi satelit siapa pun — cukup jadi pemain cerdas yang tahu kapan harus mengangguk dan kapan harus pura-pura sibuk mencatat.

Ia juga menegaskan bahwa pendidikan dan energi adalah fondasi segalanya. Karena, kata beliau, “pengetahuan tanpa kekuatan adalah inersia, dan energi tanpa kebijaksanaan adalah pemborosan.”
Atau dalam bahasa rakyat: pintar tapi malas, sama saja dengan colokan tanpa listrik; semangat tapi tanpa arah, ya cuma muter kipas angin di padang pasir.

Menuju Masa Depan: Dari Kertas Ujian ke Panggung Global

Kesimpulan Wirjawan jelas tapi tidak manis: Asia Tenggara sedang di ujung tanduk. Tapi jangan khawatir — tanduk itu bisa juga jadi pegangan kalau kita mau naik lebih tinggi.
Kuncinya ada di kemauan politik, reformasi kebijakan, dan kerja sama regional yang bukan sekadar foto bersama di konferensi.

Karena kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton di arena inovasi global, tepuk tangan untuk startup luar negeri, sambil berbisik, “Itu sebenarnya ide saya, cuma belum sempat nulis proposalnya.”

Maka mari mulai menanamkan STEM bukan sekadar di kurikulum, tapi di cara berpikir. Karena, seperti kata pepatah baru yang mungkin diciptakan Gita Wirjawan di warung kopi,

“Bangsa yang tidak berinvestasi pada STEM ibarat membangun masa depan di atas Wi-Fi tetangga — cepat atau lambat, pasti terputus.”

abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.