Ada masa ketika tugas kuliah hanya berarti: baca
buku, tulis makalah, presentasi PowerPoint, dan doa semoga dosen tidak tanya
bagian yang kita nggak ngerti.
Tapi zaman telah berubah. Kini, tugas kuliah bisa berarti: bikin video
edukatif, unggah ke Padlet, kasih feedback, dan
berdoa semoga thumbnail kita cukup menarik untuk diklik teman
sekelas.
Selamat datang di dunia baru pendidikan tinggi — di mana
mahasiswa bukan hanya calon guru, tapi juga calon content creator dengan
idealisme akademik.
๐ Ketika Mind Map Bertemu
Kamera
Dalam penelitian Charlotte Beal dan Magnus Hontvedt (2023),
para calon guru di Norwegia diajak membuat mind map berbasis video —
bukan sekadar coretan panah dan lingkaran di papan tulis, tapi versi cinematic
universe-nya: mind map yang hidup, berbicara, dan kadang tersenyum canggung
di depan kamera.
Tujuannya sederhana tapi ambisius: membuat mahasiswa nggak
cuma tahu konsep, tapi juga ngomongin konsep itu dengan antusias (dan lighting
yang bagus).
Hasilnya? Mahasiswa mulai berdiskusi, berdebat, dan bahkan mengedit video
bersama — karena ternyata, ko-konstruksi pengetahuan itu lebih
seru kalau ada efek transisi dan musik latar.
๐ง Video Sebagai “Objek
Pengetahuan” — dan Sumber Drama
Dalam penelitian ini, video disebut sebagai “knowledge
object”. Tapi mari jujur: di dunia nyata, video itu juga bisa jadi
“knowledge obstacle”, terutama kalau file-nya 300 MB dan Padlet-nya ngadat.
Namun, ketika berhasil diunggah, sesuatu yang ajaib terjadi:
Mahasiswa benar-benar menonton, berdiskusi, dan bahkan saling nge-like ide
teman. Mereka tidak lagi pasif seperti di ruang kuliah tradisional — kini
mereka berdebat apakah “zona perkembangan proksimal” itu teori atau nama band
alternatif.
Menariknya, video bikin mereka lebih kritis terhadap karya
teman sendiri — tapi kurang tertarik pada video YouTube eksternal. Mungkin
karena algoritma sosial akademik bekerja begini:
“Kalau video ini dibuat oleh teman sekelas yang bisa
kujumpai besok pagi di kantin, lebih baik aku tonton. Bisa jadi dia penilaianku
nanti.”
⚙️ Tantangan di Lapangan: Antara
Ide Brilian dan Wi-Fi Lemot
Tentu, inovasi tidak datang tanpa komplikasi.
Beberapa mahasiswa mengaku kewalahan: tugas terlalu kompleks, konsep terlalu
sempit, dan durasi video teman terlalu panjang (apalagi kalau isinya cuma
bacaan teks PowerPoint dengan musik lo-fi).
Selain itu, struktur umpan balik juga bikin bingung. Ada
yang menulis komentar serius seperti “analisis interaksi sosialnya kuat”, ada
juga yang cuma nulis “videonya keren, bro ๐ช”.
Penelitian ini pun mencatat bahwa partisipasi bisa menurun kalau dosen tidak
memberikan dukungan aktif — alias, kalau mahasiswa dibiarkan menjadi
sutradara sekaligus penonton film mereka sendiri.
๐ Pelajaran yang Bisa
Dipetik (Selain Cara Edit Video di CapCut)
Meski begitu, penelitian Beal dan Hontvedt tetap memberikan
sumbangan penting:
bahwa belajar itu bukan hanya tentang isi buku, tapi juga tentang cara
kita ngobrol soal buku itu.
Dan rupanya, kamera bisa jadi teman belajar yang baik — selama tidak membuat
mahasiswa lebih sibuk dengan filter daripada isi materi.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan literasi akademik,
tapi juga literasi digital dan sosial.
Artinya, ketika nanti para mahasiswa ini menjadi guru, mereka tidak hanya tahu
teori Vygotsky, tapi juga tahu cara membuatnya viral di TikTok
Edu.
๐งฉ Kesimpulan: Belajar di
Era “Klik dan Diskusi”
Mind map berbasis video menunjukkan bahwa pembelajaran
modern bisa menjadi ruang kolaborasi yang hidup — campuran antara
seminar, Zoom call, dan YouTube comment section versi
sopan.
Dan seperti yang diingatkan para peneliti, teknologi
hanyalah alat; yang penting tetap interaksi manusiawi. Karena tanpa dialog,
mind map hanya jadi peta pikiran tanpa pikiran.
Jadi, kalau kamu mahasiswa yang sedang mengedit video tugas
sambil berharap Wi-Fi kampus tidak ngambek, ingatlah:
kamu bukan sekadar membuat konten — kamu sedang ikut revolusi akademik.
Sebuah revolusi yang percaya bahwa di balik setiap cut scene dan voice-over,
tersembunyi semangat belajar yang tidak bisa dipetakan oleh algoritma mana pun.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.