Di suatu pagi yang panas di Afrika Barat, Burkina Faso tiba-tiba viral — bukan karena lagu TikTok baru atau tantangan joget massal, tapi karena sesuatu yang jauh lebih serius: emas.
Ya, emas betulan, bukan "emas hati" seperti yang sering diucapkan
gebetan pas Valentine.
Kapten Ibrahim Traorรฉ, sang pemimpin muda yang tampak
seperti gabungan antara Che Guevara dan petani yang baru selesai panen,
memutuskan bahwa emas negaranya tidak boleh lagi dikirim mentah ke luar
negeri hanya untuk kembali dalam bentuk kalung dengan harga 10 kali
lipat.
“Kalau bisa masak nasi sendiri, kenapa harus beli dari restoran yang ambil
beras kita juga?” begitu kira-kira semangatnya.
Maka lahirlah tonggak sejarah baru: 93 kilogram emas
murni hasil rafinasi lokal pertama.
Luar biasa, bukan? Dari limbah pertambangan, mereka mengekstrak emas — seolah
Tuhan berkata, “Lihat, Nak, bahkan sampahmu pun berharga kalau kamu serius
mengolahnya.”
Dan hasilnya?
Dulu Burkina Faso hanya mendapat $180 per ons, sekarang mereka
dapat $1.800 per ons.
Bedanya seperti pedagang cilok yang akhirnya sadar dia bisa buka warung bakso
dan gak perlu jualan di pinggir jalan lagi.
๐จ Dari Emas ke Tomat
Namun Traorรฉ bukan cuma sibuk dengan emas. Ia juga bangun
pabrik tomat, pupuk, sampai bikin reformasi fiskal yang bikin para pejabat
harus rela gajinya dipotong.
Konon, beberapa pejabat sampai terkejut, “Lho, masa pejabat gak bisa kaya?”
Traorรฉ menjawab tenang, “Bisa. Kaya pahala.”
Kebijakan-kebijakan itu membuat Burkina Faso seperti sedang
ikut lomba “Siapa Negara yang Paling Mandiri” melawan IMF dan Bank Dunia.
Dan lucunya, setiap kali mereka menolak bantuan luar negeri, netizen Afrika
langsung bersorak di media sosial, “Inilah kebangkitan Afrika!”
Padahal sinyal internet di beberapa daerah masih naik turun. Tapi semangatnya
stabil — itu yang penting.
๐งจ Antara Prancis, Rusia,
dan ‘Teman Baru’
Namun, di balik euforia kedaulatan ini, muncul dilema
klasik: kalau dulu tergantung pada Prancis, sekarang… jangan-jangan malah
tergantung pada Rusia dan Cina?
Seolah keluar dari satu warung utang, lalu pindah ke warung sebelah yang
menawarkan cicilan lebih ringan tapi bungkusannya tetap sama.
Selain itu, ancaman keamanan, inflasi, dan korupsi masih
mengintai seperti nyamuk di musim hujan. Tapi rakyat tetap berharap: siapa tahu
nanti emasnya bisa mengusir kemiskinan seperti semprotan anti-nyamuk ajaib.
๐ Dari Kutukan ke
Keberkahan
Terlepas dari semuanya, langkah Burkina Faso tetaplah
menginspirasi.
Negara kecil ini telah membuktikan bahwa kedaulatan tidak selalu
dimulai dari senjata, tapi bisa dari dapur peleburan emas.
Kalau dulu Afrika dijuluki “benua kaya tapi miskin,” mungkin
kini saatnya diganti jadi “benua miskin yang sedang belajar jadi kaya dengan
caranya sendiri.”
Dan siapa tahu, kelak anak-anak Burkina akan berkata dengan bangga:
“Kakekku dulu kerja di tambang emas. Tapi bukan buat orang
lain. Buat Burkina Faso.”
Sebuah pernyataan yang lebih berharga dari emas itu sendiri.
✨ Kesimpulan :
Burkina Faso sedang menulis ulang buku ekonomi dunia dengan tinta emas — dan
sedikit aroma tomat.
Mereka mengajarkan kepada dunia bahwa kemandirian bukan tentang
berteriak anti-Barat, tapi tentang berani mengolah apa yang sudah ada di tanah
sendiri.
Kalau kata pepatah Afrika yang baru diimprovisasi:
“Orang yang menggali emas tanpa berpikir, akan tetap miskin.
Tapi orang yang berpikir tanpa menggali, ya nggak dapat apa-apa.”
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.