Kalau ekonomi Indonesia punya simbol, mungkin bentuknya adalah warung kelontong dengan rak miring dan buku utang sobek di pojok. Di sanalah denyut ekonomi rakyat sesungguhnya bernafas — bersama aroma Indomie, sabun batang, dan tabung LPG yang setia menjadi saksi bisu gosip RT.
Namun, akhir-akhir ini, warung itu hidup dalam ketakutan.
Bukan karena hutang, tapi karena tetangga barunya: Indomaret, Alfamart,
dan saudara jauhnya—e-commerce. Bayangkan, di depan rumah Bu Tini ada
Indomaret, di belakang ada Alfamart, dan di HP anaknya ada Shopee. Tinggal
warungnya yang bingung: “Saya jualan ke mana, ya, Tuhan?”
⚖️ Cak Imin dan Misi
Menyelamatkan Warung dari Kepunahan
Di sinilah muncul Cak
Imin, ditemani Deputi Leontinus Alpha Edison (yang namanya terdengar
seperti gabungan ilmuwan dan superhero startup). Mereka dengan lantang
berkata, “Kami tidak mau mematikan ritel besar! Kami hanya ingin
meratakan rantai bisnis!”
Kedengarannya indah — seperti janji diet di awal tahun. Tapi
begitu ditanya caranya, jawabannya sering kabur seperti sinyal Wi-Fi di warung
kopi.
Namun niat mereka jelas: agar warung Bu Tini bisa hidup
damai berdampingan dengan ritel besar. Jadi, bukan lagi persaingan, tapi
kolaborasi. Mungkin nanti Indomaret bisa beli keripik Maicih langsung dari Bu
Tini, atau Alfamart stok sabun dari tetangga sebelah. Siapa tahu.
๐ Ketika Pasar Modern
Masuk ke Kampung
Masalahnya, begitu ritel modern masuk kampung, mereka datang
bukan sekadar dengan rak rapi dan AC dingin. Mereka datang dengan harga
promo, diskon buy 2 get 1, dan kasir yang senyumnya
terlatih dari pelatihan motivasi korporat.
Warung kampung? Kasirnya cuma satu: pemiliknya sendiri.
Senyumnya tulus, tapi sering terganggu kalkulator yang bunyinya klik-klik-klik
salah lagi.
Namun jangan salah — warung punya daya tarik unik. Di sana,
Anda bisa beli rokok, ngutang, curhat, dan dapat motivasi hidup sekaligus. Coba
lakukan itu di minimarket — Anda malah diusir satpam karena terlalu lama di
depan rak permen.
๐ป Dari Warung ke Web:
Tantangan “Go Online” yang Tak Gampang
Sementara itu, e-commerce raksasa sudah punya algoritma
canggih yang tahu kapan kamu lapar, sedih, dan siap belanja impulsif jam dua
pagi.
Pemerintah pun mewajibkan platform memberi ruang bagi produk
lokal. Tapi tentu saja, tidak semua “ruang” itu strategis — sebagian
tersembunyi di halaman ke-27 setelah iklan powerbank.
๐ธ Antara Pajak, Janji,
dan Realita
Memang, ritel besar bayar pajak, sedangkan warung kecil
bayar dengan doa dan keringat. Tapi kalau semua hanya diatur dengan niat
baik, jangan kaget kalau kebijakan “pemerataan” berubah jadi
“pemerata-rata-an”: semua untung sedikit, semua bingung banyak.
Kata pemerintah, kuncinya kolaborasi. Tapi sering kali
kolaborasi itu hanya indah di PowerPoint, belum sampai ke rak warung.
๐พ Singapura Bisa,
Indonesia Harusnya Bisa (Tapi Jangan Kebanyakan Seminar)
Kita bisa belajar dari Singapura, kata pejabat. Tapi jangan
lupa: di sana lahan sempit, jadi Indomaret dan warung harus berdiri di gedung
yang sama. Di Indonesia, lahan luas — yang sempit justru modal,
jaringan, dan niat menindak tegas monopoli.
Kalau mau sukses, ya harus konkret: bukan cuma bikin seminar
bertema “UMKM Naik Kelas”, tapi bantu mereka naik omzet.
๐ Penutup: Ekonomi Rakyat
Butuh Roda, Bukan Retorika
Pada akhirnya, meratakan rantai bisnis bukan soal membagi
porsi keuntungan dengan penggaris moral. Ini tentang memastikan tidak ada yang
tertinggal di pinggir jalan ekonomi — terutama mereka yang tiap pagi masih
ngelap etalase sambil ngitung utang pelanggan.
Jadi kalau pemerintah benar-benar ingin menciptakan ekonomi
yang adil, mungkin langkah pertama bukan membuat peraturan baru, tapi belanja
mingguan di warung sebelah. Karena di situlah ekonomi kerakyatan dimulai —
dengan kembalian Rp500 dan senyum yang tak kena pajak.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.