Banyu bening (27/10/2025) : Kalau di Timur Tengah ada Madinah yang menjadi pusat
peradaban Islam klasik, maka di Indonesia, Gus Dur tampaknya punya impian agar
Ciganjur jadi “Madinah ber-WiFi.”
Bukan Madinah dengan unta dan pasir, tapi dengan sandal jepit, teh celup, dan
mahasiswa nyari sinyal sambil baca kitab kuning digital.
Gagasan membangun Pusat Kajian Islam Asia Tenggara
di Ciganjur bukan proyek “papan nama dan batu pertama” semata. Ini
adalah mimpi Gus Dur yang berisi campuran antara visi kenabian, aroma kopi
hitam, dan tawa lepas yang khas beliau: bahwa Islam tak harus serius terus —
kadang perlu juga ngopi sambil mikir global.
๐ Islam Asia Tenggara:
Versi Santai tapi Bernas
Gus Dur melihat Islam Asia Tenggara itu seperti nasi campur
— semua ada, dan semuanya enak kalau porsinya pas.
Kita punya rempah budaya, adat, dan sejarah yang membuat Islam di sini tidak
bisa diseragamkan seperti baju koko impor.
“Kalau di Arab disuruh jenggotan, di sini disuruh nyangkul,” kira-kira begitu
gaya Gus Dur menjelaskan pluralisme kontekstual.
Baginya, Islam tidak perlu jadi fotokopi dari Timur
Tengah.
Kita cukup jadi diri sendiri — asal jangan lupa wudu sebelum berdebat.
๐ง Ulama Ber-YouTube dan
Filsafat
Visi Gus Dur juga ingin melahirkan ulama moderat
yang berfilsafat tapi tetap bisa main TikTok.
Bukan berarti ulama harus joget, tapi setidaknya tahu bagaimana menyampaikan
ilmu tanpa membuat orang mengantuk.
Ulama model Gus Dur itu bisa membahas Ihya’ Ulumuddin dan
sekaligus paham kenapa anak muda lebih percaya thread Twitter daripada kitab
kuning.
Moderasi intelektual, kata Gus Dur, bukan tentang menengahi
dua pihak yang berantem, tapi tentang menertawakan keduanya — lalu menawarkan
kopi dan dialog.
๐ Solidaritas Lintas
Negara dan Lintas Humor
Bagi Gus Dur, umat Islam Asia Tenggara harus saling bantu,
bukan saling sindir.
Kalau ada konflik di Pattani atau Mindanao, jangan cuma bikin hashtag “#PrayFor”.
Ia ingin ada solidaritas nyata — misalnya, beasiswa, riset bersama, atau
minimal kirim kopi Aceh ke ulama Filipina.
Karena dalam dunia Gus Dur, diplomasi itu dimulai
dari humor.
Bahkan konflik berat bisa cair dengan satu candaan.
Coba bayangkan, meja perundingan ASEAN dibuka dengan Gus Dur berkata,
“Tenang, kita semua ini keturunan Nabi Adam — cuma beda merk.”
๐ Ciganjur: Dari Pondok
ke Think Tank
Nah, impian paling menarik adalah menjadikan Ciganjur
sebagai pusat kajian internasional.
Tapi jangan bayangkan bangunan marmer dengan tulisan Arab bergaya kaligrafi
berkilau.
Gus Dur mungkin lebih suka gedung sederhana, asal WiFi-nya kuat dan ada tempat
duduk untuk ngobrol.
Visinya bukan menara gading, tapi “menara ngopi” —
tempat ulama, pemuda, dan peneliti duduk bersama tanpa takut disalahpahami.
Ada perpustakaan digital berisi manuskrip kuno, jurnal ASEAN, dan mungkin juga
koleksi humor Gus Dur yang belum pernah dipublikasikan.
Bayangkan: seorang peneliti dari Manila datang ke Ciganjur,
membaca naskah abad ke-15 tentang tasawuf Jawa, lalu berkata,
“Ah, pantes Gus Dur ketawa terus — ilmunya dalam, tapi ringan.”
๐ฐ️ Dari Tahun ke Tahun:
Mimpi yang Tak Mati
Setelah Gus Dur wafat, mimpi ini sempat tertidur panjang.
Bukan karena tak ada yang mau melanjutkan, tapi karena banyak yang bingung:
bagaimana melanjutkan warisan orang yang kadang menjawab pertanyaan serius
dengan lelucon filosofis?
Baru belakangan ini, gagasan itu hidup lagi — katanya, 2025
jadi tahun kebangkitan.
Mungkin ini kebetulan atau takdir: tahun di mana dunia makin panas oleh politik
identitas,
justru Ciganjur kembali menawarkan oase: tempat untuk berpikir jernih dan
tertawa sehat.
๐ Penutup: Warisan yang
Tetap Bernapas
Pada akhirnya, warisan terbesar Gus Dur bukan hanya lembaga,
tetapi cara berpikir.
Bahwa Islam tidak harus menegangkan urat leher, tapi bisa menumbuhkan senyum.
Bahwa intelektualitas tak berarti kaku, dan bahwa ketawanya Gus Dur sering kali
lebih dalam dari seribu khutbah.
Kalau kelak pusat kajian itu berdiri, mudah-mudahan ada
ruangan bernama Ruang Tawa Gus Dur —
tempat di mana siapa pun boleh masuk, berdiskusi, dan kalau buntu… ya, tinggal
ketawa dulu.
Sebab dalam filsafat Ciganjur,
kadang tertawa adalah bentuk paling serius dari berpikir.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.