Minggu, 26 Oktober 2025

๐Ÿชถ Gus Dur dan Mimpi Besar Ciganjur: Dari Warung Kopi ke Warisan Peradaban

Banyu bening (27/10/2025) : Kalau di Timur Tengah ada Madinah yang menjadi pusat peradaban Islam klasik, maka di Indonesia, Gus Dur tampaknya punya impian agar Ciganjur jadi “Madinah ber-WiFi.”

Bukan Madinah dengan unta dan pasir, tapi dengan sandal jepit, teh celup, dan mahasiswa nyari sinyal sambil baca kitab kuning digital.

Gagasan membangun Pusat Kajian Islam Asia Tenggara di Ciganjur bukan proyek “papan nama dan batu pertama” semata. Ini adalah mimpi Gus Dur yang berisi campuran antara visi kenabian, aroma kopi hitam, dan tawa lepas yang khas beliau: bahwa Islam tak harus serius terus — kadang perlu juga ngopi sambil mikir global.

๐ŸŒ Islam Asia Tenggara: Versi Santai tapi Bernas

Gus Dur melihat Islam Asia Tenggara itu seperti nasi campur — semua ada, dan semuanya enak kalau porsinya pas.
Kita punya rempah budaya, adat, dan sejarah yang membuat Islam di sini tidak bisa diseragamkan seperti baju koko impor.
“Kalau di Arab disuruh jenggotan, di sini disuruh nyangkul,” kira-kira begitu gaya Gus Dur menjelaskan pluralisme kontekstual.

Baginya, Islam tidak perlu jadi fotokopi dari Timur Tengah.
Kita cukup jadi diri sendiri — asal jangan lupa wudu sebelum berdebat.

๐Ÿง  Ulama Ber-YouTube dan Filsafat

Visi Gus Dur juga ingin melahirkan ulama moderat yang berfilsafat tapi tetap bisa main TikTok.
Bukan berarti ulama harus joget, tapi setidaknya tahu bagaimana menyampaikan ilmu tanpa membuat orang mengantuk.
Ulama model Gus Dur itu bisa membahas Ihya’ Ulumuddin dan sekaligus paham kenapa anak muda lebih percaya thread Twitter daripada kitab kuning.

Moderasi intelektual, kata Gus Dur, bukan tentang menengahi dua pihak yang berantem, tapi tentang menertawakan keduanya — lalu menawarkan kopi dan dialog.

๐ŸŒ Solidaritas Lintas Negara dan Lintas Humor

Bagi Gus Dur, umat Islam Asia Tenggara harus saling bantu, bukan saling sindir.
Kalau ada konflik di Pattani atau Mindanao, jangan cuma bikin hashtag “#PrayFor”.
Ia ingin ada solidaritas nyata — misalnya, beasiswa, riset bersama, atau minimal kirim kopi Aceh ke ulama Filipina.

Karena dalam dunia Gus Dur, diplomasi itu dimulai dari humor.
Bahkan konflik berat bisa cair dengan satu candaan.
Coba bayangkan, meja perundingan ASEAN dibuka dengan Gus Dur berkata,
“Tenang, kita semua ini keturunan Nabi Adam — cuma beda merk.”

๐Ÿ•Œ Ciganjur: Dari Pondok ke Think Tank

Nah, impian paling menarik adalah menjadikan Ciganjur sebagai pusat kajian internasional.
Tapi jangan bayangkan bangunan marmer dengan tulisan Arab bergaya kaligrafi berkilau.
Gus Dur mungkin lebih suka gedung sederhana, asal WiFi-nya kuat dan ada tempat duduk untuk ngobrol.

Visinya bukan menara gading, tapi “menara ngopi” — tempat ulama, pemuda, dan peneliti duduk bersama tanpa takut disalahpahami.
Ada perpustakaan digital berisi manuskrip kuno, jurnal ASEAN, dan mungkin juga koleksi humor Gus Dur yang belum pernah dipublikasikan.

Bayangkan: seorang peneliti dari Manila datang ke Ciganjur, membaca naskah abad ke-15 tentang tasawuf Jawa, lalu berkata,
“Ah, pantes Gus Dur ketawa terus — ilmunya dalam, tapi ringan.”

๐Ÿ•ฐ️ Dari Tahun ke Tahun: Mimpi yang Tak Mati

Setelah Gus Dur wafat, mimpi ini sempat tertidur panjang.
Bukan karena tak ada yang mau melanjutkan, tapi karena banyak yang bingung:
bagaimana melanjutkan warisan orang yang kadang menjawab pertanyaan serius dengan lelucon filosofis?

Baru belakangan ini, gagasan itu hidup lagi — katanya, 2025 jadi tahun kebangkitan.
Mungkin ini kebetulan atau takdir: tahun di mana dunia makin panas oleh politik identitas,
justru Ciganjur kembali menawarkan oase: tempat untuk berpikir jernih dan tertawa sehat.

๐Ÿ“œ Penutup: Warisan yang Tetap Bernapas

Pada akhirnya, warisan terbesar Gus Dur bukan hanya lembaga, tetapi cara berpikir.
Bahwa Islam tidak harus menegangkan urat leher, tapi bisa menumbuhkan senyum.
Bahwa intelektualitas tak berarti kaku, dan bahwa ketawanya Gus Dur sering kali lebih dalam dari seribu khutbah.

Kalau kelak pusat kajian itu berdiri, mudah-mudahan ada ruangan bernama Ruang Tawa Gus Dur —
tempat di mana siapa pun boleh masuk, berdiskusi, dan kalau buntu… ya, tinggal ketawa dulu.

Sebab dalam filsafat Ciganjur,
kadang tertawa adalah bentuk paling serius dari berpikir.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.