Dunia Digital, Dunia Tipu-Tipu
Kemajuan ekonomi digital Asia Tenggara itu seperti kisah
cinta di drama Korea—indah di permukaan, tapi di balik layar ada tangisan,
manipulasi, dan hacker yang menunggu kesempatan.
ASEAN sekarang seperti rumah besar dengan Wi-Fi super kencang, tapi pintunya
lupa dikunci.
Masuklah para sindikat internasional yang menawarkan “kerja bergaji dolar”,
padahal ujung-ujungnya kerja rodi di kamp penipuan daring.
Menurut PBB, sekitar 120.000 orang di Myanmar dan 100.000
orang di Kamboja telah menjadi korban perdagangan manusia digital.
Mereka dipaksa menipu orang lain lewat internet—sebuah karier tragis yang
bahkan HRD setan pun mungkin enggan rekrut.
1. Skala Bencana: Dari Love Scam ke Scam of Love
Kalau dulu korban penipuan online biasanya “ibu-ibu ditipu
cowok ganteng dari Facebook”, sekarang yang jadi korban bisa lulusan S2 dengan
IPK 3,9.
Modusnya pun makin kreatif: mulai dari phishing perbankan, investment
scam, sampai love scam alias “pig butchering”—di mana
korban disayang dulu, lalu dikuras seperti tabungan THR.
Menurut data Kemenlu, kasus WNI korban scam melonjak
dari 15 kasus di 2020 jadi 5.111 kasus di 2024.
Sementara itu, PPATK mencatat uang judi online naik dari Rp57,91
triliun ke Rp327,05 triliun.
Artinya, yang bekerja keras menabung di bank makin sedikit, sementara yang
kerja keras menipu makin kreatif.
2. Akar Masalah: Dari Korupsi sampai Kurang Literasi
Mengapa semua ini bisa terjadi?
Pertama, karena kemampuan hukum siber antarnegara ASEAN timpang seperti Wi-Fi
kampus—Singapura lancar, Kamboja lemot, Myanmar malah no signal.
Kedua, korupsi di aparat penegak hukum membuat kamp penipuan
bisa beroperasi seperti startup unicorn: punya investor gelap, dan
“izin usaha” yang entah dari siapa.
Beberapa pejabat bahkan tampak lebih sibuk membuka “co-working space” untuk
penipu daripada menutupnya.
Ketiga, mekanisme penegakan hukum lintas batas ASEAN masih
seperti grup WhatsApp alumni: banyak janji reuni, tapi tak pernah benar-benar
ketemu.
Perjanjian mutual legal assistance yang sudah dibuat sejak
2004 pun lebih sering jadi bahan arsip daripada tindakan nyata.
3. Dinamika Politik: Ketika ASEAN Bingung antara
Diplomasi dan Drama
Masuklah bab politik. Amerika Serikat tiba-tiba ingin
membahas penipuan daring di KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur.
Katanya demi keamanan digital, tapi entah kenapa mereka juga bawa-bawa isu 5G
dan “pengaruh Tiongkok”.
ASEAN pun seperti anak kos yang ditawari dua paket data berbeda: satu murah
tapi lemot, satu cepat tapi mahal dan penuh iklan.
Sementara itu, mekanisme internal ASEAN—seperti High
Council dan Troika—masih tidur panjang sejak zaman kaset
pita.
Negara-negara anggota sibuk dengan urusan masing-masing: ada yang sibuk
berkonflik, ada yang sibuk konferensi pers, dan ada pula yang sibuk bikin logo
ASEAN Summit yang makin tahun makin abstrak.
4. Indonesia: Dari Korban Menjadi Kapten Digital
Sebagai negara dengan 220 juta pengguna internet, Indonesia
ibarat kapal besar di lautan digital—tapi kadang nahkodanya lupa bawa kompas.
Namun jangan salah, potensi kepemimpinannya besar. Kita sudah membantu
pemulangan korban TPPO dari Myanmar dan Kamboja, tapi kini saatnya naik level:
dari pemadam kebakaran jadi arsitek keamanan digital.
Bayangkan, jika Indonesia memimpin pembentukan:
- ASEAN
Cybercrime Task Force – versi serius dari “grup wasap
antarpolisi”.
- ASEAN
Digital Crime Database – biar penipu tak bisa ganti nama jadi
“Andi Sukses” setiap bulan.
- Cyber
Victim Protection Protocol – supaya korban penipuan tak lagi
diperlakukan seperti tersangka.
Dan, tentu saja, perlu shuttle diplomacy ala
Indonesia: diplomasi bolak-balik yang kadang lebih cepat daripada kurir
ekspedisi.
Kedaulatan Digital atau Kedaulatan Drama?
Krisis penipuan daring dan perdagangan orang bukan sekadar
masalah teknologi, tapi juga masalah moral, hukum, dan, tentu saja, humor gelap
peradaban digital.
ASEAN bisa terus membuat pernyataan bersama penuh jargon seperti “collective
cyber resilience through digital harmony”,
tapi kalau warganya masih kena tipu investasi bodong bernama “CryptoLove88”,
semua itu tinggal jadi puisi diplomatik.
Sudah saatnya Indonesia memimpin bukan hanya
dengan pidato, tapi juga firewall; bukan hanya dengan “nota
diplomatik”, tapi juga notifikasi keamanan.
Karena di era sekarang, kedaulatan sejati bukan diukur dari panjangnya batas
laut atau darat, melainkan dari seberapa aman kita membuka pesan WhatsApp tanpa takut ditipu
“sepupu dari luar negeri” yang katanya baru dapat warisan USD 5 juta.
abah-arul.blogspot.com., Oktober 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.