Minggu, 01 Februari 2026

Klasik Itu Bandel: Buku-Buku Tua yang Menolak Pensiun

Di zaman ketika manusia bisa menonton video “ringkasan Perang Dunia II” sambil antre kopi susu gula aren, muncul pertanyaan yang terdengar agak tidak sopan: ngapain sih masih baca buku klasik yang tebal, bahasanya ribet, dan tokohnya sering meninggal tragis? Bukankah hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus berurusan dengan Hamlet yang galau atau Odysseus yang nyasar pulang?

Namun, refleksi ala Italo Calvino—dengan sikap santai tapi menusuk—justru mengatakan sebaliknya: karya klasik itu bukan fosil intelektual, melainkan makhluk hidup yang bandel, susah mati, dan terus mengganggu ketenangan kita. Mereka menolak pensiun dengan alasan “sudah tidak relevan”. Dan lebih menjengkelkannya lagi: sering kali mereka benar.

Pilar pertama keklasikan sebuah karya adalah sifatnya yang tidak pernah selesai. Buku klasik itu seperti chat lama yang kita buka kembali lalu berpikir, “Lho, kok sekarang rasanya beda, ya?” Saat dibaca waktu muda, kita mengira tokoh utamanya bodoh. Saat dibaca ulang di usia dewasa, kita sadar: oh, ternyata kita yang dulu bodoh. Karya klasik selalu punya komentar baru tentang hidup kita—bahkan ketika kita cuma berniat membaca dua halaman sebelum tidur.

Lalu ada pilar kedua: keabadian. Klasik itu tua, tapi tidak pikun. Ia tidak terjebak pada zamannya sendiri. Shakespeare menulis ratusan tahun lalu, tapi konflik cintanya masih terasa sangat modern: salah paham, ego, drama, dan keputusan impulsif—hanya saja dulu tanpa fitur typing indicator. Karya klasik membuktikan satu hal pahit: teknologi berubah, tapi manusia tetap saja ribet.

Pilar ketiga—dan ini yang paling melelahkan sekaligus berbahaya—adalah peran pembaca. Membaca karya klasik itu tidak pasif. Tidak bisa sambil setengah sadar, apalagi sambil scroll notifikasi. Ia menuntut perhatian penuh, kesabaran, dan kesediaan untuk tidak langsung paham. Dalam budaya yang mengagungkan kecepatan dan kesimpulan instan, membaca klasik adalah tindakan subversif. Ia seperti berkata, “Pelan-pelan sedikit, boleh?”

Maka membaca karya klasik sebenarnya adalah latihan otot intelektual. Ia mengajarkan kita menikmati kerumitan, menghargai ambiguitas, dan menerima kenyataan bahwa hidup jarang punya jawaban satu baris. Ini jelas berlawanan dengan budaya ringkas yang percaya semua persoalan bisa diselesaikan lewat thread tujuh cuitan.

Lebih dalam lagi, dialog dengan karya klasik adalah dialog dengan diri sendiri—versi kita yang dulu, sekarang, dan mungkin nanti. Seperti kata Calvino, buku klasik adalah buku yang tidak membiarkan kita netral. Kita bisa setuju, marah, bosan, atau merasa ditelanjangi secara emosional. Tapi acuh? Hampir tidak mungkin. Karya klasik itu seperti teman lama yang jujur sampai keterlaluan.

Kita tidak membaca Homer, Shakespeare, atau Pramoedya untuk menghafal isi kepala mereka, melainkan untuk melihat isi kepala kita sendiri lewat pantulan mereka. Mereka tidak memberi peta jalan hidup, tapi memberi cermin—dan kadang cermin itu jujur secara brutal.

Pada akhirnya, membaca karya klasik bukan soal menjadi intelektual sok berat atau kolektor buku berdebu. Ia adalah upaya menjaga kedalaman di dunia yang makin dangkal, mempertahankan ketajaman di tengah banjir distraksi. Di era serba cepat, mungkin tindakan paling radikal adalah duduk diam, membuka buku tua, dan membiarkan pikiran bekerja tanpa tergesa-gesa.

Jadi, mari kita buka kembali buku-buku klasik itu. Bukan karena wajib, bukan karena ingin terlihat pintar, tetapi karena—anehnya—mereka masih tahu terlalu banyak tentang kita. Dan itu, jujur saja, agak mengganggu… sekaligus sangat berguna.

 abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.