Di zaman ketika manusia bisa menonton video “ringkasan Perang Dunia II” sambil antre kopi susu gula aren, muncul pertanyaan yang terdengar agak tidak sopan: ngapain sih masih baca buku klasik yang tebal, bahasanya ribet, dan tokohnya sering meninggal tragis? Bukankah hidup sudah cukup melelahkan tanpa harus berurusan dengan Hamlet yang galau atau Odysseus yang nyasar pulang?
Namun, refleksi ala Italo Calvino—dengan sikap santai tapi
menusuk—justru mengatakan sebaliknya: karya klasik itu bukan fosil intelektual,
melainkan makhluk hidup yang bandel, susah mati, dan terus mengganggu
ketenangan kita. Mereka menolak pensiun dengan alasan “sudah tidak relevan”.
Dan lebih menjengkelkannya lagi: sering kali mereka benar.
Pilar pertama keklasikan sebuah karya adalah sifatnya
yang tidak pernah selesai. Buku klasik itu seperti chat lama yang
kita buka kembali lalu berpikir, “Lho, kok sekarang rasanya beda, ya?” Saat
dibaca waktu muda, kita mengira tokoh utamanya bodoh. Saat dibaca ulang di usia
dewasa, kita sadar: oh, ternyata kita yang dulu bodoh. Karya klasik selalu
punya komentar baru tentang hidup kita—bahkan ketika kita cuma berniat membaca
dua halaman sebelum tidur.
Lalu ada pilar kedua: keabadian. Klasik itu tua, tapi tidak
pikun. Ia tidak terjebak pada zamannya sendiri. Shakespeare menulis ratusan
tahun lalu, tapi konflik cintanya masih terasa sangat modern: salah paham, ego,
drama, dan keputusan impulsif—hanya saja dulu tanpa fitur typing
indicator. Karya klasik membuktikan satu hal pahit: teknologi berubah, tapi
manusia tetap saja ribet.
Pilar ketiga—dan ini yang paling melelahkan sekaligus
berbahaya—adalah peran pembaca. Membaca karya klasik itu tidak pasif. Tidak
bisa sambil setengah sadar, apalagi sambil scroll notifikasi.
Ia menuntut perhatian penuh, kesabaran, dan kesediaan untuk tidak langsung
paham. Dalam budaya yang mengagungkan kecepatan dan kesimpulan instan, membaca
klasik adalah tindakan subversif. Ia seperti berkata, “Pelan-pelan sedikit,
boleh?”
Maka membaca karya klasik sebenarnya adalah latihan otot
intelektual. Ia mengajarkan kita menikmati kerumitan, menghargai ambiguitas,
dan menerima kenyataan bahwa hidup jarang punya jawaban satu baris. Ini jelas
berlawanan dengan budaya ringkas yang percaya semua persoalan bisa diselesaikan
lewat thread tujuh cuitan.
Lebih dalam lagi, dialog dengan karya klasik adalah dialog
dengan diri sendiri—versi kita yang dulu, sekarang, dan mungkin nanti. Seperti
kata Calvino, buku klasik adalah buku yang tidak membiarkan kita netral. Kita
bisa setuju, marah, bosan, atau merasa ditelanjangi secara emosional. Tapi
acuh? Hampir tidak mungkin. Karya klasik itu seperti teman lama yang jujur
sampai keterlaluan.
Kita tidak membaca Homer, Shakespeare, atau Pramoedya untuk
menghafal isi kepala mereka, melainkan untuk melihat isi kepala kita sendiri
lewat pantulan mereka. Mereka tidak memberi peta jalan hidup, tapi memberi
cermin—dan kadang cermin itu jujur secara brutal.
Pada akhirnya, membaca karya klasik bukan soal menjadi
intelektual sok berat atau kolektor buku berdebu. Ia adalah upaya menjaga
kedalaman di dunia yang makin dangkal, mempertahankan ketajaman di tengah
banjir distraksi. Di era serba cepat, mungkin tindakan paling radikal adalah
duduk diam, membuka buku tua, dan membiarkan pikiran bekerja tanpa
tergesa-gesa.
Jadi, mari kita buka kembali buku-buku klasik itu. Bukan
karena wajib, bukan karena ingin terlihat pintar, tetapi karena—anehnya—mereka
masih tahu terlalu banyak tentang kita. Dan itu, jujur saja, agak mengganggu…
sekaligus sangat berguna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.