Sabtu, 31 Januari 2026

Membangun Jembatan Sastra: Ketika Klasik Pensiun Dini dan Novel Kekinian Naik Panggung

Di dunia pendidikan, terutama yang sudah lama akrab dengan kitab kuning dan rak buku berdebu yang aromanya seperti campuran kayu tua dan sejarah peradaban, ada satu keyakinan tak tertulis:

“Kalau belum wafat 100 tahun, belum layak disebut sastra bermutu.”

Lalu datanglah sebuah teriakan dari jagat maya:
“Vive la littérature contemporaine!”
Dan para pecinta sastra klasik serentak menoleh sambil mengelus dada, seolah baru saja mendengar ada orang bilang rendang lebih enak pakai saus stroberi.

Padahal, seruan itu bukan upaya kudeta terhadap Shakespeare, Balzac, atau Pramoedya. Ini lebih mirip ajakan:
“Hei, rak bukunya jangan cuma diisi kakek-nenek sastra. Kasih kursi juga buat generasi milenial dan Gen Z literer.”

📖 Dulu Kontemporer, Sekarang Disakralkan

Kita sering lupa bahwa semua karya klasik itu dulunya… ya kontemporer juga.

Bayangkan kalau zaman dulu ada warganet abad ke-14 berkata:

“Ah, Dante ini terlalu kekinian. Divine Comedy belum tentu tahan zaman. Tunggu dulu 500 tahun.”

Atau seseorang menolak membaca Hamlet karena,

“Maaf, saya hanya baca karya yang sudah diverifikasi oleh minimal tiga abad penderitaan manusia.”

Le Nom de la Rose, Mémoires d’Hadrien — sekarang dianggap agung. Tapi dulu? Mereka cuma “novel baru” yang mungkin dibaca sambil ngopi dan mengeluh soal politik zamannya. Sama seperti novel-novel hari ini yang membahas trauma perang, krisis iman, identitas, dan generasi muda yang bingung masa depan—alias: isi kepala manusia modern yang overthinking tapi tetap harus bayar tagihan.

Bedanya cuma satu:
Dulu belum ada Goodreads dan review bintang satu yang isinya,

“Bukunya bagus sih, tapi pengirimannya lama.”

🧠 Kenapa Sastra Kontemporer Itu Penting? Karena Manusia Juga Lagi Kontemporer

Sastra klasik itu seperti kakek bijak yang nasihatnya dalam, tapi kadang kita perlu mikir lima menit dulu buat paham maksudnya.

Sastra kontemporer itu seperti teman sebangku yang curhat,

“Gue capek, dunia aneh, tapi kita jalanin aja ya.”

Novel-novel seperti Leurs Enfants Après Eux atau Le Club des Incorrigibles Optimistes bicara soal anak muda, persahabatan, kegagalan, mimpi yang nabrak realitas. Ini bukan tema remeh. Ini menu harian jiwa remaja—termasuk para santri yang siangnya hafal Alfiyah, malamnya mikir:

“Masa depan ana ini sebenarnya mau ke mana?”

Kedekatan emosional inilah yang bikin sastra kontemporer jadi alat empati, bukan cuma bahan ujian esai.

🕌 Kalau Masuk Pesantren, Apa Nggak “Terlalu Barat”?

Tenang. Novel itu bukan virus yang bikin iman drop tiga persen.

Justru di pesantren, sastra kontemporer bisa jadi bahan dialog yang seru. Misalnya:

  • Le Nom de la Rose → pencarian kebenaran
    Santri: “Oh, ini mirip bahasan thalab al-‘ilm, cuma tokohnya nggak pakai sarung.”
  • Le Rapport Brodeck → trauma dan pengampunan
    Ustaz: “Nah, ini bisa disambungkan dengan konsep al-‘afw.”
    Santri: “Jadi memaafkan itu bukan cuma status WhatsApp ya, Ustaz?”
  • Le Royaume → pergulatan iman di dunia sekuler
    Santri diam… lalu mikir keras… karena ternyata krisis iman itu bukan monopoli filsuf Eropa, tapi juga manusia yang WiFi-nya putus saat mau download PDF kitab.

Sastra jadi jembatan, bukan pengganti kitab. Ia membantu santri melihat bahwa nilai-nilai Islam bisa berdialog dengan realitas modern, bukan cuma disimpan rapi seperti piring hias yang tak boleh dipakai.

🌱 Sastra Bukan Museum, Tapi Taman

Kalau sastra cuma berisi karya lama, ia berubah jadi museum: sunyi, sakral, bikin orang takut salah langkah.

Tapi kalau kita beri ruang pada karya kontemporer, sastra jadi taman. Ada pohon tua yang akarnya kuat, ada tunas baru yang masih lentur, ada bunga aneh yang bentuknya bikin dahi berkerut tapi tetap menarik.

Dan seperti taman pada umumnya, kadang ada juga karya yang… yah… kurang enak dipandang. Tapi justru di situ serunya: pembaca belajar menilai, merasakan, berpikir. Bukan cuma mengangguk hormat karena “ini kan klasik”.

Merayakan yang Hidup

Merayakan sastra kontemporer itu sebenarnya tindakan optimis. Itu berarti kita percaya bahwa:

  • Kegelisahan manusia hari ini penting
  • Cerita generasi sekarang layak didengar
  • Pengalaman zaman ini suatu hari akan jadi sejarah batin umat manusia

Siapa tahu, 100 tahun lagi ada santri masa depan yang membaca novel abad ke-21 lalu berkata:

“Wah, ternyata orang zaman dulu juga galau ya. Bedanya cuma mereka galau pakai metafora, kita pakai meme.”

📚 Penutup yang Nggak Terlalu Serius

Jadi, sastra kontemporer bukan ancaman bagi klasik. Ia cuma generasi baru yang minta tempat duduk.

Klasik itu fondasi.
Kontemporer itu jendela.
Dan pendidikan—termasuk di pesantren—adalah rumah yang butuh keduanya supaya penghuninya tidak cuma paham masa lalu, tapi juga melek denyut zaman.

Sekarang pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah ini sudah klasik?”

Tapi:
“Apakah cerita ini membantu kita lebih paham menjadi manusia?”

Kalau jawabannya iya, ya sudah…
Masukkan ke rak. Jangan tunggu pengarangnya wafat dulu. 😄📖

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.