Di dunia pendidikan, terutama yang sudah lama akrab dengan kitab kuning dan rak buku berdebu yang aromanya seperti campuran kayu tua dan sejarah peradaban, ada satu keyakinan tak tertulis:
“Kalau belum wafat 100 tahun, belum layak disebut sastra bermutu.”
📖 Dulu Kontemporer,
Sekarang Disakralkan
Kita sering lupa bahwa semua karya klasik itu dulunya… ya
kontemporer juga.
Bayangkan kalau zaman dulu ada warganet abad ke-14 berkata:
“Ah, Dante ini terlalu kekinian. Divine Comedy belum
tentu tahan zaman. Tunggu dulu 500 tahun.”
Atau seseorang menolak membaca Hamlet karena,
“Maaf, saya hanya baca karya yang sudah diverifikasi oleh
minimal tiga abad penderitaan manusia.”
Le Nom de la Rose, Mémoires d’Hadrien —
sekarang dianggap agung. Tapi dulu? Mereka cuma “novel baru” yang mungkin
dibaca sambil ngopi dan mengeluh soal politik zamannya. Sama seperti
novel-novel hari ini yang membahas trauma perang, krisis iman, identitas, dan
generasi muda yang bingung masa depan—alias: isi kepala manusia modern yang
overthinking tapi tetap harus bayar tagihan.
“Bukunya bagus sih, tapi pengirimannya lama.”
🧠 Kenapa Sastra
Kontemporer Itu Penting? Karena Manusia Juga Lagi Kontemporer
Sastra klasik itu seperti kakek bijak yang nasihatnya dalam,
tapi kadang kita perlu mikir lima menit dulu buat paham maksudnya.
Sastra kontemporer itu seperti teman sebangku yang curhat,
“Gue capek, dunia aneh, tapi kita jalanin aja ya.”
Novel-novel seperti Leurs Enfants Après Eux atau Le
Club des Incorrigibles Optimistes bicara soal anak muda, persahabatan,
kegagalan, mimpi yang nabrak realitas. Ini bukan tema remeh. Ini menu harian
jiwa remaja—termasuk para santri yang siangnya hafal Alfiyah, malamnya
mikir:
“Masa depan ana ini sebenarnya mau ke mana?”
Kedekatan emosional inilah yang bikin sastra kontemporer jadi alat empati, bukan cuma bahan ujian esai.
🕌 Kalau Masuk Pesantren,
Apa Nggak “Terlalu Barat”?
Tenang. Novel itu bukan virus yang bikin iman drop tiga
persen.
Justru di pesantren, sastra kontemporer bisa jadi bahan
dialog yang seru. Misalnya:
- Le Nom de la Rose → pencarian kebenaranSantri: “Oh, ini mirip bahasan thalab al-‘ilm, cuma tokohnya nggak pakai sarung.”
- Le Rapport Brodeck → trauma dan pengampunanUstaz: “Nah, ini bisa disambungkan dengan konsep al-‘afw.”Santri: “Jadi memaafkan itu bukan cuma status WhatsApp ya, Ustaz?”
- Le Royaume → pergulatan iman di dunia sekulerSantri diam… lalu mikir keras… karena ternyata krisis iman itu bukan monopoli filsuf Eropa, tapi juga manusia yang WiFi-nya putus saat mau download PDF kitab.
Sastra jadi jembatan, bukan pengganti kitab. Ia membantu santri melihat bahwa nilai-nilai Islam bisa berdialog dengan realitas modern, bukan cuma disimpan rapi seperti piring hias yang tak boleh dipakai.
🌱 Sastra Bukan Museum,
Tapi Taman
Kalau sastra cuma berisi karya lama, ia berubah jadi museum:
sunyi, sakral, bikin orang takut salah langkah.
Tapi kalau kita beri ruang pada karya kontemporer, sastra
jadi taman. Ada pohon tua yang akarnya kuat, ada tunas baru yang masih lentur,
ada bunga aneh yang bentuknya bikin dahi berkerut tapi tetap menarik.
Dan seperti taman pada umumnya, kadang ada juga karya yang… yah… kurang enak dipandang. Tapi justru di situ serunya: pembaca belajar menilai, merasakan, berpikir. Bukan cuma mengangguk hormat karena “ini kan klasik”.
✨ Merayakan yang Hidup
Merayakan sastra kontemporer itu sebenarnya tindakan
optimis. Itu berarti kita percaya bahwa:
- Kegelisahan
manusia hari ini penting
- Cerita
generasi sekarang layak didengar
- Pengalaman
zaman ini suatu hari akan jadi sejarah batin umat manusia
Siapa tahu, 100 tahun lagi ada santri masa depan yang
membaca novel abad ke-21 lalu berkata:
“Wah, ternyata orang zaman dulu juga galau ya. Bedanya cuma mereka galau pakai metafora, kita pakai meme.”
📚 Penutup yang Nggak
Terlalu Serius
Jadi, sastra kontemporer bukan ancaman bagi klasik. Ia cuma
generasi baru yang minta tempat duduk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.