Di dunia sastra, ada satu kebiasaan turun-temurun yang aneh: orang suka menganggap masa lalu selalu lebih jenius daripada masa kini. Seolah-olah begitu sebuah buku berumur 100 tahun, tiba-tiba ia mendapat gelar kehormatan: “Karya Agung.” Sementara buku yang terbit minggu lalu? “Ah, paling juga cuma tren TikTok yang tersesat ke rak buku.”
Padahal logikanya sederhana. Semua karya klasik dulu juga pernah jadi “buku baru yang belum tentu bagus.” Bahkan mungkin dulu ada orang yang berkata,
> “Ah si Shakespeare ini lebay deh. Dialognya panjang-panjang, nggak to the point.”
Bayangkan kalau warga London abad ke-17 sudah punya kolom komentar.
---
Klasik Itu Cuma Kontemporer yang Selamat dari Gosip Zaman
Kita sering lupa bahwa “klasik” itu bukan genre. Itu status
pensiun terhormat.
Karya klasik adalah karya kontemporer… yang berhasil tidak punah.
Le Nom de la rose karya Umberto Eco? Dulu itu novel baru,
bukan fosil sastra.
Mémoires d’Hadrien? Pernah juga duduk di meja toko buku dengan label “Terbitan Terbaru”, bukan “Warisan Peradaban”.
Jadi buku-buku hari ini bukanlah “anak bawang sastra.”
Mereka adalah calon klasik yang masih menjalani masa magang di dunia literasi.
Bedanya cuma satu:
➡️ Karya klasik sudah diuji waktu
➡️ Karya kontemporer sedang diuji netizen
Dan jujur saja, netizen jauh lebih ganas daripada waktu.
---
Sastra Kontemporer Itu Seperti Makanan Panas
Sebagian orang hanya mau makan sastra yang sudah “didiamkan
200 tahun.”
Padahal sastra kontemporer itu seperti makanan yang baru matang — masih mengepul, masih relevan, masih terasa pedasnya kehidupan.
Novel-novel hari ini membicarakan:
keresahan generasi,
ketimpangan sosial,
krisis identitas,
bahkan overthinking sebelum tidur.
Coba bandingkan dengan epos kuno:
“Seorang pahlawan membunuh naga.”
Keren, sih. Tapi apakah naganya juga punya trauma masa
kecil? Nah, di novel kontemporer, pasti dibahas.
---
Leurs enfants après eux: Bukan Sekadar Remaja Galau
Ambil contoh Leurs enfants après eux karya Nicolas Mathieu.
Ini bukan cuma cerita anak muda nongkrong dan bingung masa depan. Ini potret sosial tentang daerah industri yang meredup, tentang warisan nasib yang diturunkan seperti resep keluarga—sayangnya resepnya adalah “cara gagal secara turun-temurun.”
Klasik zaman dulu merekam zamannya lewat perang dan
kerajaan.
Sastra kontemporer merekam zaman lewat:
pabrik tutup,
mimpi yang mengecil,
dan remaja yang sadar hidup tak semudah motivator Instagram.
Bedanya cuma setting.
Dramanya sama: manusia vs kenyataan.
---
Masalah Utama: Kita Terlalu Romantis pada Masa Lalu
Ada semacam sindrom:
> “Kalau belum dibaca profesor berdebu di perpustakaan Oxford, berarti belum layak disebut karya besar.”
Padahal nilai sastra tidak hanya lahir dari jarak waktu,
tapi dari kedekatan rasa.
Kalau sebuah novel hari ini membuatmu merasa dipahami, ditampar, lalu dipeluk sekaligus — itu sudah melakukan tugas sastra sejak zaman Plato masih pakai toga.
Waktu bukanlah pencipta kehebatan.
Waktu hanya tukang arsip.
---
Museum vs Kebun
Membaca hanya karya klasik itu seperti mengunjungi museum: terhormat, berwibawa, dan sedikit membuat punggung pegal.
Membaca sastra kontemporer itu seperti masuk kebun:
masih tumbuh, kadang liar, kadang aneh bentuknya, tapi hidup.
Dan sastra, pada dasarnya, memang bukan batu prasasti.
Ia organisme. Ia bernapas. Ia kadang salah ketik. Ia kadang
eksperimental. Ia kadang bikin bingung — seperti hidup itu sendiri.
---
Kesimpulan: Hiduplah Sastra yang Masih Bernapas
Meremehkan sastra kontemporer itu seperti menolak berteman
dengan anak kecil karena dia “belum jadi orang sukses.”
Santai saja. Bisa jadi 50 tahun lagi, tugas sekolah cucu kita membahas novel yang hari ini kamu sebut “ah, biasa aja.”
Kita tidak sedang menyaksikan kemunduran sastra.
Kita sedang hidup di dalam bab yang kelak disebut orang sebagai “masa keemasan yang dulu diremehkan.”
Jadi lain kali ada yang bilang,
> “Sekarang sudah tidak ada karya besar.”
Jawab saja santai:
“Ada. Cuma belum tua.”
Dan mungkin… masih punya paket data. 📚📱
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.