Kamis, 29 Januari 2026

Tawakal dan Ikhtiar: Antara Pasrah Total dan Tetap Nyalakan Alarm Pagi

Ada satu kesalahpahaman legendaris yang sudah turun-temurun di dunia per-spiritual-an:

tawakal = rebahan suci.

Seolah-olah kalau sudah tawakal, tugas manusia tinggal selonjoran sambil berkata,
“Ya Allah, Engkau Maha Tahu… termasuk tahu saya mager.”

Padahal, kalau Ibnu ‘Athaillah punya akun media sosial, mungkin beliau sudah bikin status begini:

“Tawakal itu bukan mode pesawat. Itu mode online terus, tapi servernya Allah.”

Doa yang Jujur (dan Sedikit Curhat)

Munajat Ibnu ‘Athaillah itu sebenarnya bukan doa formal penuh bahasa langit yang bikin kita takut salah tajwid. Itu lebih mirip curhatan hamba yang sadar diri:

“Ya Allah, kok Engkau suruh aku tawakal, tapi aku masih dikasih rasa takut, bingung, dan overthinking level dewa?”

Ini bukan keluhan manja. Ini pengakuan jujur:
“Aku lemah, tapi Engkau nyuruh aku percaya penuh.”

Dan di situlah lucunya hidup spiritual. Kita disuruh bersandar total kepada Allah…
tapi tetap harus bangun pagi, kerja, mikir, dan kadang ikut rapat yang sebenarnya bisa jadi email.

Tawakal Bukan Berhenti Usaha, Tapi Berhenti Sok Jadi Tuhan

Banyak orang mengira tawakal itu artinya:
“Ya sudah, kalau jodoh pasti datang sendiri.”

Datang sih…
tapi mungkin cuma tukang paket.

Dalam logika sufistik, tawakal itu bukan berhenti bergerak.
Tawakal itu berhenti merasa bahwa kita yang menggerakkan segalanya.

Kita tetap ikhtiar.
Tetap kirim lamaran kerja.
Tetap belajar.
Tetap bikin strategi.

Tapi di dalam hati ada pengakuan jujur:
“Yang bikin semua ini berhasil bukan CV-ku, tapi izin-Mu.”

Jadi ikhtiar itu gerak badan.
Tawakal itu posisi hati.

Badan lari maraton.
Hati duduk tenang.

Wilayah Manusia: Ikhtiar. Wilayah Allah: Hasil yang Sering Plot Twist

Allah itu Maha Kreatif dalam memberi solusi.
Kita minta pintu dibuka.
Dia kadang malah bongkar tembok.

Kita berharap A.
Datangnya Z, tapi ternyata justru itu yang menyelamatkan hidup kita dari drama 12 season.

Di sinilah tawakal bekerja sebagai penenang jiwa.
Bukan karena masalah hilang,
tapi karena kita yakin:
“Yang ngatur ini bukan panitia sembarangan.”

Secara psikologis, ini sehat banget. Orang yang tawakal itu tetap mikir, tetap usaha, tapi tidak hancur mental ketika hasil tidak sesuai ekspektasi. Karena dari awal dia sadar:
Dia manajer usaha, bukan direktur takdir.

Ubudiyyah: Sadar Diri Level Maksimal

Dalam munajat itu, manusia diajak sadar satu hal pahit tapi menyelamatkan:
kita ini hamba, bukan tokoh utama film semesta.

Doa bukan alat buat “membujuk” Allah agar mengikuti rencana kita.
Doa itu momen kita mengaku:
“Ya Allah, rencanaku sering aneh. Tolong jangan Engkau kabulkan semuanya.”

Lihat Nabi Ibrahim ketika dibakar. Beliau tidak teriak:
“Ya Allah, api tolong dimatikan ya!”

Beliau pasrah total.
Dan Allah membalas dengan cara paling elegan dalam sejarah perapian:
Api tetap api, tapi lupa caranya panas.

Itulah tawakal level sultan:
bukan mengatur skenario,
tapi percaya penuh pada Sutradara.

Sufi di Dunia Nyata (Iya, Termasuk Dunia Politik dan Deadline)

Nilai sufistik itu bukan cuma cocok di pojok masjid dengan lampu temaram dan backsound rebana.
Ia juga relevan di dunia nyata: dunia kerja, keluarga, bahkan politik yang dramanya kadang mengalahkan sinetron azab.

Orang yang punya tawakal:

  • tetap bikin rencana
  • tetap pasang strategi
  • tetap kerja keras

Tapi hatinya tidak digerogoti panik berlebihan.
Gagal tidak membuatnya merasa kiamat pribadi.
Berhasil tidak membuatnya merasa Tuhan magang.

Allah Itu Lebih Lembut dari yang Kita Kira

Bagian paling mengharukan dari semua ajaran ini adalah satu hal:
kesadaran akan kelemahan kita justru mengundang kasih sayang Allah.

Kita sering merasa,
“Aduh, imanku jelek, doaku berantakan, fokusku bocor ke mana-mana…”

Dan Allah seperti berkata,
“Memang. Makanya kamu butuh Aku.”

Zikir dan doa itu bukan laporan prestasi spiritual.
Itu sinyal lemah tapi tulus dari hamba yang bilang:
“Aku nggak bisa sendiri.”

Dan Allah tidak pernah membalas sinyal itu dengan “nomor yang Anda tuju sedang sibuk”.

Kesimpulan: Hamba yang Aktif, Hati yang Pasrah

Dari semua ini, kita belajar satu gaya hidup sufistik yang elegan:

Ikhtiar maksimal, seolah semua tergantung usaha kita
🕊️ Tawakal total, sadar bahwa sebenarnya semua tergantung Allah

Kita bergerak sepenuh tenaga,
tapi bersandar sepenuh jiwa.

Di tengah masalah, kita bukan cuma sibuk cari solusi,
tapi juga menemukan kembali identitas terdalam:

Kita ini kecil.
Kita ini lemah.
Tapi anehnya…
kita ini selalu dicukupi oleh Tuhan yang kasih sayang-Nya tidak pernah ikut krisis.

Dan mungkin di situlah letak ketenangan sejati:
hidup tidak lagi terasa seperti beban yang harus kita pikul sendiri,
tapi perjalanan yang kita jalani…
sambil terus digandeng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.