Jika ada satu profesi yang tak mengenal masa pensiun, itu adalah teknokrat kelas dunia. Begitu keluar dari gedung kementerian, ia tidak pulang membawa sandal jepit dan tanaman hias, melainkan langsung dijemput pesawat imajiner menuju pentas global. Inilah yang terjadi pada Sri Mulyani Indrawati: baru saja menanggalkan atribut negara, tiba-tiba sudah duduk manis di Dewan Pengawas Bill & Melinda Gates Foundation. Sebuah transisi karier yang bagi rakyat biasa terasa mustahil, tapi bagi Sri Mulyani tampak seperti… rutinitas.
Artikel ini sejatinya tidak sedang memberitakan “orang pindah kerja”. Ini adalah kisah tentang manusia yang terlalu kompeten untuk dibiarkan menganggur. Setelah bertahun-tahun mengelola APBN yang penuh drama—dari defisit sampai debat subsidi—Sri Mulyani kini dihadapkan pada tantangan yang lebih global: mengawasi filantropi dengan dana triliunan rupiah tanpa harus berurusan dengan rapat DPR yang panjangnya melebihi umur baterai ponsel.
Gates Foundation tentu bukan sembarang yayasan. Ia adalah semacam APBN dunia versi ideal: dananya besar, tujuannya mulia, dan kritik publiknya… ya, tetap ada. Di sinilah keahlian Sri Mulyani menjadi sangat relevan. Siapa lagi yang lebih berpengalaman mengelola uang sambil tetap tersenyum di tengah tekanan, kalau bukan mantan Menteri Keuangan yang pernah bertugas di tiga rezim dan satu Bank Dunia?
Namun artikel ini diam-diam juga sedang mengibarkan bendera kebanggaan nasional. Ini bukan sekadar “Sri Mulyani direkrut”, melainkan “Indonesia ikut duduk di meja global, tanpa perlu membawa map tebal atau pidato panjang”. Pengakuan dari Bill Gates dan Mark Suzman menjadi semacam stempel: lulus uji dunia. Soft power yang lembut, tapi terasa—seperti tepukan di pundak sambil berkata, “Negaramu serius.”
Lebih menarik lagi, status Sri Mulyani kini naik kelas: dari pejabat negara menjadi pemikir global paruh waktu, dosen Oxford sambilan, dan penjaga dompet filantropi dunia. Sebuah kombinasi karier yang hanya mungkin terjadi jika CV seseorang lebih panjang dari daftar belanja kementerian.
Soal setting waktu 2026 yang terasa agak futuristik, artikel ini tampaknya sedang berkata jujur: ini bukan ramalan, tapi kepastian yang datang lebih awal. Dengan rekam jejak seperti Sri Mulyani, masa depan memang sering kali hanya formalitas belaka.
Pada akhirnya, kisah ini bukan tentang akhir pengabdian, melainkan metamorfosis pengabdian. Dari mengatur uang negara yang penuh tuntutan politik, menuju mengarahkan dana filantropi global yang penuh tuntutan moral. Dari APBN ke dompet dunia. Dari laporan realisasi anggaran ke misi kemanusiaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.