Ketika Emosi Jadi Tagihan Biologis
Di zaman serba cepat ini, marah sering diperlakukan seperti
notifikasi ponsel: muncul sebentar, bikin kesal, lalu di-swipe dan dilupakan.
Kita mengira, setelah suara meninggi dan alis mengkerut, semuanya kembali
normal. Sayangnya, tubuh kita tidak sepakat. Menurut temuan ilmiah yang dibahas
dalam sebuah cuitan viral, satu menit kemarahan bisa membuat sistem imun kita
ngedrop selama empat hingga lima jam. Ya, satu menit emosi, lima jam tubuh
kerja rodi. Ini bukan peribahasa, ini laporan keuangan biologis.
Begitu kita marah, tubuh langsung panik seperti satpam yang
mendengar alarm palsu. Kortisol dan adrenalin disemprotkan ke seluruh sistem,
jantung dipacu, otot disiagakan, dan tubuh masuk mode “lawan atau lari”—padahal
musuhnya cuma komentar WhatsApp atau pengendara yang motong jalan. Dalam
kondisi darurat versi tubuh ini, sistem imun dianggap bukan prioritas. “Nanti
saja urusan virus,” kata tubuh, “sekarang kita fokus bertahan hidup.”
Akibatnya, pertahanan tubuh melemah berjam-jam, memberi kesempatan emas bagi
bakteri dan virus untuk pesta pora.
Yang lebih ironis, kemarahan yang dipendam—alias marah tapi
pura-pura baik-baik saja—ternyata tidak kalah berbahaya. Tubuh tetap stres,
hormon tetap naik, tapi tanpa pelepasan emosi. Ini seperti menekan klakson dari
dalam mobil tanpa suara: tidak ada yang tahu, tapi mesin tetap panas. Jika pola
ini jadi langganan, jangan kaget bila penyakit degeneratif seperti jantung dan
diabetes ikut mendaftar sebagai penumpang tetap.
Di sinilah metafora “satu menit versus lima jam” bekerja
dengan cerdas. Ia seperti label harga di etalase emosi: Marah: mahal,
efek samping panjang. Otak manusia yang alergi rugi (loss aversion)
langsung mikir dua kali. Tiba-tiba, menahan diri bukan lagi soal etika atau
kedewasaan, tapi soal efisiensi biologis. Mengelola emosi berubah status dari
“anjuran bijak” menjadi “strategi hemat tubuh”.
Untungnya, cerita ini tidak berakhir tragis. Ada kabar baik:
kita masih pegang remote kontrolnya. Pernapasan dalam, meditasi mindfulness,
atau sekadar jalan kaki santai ternyata cukup ampuh untuk menurunkan volume
alarm tubuh. Teknik-teknik ini bukan trik spiritual belaka, melainkan cara
praktis untuk memberi tahu tubuh bahwa dunia belum kiamat, dan sistem imun
boleh kembali bekerja seperti biasa.
Pada akhirnya, pesan besarnya sederhana tapi menggigit:
emosi bukan hanya urusan hati, tapi juga urusan sel darah putih. Dalam dunia
yang penuh pemicu amarah—dari berita hingga notifikasi—kemampuan untuk berhenti
sejenak, menarik napas, dan tidak langsung meledak adalah bentuk kecerdasan
hidup tingkat tinggi. Jadi, lain kali ingin marah, ingatlah: tubuh Anda sedang
menghitung. Dan sering kali, tagihannya terlalu mahal untuk dibayar hanya demi
satu menit pelampiasan.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.