Jumat, 30 Januari 2026

Marah Satu Menit, Tubuh Bayar Lembur Lima Jam

Ketika Emosi Jadi Tagihan Biologis

Di zaman serba cepat ini, marah sering diperlakukan seperti notifikasi ponsel: muncul sebentar, bikin kesal, lalu di-swipe dan dilupakan. Kita mengira, setelah suara meninggi dan alis mengkerut, semuanya kembali normal. Sayangnya, tubuh kita tidak sepakat. Menurut temuan ilmiah yang dibahas dalam sebuah cuitan viral, satu menit kemarahan bisa membuat sistem imun kita ngedrop selama empat hingga lima jam. Ya, satu menit emosi, lima jam tubuh kerja rodi. Ini bukan peribahasa, ini laporan keuangan biologis.

Begitu kita marah, tubuh langsung panik seperti satpam yang mendengar alarm palsu. Kortisol dan adrenalin disemprotkan ke seluruh sistem, jantung dipacu, otot disiagakan, dan tubuh masuk mode “lawan atau lari”—padahal musuhnya cuma komentar WhatsApp atau pengendara yang motong jalan. Dalam kondisi darurat versi tubuh ini, sistem imun dianggap bukan prioritas. “Nanti saja urusan virus,” kata tubuh, “sekarang kita fokus bertahan hidup.” Akibatnya, pertahanan tubuh melemah berjam-jam, memberi kesempatan emas bagi bakteri dan virus untuk pesta pora.

Yang lebih ironis, kemarahan yang dipendam—alias marah tapi pura-pura baik-baik saja—ternyata tidak kalah berbahaya. Tubuh tetap stres, hormon tetap naik, tapi tanpa pelepasan emosi. Ini seperti menekan klakson dari dalam mobil tanpa suara: tidak ada yang tahu, tapi mesin tetap panas. Jika pola ini jadi langganan, jangan kaget bila penyakit degeneratif seperti jantung dan diabetes ikut mendaftar sebagai penumpang tetap.

Di sinilah metafora “satu menit versus lima jam” bekerja dengan cerdas. Ia seperti label harga di etalase emosi: Marah: mahal, efek samping panjang. Otak manusia yang alergi rugi (loss aversion) langsung mikir dua kali. Tiba-tiba, menahan diri bukan lagi soal etika atau kedewasaan, tapi soal efisiensi biologis. Mengelola emosi berubah status dari “anjuran bijak” menjadi “strategi hemat tubuh”.

Untungnya, cerita ini tidak berakhir tragis. Ada kabar baik: kita masih pegang remote kontrolnya. Pernapasan dalam, meditasi mindfulness, atau sekadar jalan kaki santai ternyata cukup ampuh untuk menurunkan volume alarm tubuh. Teknik-teknik ini bukan trik spiritual belaka, melainkan cara praktis untuk memberi tahu tubuh bahwa dunia belum kiamat, dan sistem imun boleh kembali bekerja seperti biasa.

Pada akhirnya, pesan besarnya sederhana tapi menggigit: emosi bukan hanya urusan hati, tapi juga urusan sel darah putih. Dalam dunia yang penuh pemicu amarah—dari berita hingga notifikasi—kemampuan untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan tidak langsung meledak adalah bentuk kecerdasan hidup tingkat tinggi. Jadi, lain kali ingin marah, ingatlah: tubuh Anda sedang menghitung. Dan sering kali, tagihannya terlalu mahal untuk dibayar hanya demi satu menit pelampiasan.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.