Di zaman pertanian modern, ketika petani lebih sering berdoa pada pupuk kimia daripada hujan, ada satu makhluk sederhana yang sejak dulu berdiri tenang di pematang sawah: pohon turi. Ia tidak pernah ikut seminar pertanian, tidak punya akun Instagram, apalagi proposal proyek. Namun anehnya, ia tetap eksis dan berfungsi. Inilah bukti bahwa sebelum ada “smart farming”, leluhur Jawa sudah lebih dulu menjalankan “farming yang pakai otak dan rasa”.
Bagi petani Jawa, turi bukan sekadar pohon. Ia adalah wit urip sawah—penanda bahwa tanah masih bernyawa, air masih setia, dan sawah belum menyerah pada nasib. Lewat titen Jawa, para leluhur membaca alam dengan ketelitian yang membuat algoritma modern minder. Tanah adem? Turi tumbuh. Tanah gersang? Turi ogah hidup. Sederhana, tapi presisi. Tanpa sensor, tanpa baterai, tanpa update firmware.
Para ilmuwan modern baru belakangan sadar: “Oh, ternyata turi itu leguminosa.” Dengan bahasa laboratorium, mereka menjelaskan bahwa akar turi bersahabat dengan bakteri pengikat nitrogen. Dengan bahasa petani, penjelasannya jauh lebih ringkas: “Kalau ada turi, padi seneng.” Daunnya gugur jadi pupuk, batangnya jadi penahan angin, tajuknya jadi tempat rapat serangga—sebuah ekosistem mini yang bekerja tanpa honor proyek.
Di sinilah kejeniusan leluhur terasa agak menyebalkan. Ketika dunia modern sibuk menciptakan pupuk mahal dan pestisida berlabel rumit, orang Jawa tempo dulu cukup menanam pohon dan bersabar. Mereka tidak menyebutnya “agroekologi”, tapi praktiknya sudah sangat agroekologis. Kalau hari ini kita bilang “nature-based solutions”, dulu cukup disebut: “ngono kuwi wis pakem.”
Masuklah kita ke tahun 2026, saat cuaca makin emosional dan iklim sering berubah tanpa izin. Tiba-tiba, dunia kembali melirik apa yang dulu dianggap kuno. Turi yang dulu diremehkan kini terasa futuristik. Bahkan bisa dipasangi sensor IoT, dipantau AI, dan dianalisis grafiknya. Ironisnya, teknologi canggih itu hanya sedang membenarkan apa yang sudah lama diketahui oleh kakek-nenek kita sambil ngopi di gubuk sawah.
Secara budaya, pengakuan bahwa titen adalah ilmu—bukan takhayul—adalah kemenangan kecil melawan kesombongan modern. Ini juga pengingat bahwa gotong royong tidak hanya antar manusia, tapi juga antara manusia dan alam. Bahkan jika mau sedikit religius, menanam turi itu mirip sedekah jariyah versi agraris: sekali tanam, manfaatnya berlapis-lapis, dari padi sampai serangga.
Maka menanam turi bukan sekadar urusan teknis pertanian, melainkan pernyataan sikap. Sikap bahwa kemajuan tidak harus memutus akar, dan kecanggihan tidak selalu lahir dari mesin. Kadang, ia tumbuh diam-diam di pematang sawah, berdaun hijau, dan berbunga putih—tanpa pernah mengklaim diri sebagai inovasi.
Pada akhirnya, pohon turi adalah monumen hidup kecerdasan leluhur: tidak dipahat, tidak diresmikan, tapi terus bekerja. Ia seolah berbisik pada kita, “Kalau mau masa depan yang lestari, jangan lupa menengok masa lalu.” Dan barangkali, sambil tersenyum kecil, ia menambahkan: “Kalian baru mulai paham, kami sudah lama praktek.” πΎπ³
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.