Rabu, 28 Januari 2026

Munas NU 2023, AI, dan Dilema: Boleh Pintar, Tapi Jangan Sok Jadi Kiai

Di zaman ketika orang lebih cepat tanya ke mesin daripada ke mertua, muncul fenomena baru: curhat agama ke kecerdasan buatan.

“ChatGPT, boleh nggak saya galau setiap malam Jumat?”
“Wahai mesin, apakah mantanku jodoh orang lain menurut takdir atau menurut algoritma?”

Melihat gelagat umat yang mulai menjadikan robot tanpa wudhu sebagai tempat bertanya agama, Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2023 pun turun tangan. Dan seperti biasa, NU tidak panik, tidak juga ikut-ikutan tren bikin fatwa model “haram total lalu selesai”. NU memilih jalan tengah: AI tidak boleh jadi rujukan agama, tapi umat Islam wajib ikut bikin AI.

Kedengarannya seperti orang tua yang bilang:

“Kamu jangan kebanyakan main HP… tapi tolong servis Wi-Fi rumah ya.”

Paradoks? Enggak. Itu namanya kedewasaan berpikir.

 

AI Itu Pintar, Tapi Bukan “Ahli”

NU mengingatkan satu hal penting: dalam agama, yang ditanya itu ahlu dzikri — orang yang berilmu. Bukan ahlu wifi.

AI, secanggih apa pun, tetaplah makhluk… eh, maksudnya sistem… yang kerjanya menebak kata berikutnya dengan percaya diri luar biasa. Kadang jawabannya benar, kadang salah, tapi nadanya selalu seperti dosen yang tidak pernah ragu meski lagi ngarang.

Masalahnya, agama bukan tebak-tebakan gaya “siapa mau jadi miliarder”.
Agama itu ada:

  • sanad (rantai keilmuan),
  • tanggung jawab moral,
  • pemahaman konteks,
  • dan yang paling penting: takut salah ngomong soal Tuhan.

AI tidak punya rasa takut itu. Dia tidak pernah kepikiran,
“Waduh, kalau jawabanku keliru, dosanya ke mana ya?”

Yang ada justru:

“Berikut adalah jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, meskipun mungkin saya halu.”

Dalam istilah keren, AI bisa mengalami hallucination. Dalam bahasa pesantren: ngarang tapi pede.

Karena itulah NU bilang: jawaban AI tidak boleh dijadikan pegangan utama dalam agama. Ini bukan anti-teknologi, tapi sadd al-dzari’ah — menutup pintu mudarat sebelum umat tersesat gara-gara ustaz digital yang sanadnya ke server luar negeri.

 

Tapi Kok Umat Disuruh Ikut Bikin AI?

Nah, di sini letak kecerdikan NU.
Kalau cuma melarang, itu gampang. Tinggal bilang “jauhi AI!”, selesai. Tapi realitanya, AI tidak akan hilang. Dia tidak bisa diusir pakai doa qunut.

Jadi NU mengambil langkah strategis:

“Kalau teknologinya tidak bisa dihindari, pastikan umat Islam ikut pegang setir.”

Ini seperti pesan orang tua bijak:

“Jangan cuma jadi penonton bola. Minimal jadi wasit, syukur-syukur punya klub.”

NU membedakan dua jenis AI:

  1. AI Probabilistik (yang suka tafsir-tafsiran sendiri)
    Ini yang berbahaya kalau langsung dijadikan rujukan agama. Karena dia tidak paham maqasid syari’ah, tidak ngerti situasi sosial, dan tidak pernah mondok.
  2. AI Deterministik (yang hitungannya jelas)
    Seperti aplikasi jadwal shalat, arah kiblat, atau kalkulator zakat. Ini boleh dipakai, selama datanya benar. Mesin hitung tidak akan tiba-tiba berfatwa, “Zakatmu gugur karena kamu kurang semangat.”

 

Agama Bukan Sekadar Data, Tapi Tradisi Hidup

Bagi NU, agama itu bukan cuma kumpulan teks yang bisa di-copy paste ke mesin. Agama hidup dalam:

  • adab guru-murid
  • kepekaan sosial
  • kebijaksanaan melihat realitas
  • dan kadang… nada suara ketika menjawab pertanyaan yang sensitif

AI bisa menjelaskan hukum waris.
Tapi AI tidak bisa menenangkan keluarga yang sedang bertengkar soal warisan sambil bilang,
“Sudah, Mas… harta bisa dicari, saudara kandung sulit di-download ulang.”

Di sinilah manusia tetap tak tergantikan.

 

Visi NU: Bukan Menolak, Tapi Mengarahkan

Alih-alih memusuhi teknologi, NU justru membayangkan masa depan di mana ada ekosistem digital Islam yang otoritatif. Bayangkan semacam:

📱 Super-app keislaman
Isinya:

  • konsultasi ke ulama bersanad (bukan berserver saja),
  • panduan ibadah yang akurat,
  • konten keilmuan yang ditulis manusia berilmu, bukan robot yang lagi “feeling confident”.

Teknologi dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti otoritas keilmuan.

 

Kesimpulan: AI Boleh Cerdas, Tapi Jangan Ngaku Kiai

Putusan Munas NU 2023 ini bukan tanda NU ketinggalan zaman. Justru sebaliknya: NU paham betul bahwa masa depan itu digital, tapi iman jangan sampai jadi digital juga — tipis sinyal, hilang koneksi.

Pesannya sederhana:

  • AI itu alat, bukan ulama.
  • Umat Islam jangan cuma jadi pengguna, tapi juga pencipta.
  • Teknologi boleh maju, tapi adab dan sanad jangan pensiun.

Jadi silakan pakai AI untuk bantu nulis, cari referensi, atau merangkum kitab.
Tapi kalau sudah masuk wilayah halal–haram, nikah–cerai, surga–neraka…

Tetap ya,
tanya yang punya wajah, punya guru, dan bisa bilang “Allahu a’lam” tanpa perlu update sistem.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.