Di zaman ketika orang lebih cepat tanya ke mesin daripada ke mertua, muncul fenomena baru: curhat agama ke kecerdasan buatan.
Melihat gelagat umat yang mulai menjadikan robot tanpa
wudhu sebagai tempat bertanya agama, Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama 2023
pun turun tangan. Dan seperti biasa, NU tidak panik, tidak juga ikut-ikutan
tren bikin fatwa model “haram total lalu selesai”. NU memilih jalan tengah: AI
tidak boleh jadi rujukan agama, tapi umat Islam wajib ikut bikin AI.
Kedengarannya seperti orang tua yang bilang:
“Kamu jangan kebanyakan main HP… tapi tolong servis Wi-Fi
rumah ya.”
Paradoks? Enggak. Itu namanya kedewasaan berpikir.
AI Itu Pintar, Tapi Bukan “Ahli”
NU mengingatkan satu hal penting: dalam agama, yang ditanya
itu ahlu dzikri — orang yang berilmu. Bukan ahlu wifi.
AI, secanggih apa pun, tetaplah makhluk… eh, maksudnya
sistem… yang kerjanya menebak kata berikutnya dengan percaya diri luar biasa.
Kadang jawabannya benar, kadang salah, tapi nadanya selalu seperti dosen yang
tidak pernah ragu meski lagi ngarang.
- sanad
(rantai keilmuan),
- tanggung
jawab moral,
- pemahaman
konteks,
- dan
yang paling penting: takut salah ngomong soal Tuhan.
Yang ada justru:
“Berikut adalah jawaban yang terdengar sangat meyakinkan,
meskipun mungkin saya halu.”
Dalam istilah keren, AI bisa mengalami hallucination.
Dalam bahasa pesantren: ngarang tapi pede.
Karena itulah NU bilang: jawaban AI tidak boleh dijadikan
pegangan utama dalam agama. Ini bukan anti-teknologi, tapi sadd
al-dzari’ah — menutup pintu mudarat sebelum umat tersesat gara-gara ustaz
digital yang sanadnya ke server luar negeri.
Tapi Kok Umat Disuruh Ikut Bikin AI?
Jadi NU mengambil langkah strategis:
“Kalau teknologinya tidak bisa dihindari, pastikan umat
Islam ikut pegang setir.”
Ini seperti pesan orang tua bijak:
“Jangan cuma jadi penonton bola. Minimal jadi wasit,
syukur-syukur punya klub.”
NU membedakan dua jenis AI:
- AI Probabilistik (yang suka tafsir-tafsiran sendiri)Ini yang berbahaya kalau langsung dijadikan rujukan agama. Karena dia tidak paham maqasid syari’ah, tidak ngerti situasi sosial, dan tidak pernah mondok.
- AI Deterministik (yang hitungannya jelas)Seperti aplikasi jadwal shalat, arah kiblat, atau kalkulator zakat. Ini boleh dipakai, selama datanya benar. Mesin hitung tidak akan tiba-tiba berfatwa, “Zakatmu gugur karena kamu kurang semangat.”
Agama Bukan Sekadar Data, Tapi Tradisi Hidup
Bagi NU, agama itu bukan cuma kumpulan teks yang bisa di-copy
paste ke mesin. Agama hidup dalam:
- adab
guru-murid
- kepekaan
sosial
- kebijaksanaan
melihat realitas
- dan
kadang… nada suara ketika menjawab pertanyaan yang sensitif
Di sinilah manusia tetap tak tergantikan.
Visi NU: Bukan Menolak, Tapi Mengarahkan
Alih-alih memusuhi teknologi, NU justru membayangkan masa
depan di mana ada ekosistem digital Islam yang otoritatif. Bayangkan
semacam:
- konsultasi
ke ulama bersanad (bukan berserver saja),
- panduan
ibadah yang akurat,
- konten
keilmuan yang ditulis manusia berilmu, bukan robot yang lagi “feeling
confident”.
Teknologi dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti
otoritas keilmuan.
Kesimpulan: AI Boleh Cerdas, Tapi Jangan Ngaku Kiai
Putusan Munas NU 2023 ini bukan tanda NU ketinggalan zaman.
Justru sebaliknya: NU paham betul bahwa masa depan itu digital, tapi iman
jangan sampai jadi digital juga — tipis sinyal, hilang koneksi.
Pesannya sederhana:
- AI
itu alat, bukan ulama.
- Umat
Islam jangan cuma jadi pengguna, tapi juga pencipta.
- Teknologi
boleh maju, tapi adab dan sanad jangan pensiun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.