Dari Invasi ke Invoice
Dahulu kala, imperium dibangun dengan meriam, pasukan berkuda, dan peta dunia yang dicoret-coret spidol merah. Kini, pada 3 Januari 2026, dunia belajar satu pelajaran penting: imperialisme modern tak lagi butuh banyak peluru—cukup tanda tangan Executive Order dan nomor rekening yang aman.
Penangkapan Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat memang terlihat seperti adegan pembuka film aksi kelas B: helikopter, pasukan khusus, dan narasi “demi keamanan global”. Namun, setelah asap meriam hilang, kita sadar bahwa ini bukan film perang, melainkan drama perbankan internasional. Venezuela tak dijajah dengan tank, melainkan dengan spreadsheet.
Resource Capture: Ketika Minyak Tidak Masuk APBN, Tapi Transit di Qatar
Langkah paling jenius—atau paling licik, tergantung sudut pandang—terjadi saat hasil penjualan minyak Venezuela sebesar $500 juta tidak masuk ke kas negara Venezuela, tidak pula ke kas Amerika, melainkan parkir manis di Qatar. Seperti anak kos yang gajinya dititipkan ke teman agar tidak disita mantan pacar bernama “kreditur internasional”.
Alasannya sederhana dan mengharukan: Venezuela punya utang $170 miliar. Jika uang minyak masuk ke rekening resmi, para kreditur akan datang seperti debt collector halal-haram tak peduli. Maka, Amerika Serikat—dengan wajah penuh welas asih geopolitik—membangun “tembok keuangan”.
Inilah resource capture: bukan lagi menguasai sumur minyak, tapi menguasai aliran uangnya. Minyaknya tetap Venezuela, baunya juga, tapi aromanya sudah dolar.
Doktrin Monroe 2.0: Halaman Belakang Harus Rapi
Tiongkok yang tadinya menyerap 80% ekspor minyak Venezuela pelan-pelan didorong keluar. Rusia ikut bersungut-sungut. Amerika Latin mengeluh. Tapi semua itu terdengar seperti protes tetangga ketika pagar rumah sudah terlanjur dibangun.
Ini bukan lagi regime change, tapi upgrade sistem kas negara.
Implikasi Global: Tutorial Baru bagi Negara Adidaya
Imperialisme kini tidak perlu penjajah tinggal di ibu kota. Cukup operator keuangan di luar negeri. Kolonialisme tanpa kolonialis. Penjajahan tanpa lagu kebangsaan.
Tantangan: Minyak Tidak Mengalir dengan PowerPoint
Tentu saja, semua ini tidak semulus presentasi di ruang rapat. Produksi minyak Venezuela sudah jatuh bebas, dari 3,5 juta barel per hari menjadi sekitar 900 ribu. Untuk bangkit lagi butuh $110 miliar dan waktu 5–10 tahun—jauh lebih lama dari masa jabatan presiden.
Belum lagi risiko sabotase politik, resistensi rakyat, dan kemarahan sekutu lama. Mengelola negara bukan sekadar memindahkan dana. Minyak bisa dipindah rekeningnya, tapi kemarahan rakyat tidak bisa di-offshore.
Dunia Baru yang Sunyi tapi Mematikan
Kasus Venezuela 2026 menandai babak baru sejarah global. Perang tidak lagi berisik. Ia sunyi. Tidak ada ledakan besar—hanya bunyi klik saat transfer berhasil.
Kedaulatan kini bukan sekadar bendera dan lagu kebangsaan, tapi siapa yang punya akses ke rekening tempat uang minyak mengalir. Imperialisme baru ini tidak berteriak, tidak berpidato, tapi bekerja rapi di balik jargon hukum dan terminologi finansial.
Dan Venezuela, seperti banyak negara lain, kini menjadi laboratorium hidup dari jawaban yang belum tentu kita sukai.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.