Di sebuah negeri +62 yang kaya raya akan drama, terjadi sebuah peristiwa epik: seorang guru menegur siswa berambut gondrong… lalu berakhir dengan status tersangka. Bukan karena korupsi dana BOS. Bukan karena menjual bangku sekolah di marketplace. Tapi karena… menyuruh potong rambut.
Guru: Profesi Paling Berisiko Setelah Pawang Petir
Dulu, risiko jadi guru itu paling banter:
- Kapur
habis
- Spidol
kering
- Murid
tidur ngiler di meja
Sekarang risikonya naik level:
- Tegur
siswa → dilaporkan
- Marah
dikit → viral
- Suruh
disiplin → masuk BAP
Paradigma Baru: Murid Selalu Benar, Guru Selalu
Berpotensi Tersangka
Hubungan guru dan murid yang dulu seperti:
Sekarang berubah jadi:
Guru bukan lagi pendidik, tapi:
- Konsultan
emosi
- Diplomat
keluarga
- Ahli
hukum darurat
- Dan kadang… tersangka potensial
Restorative Justice vs Justice Rasa Sinetron
Sebagian orang bijak mengusulkan restorative justice:
duduk bareng, musyawarah, saling memahami.
Tapi tidak. Kita lebih suka plot twist.
Guru Jadi Takut, Murid Jadi Bingung
Akibatnya sekarang guru berpikir keras sebelum menegur:
Akhirnya guru memilih jurus paling aman dalam sejarah
pendidikan:
“Silakan, Nak. Rambut mau kayak gitaris metal juga tidak
apa-apa. Ibu cuma guru, bukan bagian hukum internasional.”
Masalah Sebenarnya: Kita Lupa Bedakan Tegas dan Kasar
Kalau semua bentuk ketegasan dianggap kriminal, maka nanti:
- Wasit
sepak bola bisa dipenjara karena meniup peluit terlalu keras
- Orang
tua dilaporkan karena menyuruh anak mandi
- Satpam
diperiksa karena menegur “parkirnya mundur sedikit, Pak”
Negara ini bisa lumpuh… gara-gara terlalu sensitif terhadap niat baik.
Solusi Waras (Yang Kurang Dramatis Tapi Lebih Masuk Akal)
Daripada setiap konflik sekolah berakhir di kantor polisi,
mungkin kita perlu:
- Ruang
mediasi di sekolah, bukan langsung ruang tahanan
- Aparat
yang paham dunia pendidikan, bukan cuma paham pasal
- Orang
tua yang melihat guru sebagai mitra, bukan musuh alami
- Aturan
yang jelas membedakan disiplin dan kekerasan
Kalau Guru Takut, Masa Depan Ikut Gemetar
Bangsa yang gurunya takut menegur akan punya generasi yang:
- Anti
kritik
- Anti
disiplin
- Tapi
pro membuat laporan
Dan di masa depan nanti, mungkin kita akan melihat
pengumuman sekolah seperti ini:
Semoga kita tidak sampai ke tahap itu.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.