Jumat, 30 Januari 2026

Pergeseran Standar Keulamaan: Ketika Ulama Dulu Harus “Matang Pohon”, Sekarang Kadang “Matang Konten”

NU dan Standar “Masuk Surga via Rapat”

Sejak awal berdirinya, Nahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai jam’iyah ulama—perkumpulan orang-orang yang kalau buka kitab, bunyinya bukan cuma “kertas kebalik”, tapi kertasnya ikut paham. Standar keulamaan di NU zaman dulu itu tinggi sekali. Tingginya bukan kayak harga cabai, tapi kayak rak kitab di perpustakaan pesantren: naik tangga dulu baru sampai.

Dalam pidato Gus Yahya, kita diajak merenung bahwa standar keulamaan itu sekarang sedang mengalami pergeseran. Tapi tenang, ini bukan kisah “dulu emas sekarang tembaga”, melainkan cerita tentang bagaimana organisasi yang dulu isinya para kiai sepuh, sekarang juga harus berhadapan dengan dunia yang isinya WiFi, webinar, dan warga yang lebih hafal password daripada hafalan Alfiyah.

Dari Ulama Elit ke Ulama… Elit Plus Admin Grup

Dulu, untuk diakui sebagai ulama di lingkungan NU, seseorang harus melewati proses panjang: ngaji bertahun-tahun, khatam kitab segudang, sanad jelas, akhlak halus, dan kalau ditanya dalil, jawabannya bukan “kayaknya sih…”.

Kisah KH Abdul Muchit Muzadi yang belum langsung diakui sebagai bagian dari “kalangan ulama inti” NU itu seperti cerita anak pesantren yang sudah hafal kitab, tapi tetap disuruh ngopi dulu sama kiai sebelum dianggap “matang”. Intinya: keulamaan itu bukan cuma soal tahu, tapi soal diakui oleh yang tahu.

Sekarang? NU sudah jadi organisasi massa raksasa. Anggotanya jutaan. Dari petani sampai profesor, dari yang hafal Fathul Qarib sampai yang hafal thread Twitter. Maka, wajar kalau struktur organisasi juga diisi oleh orang-orang dengan latar belakang beragam. Ada yang ahli fikih, ada yang ahli manajemen, ada juga yang ahli bikin notulen rapat tapi tulisannya tetap “Assalamu’alaikum wr wb” sepanjang paragraf.

Ini bukan berarti keulamaan hilang. Tapi sekarang, ulama tidak lagi duduk sendirian di kursi empuk, melainkan berdampingan dengan aktivis, akademisi, politisi, dan kadang… motivator. NU berubah dari “klub kiai tingkat dewa” menjadi “ekosistem besar tempat kiai harus siap satu meja dengan PowerPoint”.

Analogi Padi: Dulu Organik, Sekarang Hidroponik Syariah

Gus Yahya mengibaratkan perubahan ini seperti padi. Dulu tumbuh alami, sekarang pakai pupuk kimia. Analogi ini halus tapi dalam. Kalau diterjemahkan ke bahasa warung kopi: dulu ulama tumbuh dari tanah pesantren, sekarang ada yang tumbuh dari tanah pesantren, ada juga yang tumbuh dari tanah seminar.

Dulu, seorang kiai “matang” karena digembleng kitab, tirakat, dan jam tidur yang dikorbankan demi syarah. Sekarang, selain itu, kadang perlu juga matang di depan kamera, mikrofon, dan audiens yang kalau ceramah kurang lucu, langsung cek HP.

Perubahannya tidak terasa, tahu-tahu kita sudah sampai di fase di mana seseorang bisa viral dulu, baru ditanya sanadnya belakangan. Ini tentu bukan ideal. Tapi ini realitas zaman: algoritma lebih cepat dari ijazah.

Ulama Zaman Now: Selain Hafal Kitab, Harus Tahan Komentar Netizen

Dulu tantangan ulama adalah menjawab persoalan fikih masyarakat: zakat, waris, nikah, dan seterusnya. Sekarang tantangannya bertambah: lingkungan, teknologi, keadilan sosial, sampai pertanyaan, “Ustaz, hukum pakai AI buat skripsi itu gimana?”

Ulama NU hari ini dituntut bukan cuma paham kitab kuning, tapi juga paham dunia yang warnanya bukan lagi cuma hitam tinta, tapi biru notifikasi.

Kalau dulu santri diuji dengan “baca kitab tanpa harakat”, sekarang mungkin perlu ujian tambahan: “jelaskan fikih muamalah tanpa memicu flame war di kolom komentar”.

Maka, keulamaan hari ini bukan menurun, tapi melebar. Dulu dalam sekali, sekarang harus dalam dan luas. Masalahnya, memperluas tanpa mengurangi kedalaman itu seperti menambah lauk tanpa mengurangi nasi—perlu piring yang lebih besar. Di sinilah PR besar NU.

Pesantren: Dari Tempat Ngaji ke Inkubator Ulama Multitasking

Langkah RMI PBNU dengan transformasi pesantren itu ibarat upgrade sistem operasi. Pesantren tetap mengajarkan Tafsir Jalalain, tapi santri juga diajak kenal manajemen, teknologi, bahkan dunia kampus.

Ini bukan berarti santri disuruh ganti sarung dengan jas tiap hari. Tapi supaya ketika lulus, mereka bisa berdakwah bukan cuma di mimbar, tapi juga di ruang rapat, kampus, bahkan mungkin… ruang kebijakan.

Pesantren sedang menyiapkan generasi ulama yang kalau ditanya dalil bisa jawab, kalau ditanya data juga bisa buka slide. Ulama yang tidak panik lihat laptop, dan tidak alergi lihat kitab tebal.

NU Itu Padi, Bukan Bonsai

Intinya, pergeseran standar keulamaan di NU bukan tanda kemunduran, tapi tanda organisasi ini hidup. Yang tidak berubah justru yang mati—seperti fosil, utuh tapi tidak tumbuh.

NU itu seperti padi: akarnya tetap di tanah tradisi, tapi batang dan bulirnya mengikuti musim. Tantangannya adalah memastikan pupuk modern tidak menghilangkan rasa asli.

Karena pada akhirnya, kita tidak butuh ulama yang sekadar terkenal, tapi ulama yang tetap berat ilmunya walau ringan senyumnya. Ulama yang bisa duduk di pesantren tanpa canggung, dan duduk di forum internasional tanpa kehilangan arah kiblat.

Kalau dulu syarat jadi ulama mungkin harus hafal berapa jilid kitab, sekarang mungkin ditambah satu lagi: tetap rendah hati meski followers sudah ratusan ribu.

Dan di situlah NU sedang belajar: menjaga agar padi tetap jadi makanan pokok umat, bukan sekadar konten musiman. 🌾

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.