Kamis, 22 Januari 2026

Globalisasi Masuk Angin: Davos 2026 dan Pidato Perpisahan yang Terlambat

Davos 2026 tampak seperti reuni keluarga besar globalisasi: hotel mahal, jaket musim dingin mahal, dan gagasan mahal yang biasanya tidak turun ke rakyat jelata. Namun tahun ini ada yang berbeda. Di tengah panggung megah World Economic Forum—yang selama ini menjadi altar suci kerja sama global—Howard Lutnick berdiri dan berkata dengan nada layaknya dokter menyampaikan hasil rontgen: “Globalisasi telah gagal.” 

Bayangkan suasananya. Para CEO terbatuk kopi organik, para diplomat mendadak sibuk mengecek ponsel, dan para ekonom menatap langit-langit sambil bergumam, “Lho, ini kan rumah kita?” Mengumumkan kematian globalisasi di Davos itu seperti mengumumkan diet di pesta prasmanan—berani, tidak sopan, dan sedikit munafik.

Dari Bretton Woods ke Bretton Woods-an

Untuk adil pada Lutnick, globalisasi memang sudah lama batuk-batuk. Sejak Bretton Woods 1944, dunia sepakat: dolar jadi raja, perdagangan bebas jadi agama, dan IMF–Bank Dunia jadi pendeta. Semua tampak rapi, sampai AS sendiri pada 1971 berkata, “Maaf, emasnya habis, tapi dolarnya tetap ya.”

Globalisasi pun berevolusi: bukan lagi soal kerja sama, melainkan lomba mencari buruh termurah, pajak terendah, dan regulasi paling longgar. Pabrik pindah negara seperti anak kos pindah kontrakan. Sementara itu, pekerja di negara asal diberi penghiburan berupa jargon: “Tenang, ini efisiensi.”

Kini Lutnick datang membawa kesimpulan akhir: globalisasi bukan membangun rumah bersama, melainkan membangun apartemen mewah untuk segelintir orang, dengan fondasi rapuh dan lift sering macet.

Hijau Tapi Impor: Diet Vegan, Dagingnya dari Tetangga

Bagian paling jenaka (dan pahit) dari pidato Lutnick adalah kritiknya pada transisi hijau Eropa. Eropa ingin net-zero, mobil listrik, dan udara bersih—tetapi baterainya impor. Ini seperti seseorang bersumpah hidup sehat sambil bertanya, “Sayurnya bisa kirim dari Tiongkok, kan?”

Faktanya memang ironis. Dunia Barat ingin menyelamatkan bumi, tetapi lupa menyiapkan dapur. Panel surya, baterai, mineral kritis—semuanya datang dari satu negara yang sama. Maka lahirlah paradoks baru: kedaulatan hijau dengan ketergantungan penuh.

Dalam bahasa Lutnick, ini bukan sekadar kebijakan keliru, melainkan kelemahan yang dipersenjatai. Dalam bahasa rakyat: “Niatan baik, tapi dompetnya dipegang orang lain.”

Efisiensi Itu Murah, Ketahanan Itu Mahal

Selama tiga dekade, dunia menyembah efisiensi. Barang murah, produksi cepat, rantai pasok panjang seperti drama sinetron. Sampai pandemi datang dan berkata, “Maaf, kontainer Anda nyasar.” Tiba-tiba masker jadi barang langka, chip semikonduktor lebih berharga dari emas, dan semua negara sadar: terlalu efisien ternyata bikin rapuh.

Maka Lutnick mengusulkan mantra baru: resilience. Tidak harus paling murah, yang penting tidak panik. Tidak harus global, yang penting aman. Ini mirip orang yang berhenti beli mi instan murah dan mulai nanam cabai sendiri—lebih ribet, tapi tidak kelaparan saat warung tutup.

Globalisasi Gagal, Tapi Siapa yang Salah?

Tentu tidak semua setuju. Kanwal Sibal mengingatkan: globalisasi itu bayi Amerika sendiri. AS menikmati puncak piramida—teknologi tinggi dan keuangan—sementara pekerjaan kotor diserahkan ke negara lain. Kalau distribusinya timpang, mungkin masalahnya bukan pada sistemnya, tapi pada siapa yang memegang sendok terbesar.

Di titik ini, perdebatan menjadi filosofis: apakah globalisasi gagal karena salah desain, atau karena terlalu sukses untuk segelintir orang?

Globalisasi Tidak Mati, Ia Pindah Rumah

Pidato Lutnick di Davos bukan sekadar kritik, melainkan adegan simbolik: sang arsitek berdiri di rumah yang ia bangun, lalu berkata, “Bangunan ini tidak layak huni.” Dunia pun bingung—apakah harus merenovasi, pindah rumah, atau sekadar ganti wallpaper.

Mungkin yang paling jujur adalah kesimpulan Janet Truncale: globalisasi tidak mati, hanya menjadi lebih rumit. Ia tidak lagi pesta dansa bebas, melainkan rapat RT penuh kecurigaan.

Globalisasi kini masuk usia senja—tidak seenergik dulu, mudah tersinggung, dan sering nostalgia. Ia belum wafat, tapi jelas tidak lagi muda. Dan Davos 2026 mungkin akan dikenang sebagai momen ketika dunia menyadari: desa global itu ada, tetapi warganya sudah tidak saling percaya pada kunci rumah masing-masing.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.